HarianBernas.com – Salah satu tugas yang perlu dilakukan guru sebelum melaksanakan pembelajaran adalah mengetahui karakteristik anak didiknya. Mengenali karakteristik anak didik merupakan langkah awal yang sangat penting untuk memudahkan guru melaksanakan pembelajaran. Dengan mengenali karakteristik anak didik, guru dapat merencanakan sekenario pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan demikian proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien. Efektif artinya dapat menjadi tujuan pembelajaran dengan baik, sedangkan efiesien artinya tujuan pembelajaran dicapai dalam waktu yang relatif singkat.
Pembelajaran selama ini banyak bertumpu pada paradigma behaviorisme. Pandangan behavioriesme lebih mengutamakan adanya perubahan perilaku yang tampak terlihat. Pandangan behavioriesme menganggap apa yang diketahui guru harus dimiliki juga persis sama yang dimiliki anak (Arends & Kilcher, 2010). Dengan demikian, ukuran utama siswa belajar menurut pandangan ini adalah adanya perubahan perilaku yang teramati yang terjadi pada anak didik yang diharapkan oleh guru. Anak dianggap mengkopy paste pengetahuan guru. Pandangan ini menjadi sulit untuk mempertimbangkan berbagai aspek penting lainnya dalam pembelajaran seperti emosi, penalaran, pemecahan masalah, dan kemampuan berpikir kritis. Akhirnya, adanya ketergantungan terhadap pandangan behaviorisme menimbulkan keseragaman di ruang kelas yang semestinya tidak diperlukan, karena setiap anak memiliki perbedaan.
Anak memiliki ciri khas yang unik antara yang satu dan yang lainnya. Adanya perbedaan pada diri anak dapat diihat dari perspektif biologi. Tinjauan menurut perspektif ilmu biologi diketahui bahwa setiap orang memiliki otak. Otak merupakan bagian organ yang penting dalam tubuh manusia. Di otak semua informasi diolah. Otak merupakan pusat sumber penerima dan pengolah informasi yang masuk. Di dalam otak ada yang disebut neuron dan sinapsis. Neuron adalah sebuah sel dalam sistem saraf manusia. Neuron berkomunikasi antara yang satu sama yang lainnya dengan cara yang unik. Neuron (sel saraf) adalah unit kerja dasar dari otak, sel khusus yang dirancang untuk mengirimkan informasi ke sel saraf, otot, atau sel kelenjar. Kebanyakan neuron memiliki badan sel, akson, dan dendrit. Badan sel berisi inti dan sitoplasma. Akson meluas dari sel tubuh dan sering menimbulkan banyak cabang yang lebih kecil sebelum berakhir di terminal saraf. Dendrit memperpanjang dari sel tubuh neuron dan menerima pesan dari neuron lain. Sinapsis adalah titik kontak di mana satu neuron berkomunikasi dengan yang lain. Dendrit ditutupi dengan sinapsis yang dibentuk oleh ujung-ujung akson dari neuron lain. Sinapsis adalah struktur yang memungkinkan neuron (atau sel saraf) untuk melewatkan sinyal listrik atau kimia ke sel lain (atau sebaliknya neural).
Otak manusia dapat dibedakan sesuai dengan belahannya, yaitu otak kiri dan otak kanan. Seseorang memiliki kecenderungan untuk lebih menggunakan salah satu belahan otaknya. Otak kiri memiliki ciri-ciri analitis, sistematis, numerik, dan komunikasi yang bagus, sedangkan otak kanan memiliki ciri-ciri seni, kretif, musik, dan spasial yang bagus (Arends & Kilcher, 2010). Tugas guru adalah bagaimana mengoptimalkan kedua belahan otak tersebut melalui pembelajaran yang menarik dan inovatif. Dengan melaksanakan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kedua belahan otak tersebut, maka potensi yang dimiliki anak dapat berkembang lebih optimal.
Implikasi perspektif biologi dalam pembelajaran yaitu (1) Untuk setiap segmen instruksional menggunakan beberapa modalitas dan beberapa jalur sensorik. Perkaya semua pelajaran dengan masukan multiindrawi. (2) Membuat dan mempertahankan lingkungan belajar yang kaya. Hal ini penting untuk menciptakan lingkungan yang kaya sumber daya, baik yang diperoleh oleh guru dan siswa. (3) Mengakui bahwa perkembangan otak mungkin tidak lengkap di beberapa daerah dan untuk beberapa siswa.
Pembelajaran dalam pandangan kognitif menyatakan bahwa siswa belajar sesuai dengan kemampuan kognisi yang ada dalam dirinya. Karakteristik siswa berkaitan dengan kognitifnya dapat mempengaruhi jenis gaya belajar yang dimilikinya. Gaya belajar ini sangat berpengaruh terhadap cara mereka mempelajari sesuatu.
Selain gaya belajar, menurut teori kecerdasan majemuk menyatakan bahwa setiap anak memiliki kecerdasan pada bidang masing-masing. Gardner (1993) menyebutkan bahwa setidaknya ada delapan tipe/jenis kecerdasan: logis-matematis, linguistik, musikal, spasial, kinestetis, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.Seorang guru yang kreatif harus memperhatikan karakteristik-karakteristik anak yang disebutkan di atas.
Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pendidikan berkaitan dengan karakteristik siswa belajar yaitu (1) Perlu adanya evolusi pemikiran berkaitan dengan belajar dan cara mengajar. (2) Perspektif biologis, berdasarkan teori dan penelitian di ilmu saraf, memberikan wawasan baru tentang otak dan fungsinya. Teori ini dan penelitian, meskipun kadang-kadang berlebihan, memiliki implikasi penting untuk kelas praktek di daerah seperti bagaimana otak tumbuh dan menyaring rangsangan dari lingkungan, bagaimana menyimpan pengetahuan dan membuat makna, dan emosi peran penting dan perasaan bermain di pembelajaran kognitif. (3) Penemuan dalam psikologi kognitif memberikan pemahaman penting tentang bagaimana pembelajaran terjadi di dalam kelas. Kami memiliki pemahaman yang cukup kuat tentang bagaimana memori dan sistem pengolahan informasi bekerja untuk mengumpulkan, menafsirkan, toko, dan mempertahankan Informasi. (4) Bersama-sama, perspektif biologis dan kognitif membantu kita memahami pentingnya kecerdasan ganda, gaya belajar, kesiapan dan pengetahuan, dan metakognisi. Perspektif ini menyoroti pentingnya memperhatikan perhatian, mengajar untuk transfer, dan membantu siswa belajar cara belajar.
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa guru wajib mengetahui karakteristik peserta didiknya sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Guru hendaknya dapat memfaslitasi anak didik yang memiliki perBedaan baik secara biologis maupun psikologis.
