Yogyakarta, HarianBernas.com – Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin menyebut toleransi, jangan sekedar dipahami, tapi harus dipraktikkan dan menjadi kebutuhan, Rabu (10/8).
“Toleransi diperlukan dalam negara beragam. Dalam masyarakat majemuk yang kita miliki sekarang,” jelas Menag dalam acara seminar “Memelihara Toleransi dalam Masyarakat Majemuk” di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta.
Tuhan menciptakan manusia secara plural sehingga penting untuk memahami dan mempraktikkan toleransi sebagai kebutuhan, tanpa mencampuri akidah keyakinan, kepercayaan, dan agama tertentu. Tak hanya antaragama, di satu agama muncul banyak perbedaan.
?Untuk itu, toleransi perlu dipraktikkan secara bijak karena kita hidup di masyarakat yang beragam,” jelas Lukman.
Rektor UKDW, Henry Feriadi menyebut UKDW memang selalu bersemangat menumbuhkan toleransi tanpa melihat agama, etnis, dan status. Sejak awal berdiri, UKDW selalu mengedepankan pluralisme.
?Mengembangkan teologia kontekstual, bukan berbasis Eropa, Timur Tengah, ataupun yang lain,” jelas Henry.
Wahyu Nugroho, koordinator seminar menjelaskan bahwa bangsa Indonesia, bangsa yang sangat religius, sekaligus bangsa yang menderita karena kekerasan-kekerasan agama. Oleh karena itu, seminar bertujuan membangkitkan komitmen di antara kalangan beragama di Indonesia untuk setia pada panggilan kenabiannya menjadi penjaga sekaligus pemelihara toleransi dengan mengedepankan kedamaian yang menjadi sifat hakikinya.
Pusat Studi Agama-agama Fakultas Teologi UKDW sebagai penyelenggara seminar ingin menciptakan kesadaran tentang adanya kekuatan politis-sosiologis yang terus-menerus berupaya menghancurkan spirit toleransi masyarakat dengan beragam isu rasial dan politis.
“Pengenalan kekuatan-kekuatan itu menjadi modal kita untuk memutus mata rantai intoleransi,” imbuh Wahyu.
