JAKARTA, HarianBernas.com – Tim Detasemen Khusus (Densus 88), Anti Teror Polri telah menahan lima dari enam terduga kelompok teroris Kitabah Gonggong Rebus (KGR) pimpinan GRD, di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Senin, 15 Agustus 2016.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Agus Rianto mengatakan penahanan terhadap kelimanya dilakukan setelah tim Densus melakukan serangkaian pengembangan dan penggeledahan pasca ditangkap awal Agustus lalu.
“Mereka (terduga) dibawa ke Jakarta. Sekarang sudah ada di Jakarta dan ditahan di Mako Brimob,” ujar Agus di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (16/8).
Dia membeberkan, kelima terduga pelaku yang kini mendekam dibalik jeruji besi yaitu berinisial GRD, TS, ES, TAR, HGY. Sementara, satu lainnya dengan inisial MT sudah dibebaskan lantaran polisi dalam penyelidikannya tidak menemukan cukup bukti keterlibatan dengan kelompok KGR.
“Jadi (MT) tidak cukup bukti, dia ikut diamankan saat sedang bersama salah satu target. Oleh karena itu bagi siapapun yang bersama target kami ikut bawa, diproses,” terang Agus.
Sebelumnya, Densus 88 Polri menangkap GRD, pentolan kelompok terduga teroris Kitabah Gonggong Rebus (KGR), bersama lima lainnya yakni TS (46), ES (35), TAR (21), HGY (20), dan MTS (19), beberapa waktu lalu di Kepulauan Riau, Batam.
Menurut polisi, GRD dengan kelompoknya berencana akan meneror sejumlah pusat keramaian bersama Bahrun Naim. Salah satu target mereka adalah melakukan pemboman, Marina Bay Singapura.
Bahrun merupakan warga negara Indonesia (WNI) yang bergabung dengan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Bahkan kini ia telah menjadi salah satu tokoh di Suriah.
GRD bersama Bahrun telah merencanakan aksi teror untuk menyerang Singapura dengan roket. “Keduanya pernah merencanakan aksi serangan teror ke Singapura dengan roket,” kata Agus Rianto, Jumat (5/8/2016) lalu.
Selain ke Singapura, mereka juga menyusun taktik penyerangan ke sejumlah titik atau tempat keramaian dan obyek vital di Indonesia. Juga rencana aksi bom bunuh diri, termasuk kantor kepolisian menjadi sasaran target teror.
“Mereka berdua Bahrun dan GRD juga ingin mengembangkan sel teroris jaringan mereka selain di Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara,” tutur Agus.
