Yogyakarta, HarianBernas.com – Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY) meyakini wacana kenaikan cukai dan harga rokok akan mengurangi tingkat konsumsi rokok di kalangan perokok pemula, khususnya remaja, Rabu (25/8).
“Wacana ini cukup efektif membuat perokok pemula, kalangan remaja, berpikir dua kali untuk melanjutkan kebiasaan merokok,” kata John Widijantoro, anggota Dewan Pengurus Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY) di Yogyakarta.
Dibanding sejumlah negara maju lainnya, Indonesia mempunyai jumlah perokok pemula yang cukup besar karena harga rokok yang masih sangat terjangkau apalagi dijual per batang. Dengan harga terjangkau, akan menaikkan jumlah remaja yang coba-coba merokok. Tak jarang remaja menyisihkan uang saku untuk beli rokok.
Wacana kenaikan harga rokok seharusnya sudah dimunculkan sejak lama karena di negara lain telah memasang harga rokok yang tinggi. Terserah bagi yang keberatan meninggalkan rokok, tetapi kebijakan itu paling tidak efektif mengurangi konsumsi rokok di kalangan remaja. Penjualan rokok dengan harga yang mahal, juga bertujuan untuk mengadvokasi kesehatan perokok.
Sebelumnya, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) menolak usulan kenaikan harga rokok hingga Rp50 ribu per bungkus karena dapat menganggu stabilitas keamanan bangsa.
“Wacana tersebut meresahkan masyarakat, terutama pelaku pertembakauan,” kata Agus Parmudji, Ketua APTI, di Temanggung.
Jika pemerintah menyetujui usulan kenaikan harga rokok, masyarakat yang sebelumnya menjadi perokok aktif, akan beralih ke barang lain yang efeknya jauh lebih berbahaya daripada rokok.
