Sleman, HarianBernas.com– Kopi lereng Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta memiliki potensi pasar yang menjanjikan sehingga petani semakin bergairah untuk mengembangkan kebun kopi, Rabu (17/8).
“Saat ini, kebun kopi di Gunung Merapi semakin berkembang. Pascaerupsi 2010, luas lahan kini mencapai 300 hektare,” kata Sumijo, Ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) Kebun Makmur, Dusun Petung, Cangkringan, Kabupaten Sleman.
Lahan petani yang ditanami kopi tersebar di semua kecamatan lereng Merapi, misal Kecamatan Cangkringan, Turi dan Pakem. Minat masyarakat mengembangkan kopi semakin bertambah karena harganya semakin bagus dan jaminan pasar.
?Dulu saat panen raya dijual ke pedagang atau tengkulak. Sekarang ditampung di koperasi,” imbuhnya.
Karena semakin banyak hasil panen, koperasi belum sanggup menampung hasil panen milik petani. Kini hanya sebatas memenuhi permintaan pasar dan kebutuhan warung kopi di Tugu Ambruk, Petung, Kepuharjo, Cangkringan. Namun, kini semakin banyak yang membeli. Hotel, kafe-kafe dalam beberapa waktu terakhir ini sudah banyak mengambil kopi dari lereng Merapi.
Kopi lereng Merapi berjenis dua, yaitu Arabika dan Robusta. Untuk Robusta, mulai panen raya. Jenis Arabika sudah panen. Kalau Robusta, saat ini baru panen raya. Dari 300 hektare lahan yang ditanami kopi, 150 hektare yang telah menghasilkan karena sisanya tanaman baru dan saat ini belum berbuah.
Badiman, salah satu petani Kopi dari Desa Umbulharjo, Cangkringan menjelaskan alasannya menanam kopi di lahannya karena wisatawan yang datang cukup banyak yang meminati.
“Rencana baru mulai mau buat warung kopi,” jelasnya.
Kepala Desa Kepuharjo, Heri Suprapto, mengatakan di wilayahnya ada sekitar 150 hektare lahan yang ditanami kopi dan terus bertambah setiap tahun.
