Bantul, HarianBernas.com – Barisan Muda (BM) Partai Amanat Nasional (PAN) menolak rencana pembangunan mal yang diwacanakan Bupati melalui sejumlah spanduk penolakan di Kabupaten Bantul, Yogyakarta,Selasa, (9/8).
“Spanduk yang kami buat dan dipasang sekitar delapan, namun laporan terakhir saya belum tahu di mana saja,” jelas Herry Fahamsyah, Ketua DPD Barisan Muda Partai Amanat Nasional Bantul di Bantul.
Sejumlah spanduk penolakan pembangunan mal dipasang BM PAN Bantul di sejumlah lokasi, yaitu di simpang empat Sudimoro, Sewon, dan Jalan Srandakan Palbapang. Penolakan digaungkan karena pembangunan pusat perbelanjaan modern belum saatnya direalisasikan karena masih ada prioritas lain yang lebih mendesak.
Prioritas lain yang dimaksud, yaitu pembangunan di bidang pertanian, sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), dan pasar tradisional lebih dikuatkan.
“Ketika Bupati mau melakukan perubahan di Bantul dengan program 'Makaryo Mbangun Deso', tidak sesuai realisasi karena justru 'makaryo mbangun mal',” imbuhnya.
Selain itu, rencana pembangunan mal di Bantul belum memiliki kajian yang mendalam dari jajaran Pemkab Bantul. Begitu menjabat tiba-tiba diwacanakan pembangunan mal, ini sangat tidak etis dan tidak elok apalagi baru enam bulan, tambahnya.
Ketua DPD PAN ini menyatakan penolakan rencana pembangunan mal murni muncul dari gerakan pemuda di sayap PAN sendiri dan tidak terkait dengan struktur kelembagaan di DPD PAN Bantul.
“Kita bergerak sendiri dan tidak terpusat di DPD PAN. Kita akan mendorong PAN bersikap. Pemda harusnya melihat prioritas lain, bukan membangun mal,” tegasnya.
Ketua DPD PAN Bantul, Mahmud Ardi Widanto membenarkan adanya spanduk penolakan pembangunan mal di Bantul. Namun, sikap itu bukan sikap resmi partai melainkan dari sayap partai.
“Iya benar BM adalah sayap PAN, tapi itu bukan sikap resmi PAN,” ucapnya ketika disinggung akan menolak atau mendukung pembangunan mal.
Bupati Bantul, Suharsono sebelumnya pernah menjelaskan bahwa rencana pembangunan mal untuk menghidupkan perekonomian Bantul serta meningkatkan kunjungan wisatawan karena di Bantul tidak ada pusat perbelanjaan mall.
“Saya mau menghidupkan perekonomian Bantul. Tidak mungkin membangun mal di tengah-tengah Bantul, tapi di wilayah perbatasan. Kalau warga tidak setuju, tidak akan lanjutkan,” jelasnya.
