HarianBernas.com – Menarik saya membaca teks berjalan di salah satu televisi terkemuka Indonesia, yang memberitahukan bahwa Presiden Jokowi akan segera memindahkan lokasi pabrik PT. DI Bandung ke daerah Majalengka, dengan lahan yang akan disiapkan seluas 3000 hektar.
Jika ini memang benar, maka impian negara kita akan mempunyai konsep bandara yang terintergrasi dan modern yang dinamakan Aero Space Park akan segera terwujud. Aero space park merupakan konsep bandara modern komprehensif dimana di area tersebut ada bandara, hotel, rumah sakit, sekolah pilot, rumah komplek pilot-pilotnya, serta hanggar perawatan pesawat.
Apalagi dengan akan dibangunnya industri pesawat terbang PT. DI spesialis manufaktur small aircraft akan juga dipindahkan ke Majalengka. Ide brilian yang patut direalisasikan segera, kalau perlu menggandeng investor lokal. Bisnis dirgantara di Indonesia akan tetap prospektif, karena dukungan 233 bandara kecil sampai besar ada di wilayah NKRI. Jumlah penumpang setiap tahun terus bertumbuh dua digit, tahun lalu 2015 sudah menembuh 65 juta penumpang.
Sedangkan untuk masyarakat DIY jika semua rencana sesuai time frame, Bandara baru untuk DIY akan bisa dinikmati masyarakat DIY tahun 2019/2020 di desa Glagah, Kulon Progo.
Berarti akan ada dua bandara baru yang akan beroperasi tn 2019 di Jawa, satu di Majalengka dengan konsep Aerospace park airport, bandara one stop shopping kira-kira begitu, ada hanggar ada rumah sakit ada sekolah, universitas, dan komplek rumah pilot. Satu lagi yakni bandara Kulon Progo DIY yang akan dilengkapi jalur rel khusus ke Kulon Progo ke Yogyakarta, luar biasa geliat 3 tahun mendatang bisnis penerbangan niaga di Indonesia.
Portofolio dan Kilas balik Industri PT. DI, Industri Penopang Utama Aviasi RI
Kebangkitan industri dirgantara Indonesia mulai kembali menggeliat, baik dari sisi traffic penumpang maupun industri manufaktur pembuatan pesawat narrow body dan small aircraft. Memang harus fokus, sudah jelas order 100 pesawat 19 seat oleh Lion air N-219. Perlu terus diyakini oleh pemerintah dan PT. DI inilah kebangkitan industri manufaktur pesawat Indonesia yang terkenal dengan wilayah remore area dan sangat cocok untuk pengembangan pesawat industri domestik untuk pesawat jenis turbo propeller, narrow body dan small aircraft kelak.
Bulan November ini PT. DI akan melakukan roll out ? dipamerkan bentuk asli yang sudah jadi 100% namun tidak diterbangkan, baru mulai Mei 2016 akan dilakukan penerbangan Perdana, setelah Februari 2016 dirampungkan sertifikasi kelayakan N 219.
Awalnya industri modern pesawat turboprop dengan cockpit modern fly by wire bermula dari pesawat PT IPTN jenis N250 ini. N 250 roll out pertama (pengenalan pertama di hadapan publik) dilakukan pada tahun 1995 di Bandung namun dihentikan semua proses selanjutnya karena rekomendasi dari IMF yang LOI-nya harus memberhentikan produksi IPTN tahun 1997 yang terkenal dengan prahara Michel Camdesus sebagai presiden IMF, dan berantakanlah semua impian Indonesia menjadi negara adidaya manufaktur industri pesawat terbang turboprop 50 seater ke bawah.
Spesifikasinya diantaranya yang perlu kita tahu dari N 250 bikinan PT DI kala itu adalah sebagai berikut :
- Fungsi: angkut penumpang dan kargo (Multi fungsi, dapat dikonfigurasi ulang)
- Kapasitas: 19 Penumpang (konfigurasi tiga sejajar)
- Kinerja lepas landas dan mendarat: jarak pendek/STOL (600 m) Biaya operasional: rendah
- Mesin: 2 x 850 shp
- pesawat N-250 pada awalnya dirancang hanya untuk mengangkut 50-54 penumpang. Melihat potensi pasar, pesawat ini kemudian diperbesar hingga mampu mengangkut 60-70 penumpang, dan diberi nama N-250-100.
- Pesawat N-250 buatan IPTN boleh dikatakan merupakan pesawat komuter pesawat jarak pendek tercanggih di kelasnya. Pesawat yang mampu terbang dengan kecepatan hight subsonic speed (300-330 knot) ini merupakan pesawat komuter pertama di dunia yang memakai sistem fly-by-wire.
- Prototipe pertama N-250 ini kelak dipakai sebagai laboratorium terbang untuk teknologi fly-by-wire. Teknologi pesawat itu akan dimanfaatkan industri pesawat terbang lainnya, yang ingin mempelajari pemakaian teknologi fly-by wire. IPTN akan membuat tiga prototipe N-250 lainnya. Prototipe ke-2 dan ke-3 akan dipakai untuk demonstrasi komersial. Prototipe ke-4 akan dipergunakan bagi kemungkinan pemakaian N-250 untuk pengangkutan personel militer sebanyak dua pleton.
- Lalu dilanjutkan ke tipe yang lebih kecil dan akan dilakukan roll out tahun 2015 pesawat bauatn PT DI N 219 kapasitas 19 penumpang. N-219 adalah pesawat multi fungsi bermesin dua yang dirancang oleh Dirgantara Indonesia dengan tujuan untuk dioperasikan di daerah-daerah terpencil. Pesawat ini terbuat dari logam dan dirancang untuk mengangkut penumpang maupun kargo.
- Pesawat yang dibuat dengan memenuhi persyaratan FAR 23 ini dirancang memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan pintu fleksibel yang memastikan bahwa pesawat ini bisa dipakai untuk mengangkut penumpang dan juga kargo. N 219 sangat cocok di terbangkan mendarat untuk bandara bandara terpencil di Papua dengan landasan pendek 600 meter dengan landasan yang tidak beraspal sekalipun. N219 akan menjawab tantangan isolasi transport di kota kabupaten dataran pegunungan di papua , dan menyelesaikan sebagian kerumitan logistic orang, barang dan ternak rakyat.
Sebelum memasuki serial production, PT DI terlebih dahulu akan membuat dua unit untuk uji terbang serta satu unit purwarupa untuk tes statis pada tahun 2012. Program pembuatan purwarupa sendiri direncanakan memakan waktu selama dua tahun dengan pengalokasian dana yang dibutuhkan sebesar Rp300 miliar.
N-219 akan melakukan uji terbang di laboratorium uji terowongan angin pada bulan Maret 2010. Pesawat N219 baru akan bisa diserahkan kepada pemesan pertamanya untuk diterbangkan sekitar 2014-2015. N-219 ini merupakan pengembangan dari NC-212 yang sudah diproduksi oleh PT DI dibawah lisensi CASA.
Siapa sangka sejak mulai 2001, karena derugulasi iklim berbisnis penerbangan niaga dilonggarkan oleh pemerintah maka sejak tahun 2001 sampai dengan sekarang dan 20 tahun ke depannya, traffic pertumbuhan penumpang yang memakai jasa transport udara meningkat pesat, tiap tahun naik 15 pct, tahun 2015 diharapakn angka penumpang pesawat niaga di Indonesia sudah bisa menembus angka 100 juta.
Keagresifan maskapai swasta nasional dalam belanja pesawat komersil juga mencatat Indonesia sebagai salah satu pembeli armada pesawat komersial yang besar di dunia, contoh saja Lion air membeli 200 an Boeing 737 /900 series dan puluhan Airbus AB 320 dari konsorisum Eropa belum lagi Garuda Indonesia melakukan hal yang sama, membeli 175-an Boeing NG, dan juga puluhan airbus di narrow dan wide body belanja dua maskapai Indonesia tersebut malah sempat menyedot persediaan USD dollar di dalam negeri setahun yang lalu.
Russia pun mulai menikmati penjualannya lewat jet komersial mereka Sukhoi Super jet 100 yang dipakai masakpai Sky Aviation, sejauh ini cukup reliable, bukan tidak mungkin Sukhoi SJ100 akan semakin diminati di masa mendatang. Ada pemain dari asia, Xian aircraft Industri dari Tiongkok dengan pesawat turboprop MA-60, namun sepertinya market Indonesia kurang accepted dengan MA 60 ini.
Bukan main pasar domestic bisnis penerbangan Niaga di Indonesia, seakan magnetic kuat yang menyedot pabrikan pesawat manca Negara sebut saja yang sudah lama bermain : Boeing dan Airbus, masih ada pendatang baru Embraer, Sukhoi, ada juga dari pabrikan Canada dengan Bombardier CRJ 1000 mulai masuk pasar Indonesia via Garuda Indonesia,ada yang lain ATR, Grand Caravan, Twin Otte, dan lainnya.
Langkah pembelian pesawat ternyata tidak hanya terjadi di klas Wide body dan narrow body-full engine, untuk pesawat jenis turbopropeller narrow body dan small aircraft juga marak, seperti penjualan pesawat turboprop dari pabrikan ATR, penjualan pesawat turboprop dari pabrikan Perancis Spanyol ini semakain marak diminati oleh maskapai Wings air dan Garuda Indonesia, sedang maskapai yang melayani remote area di wilayah Papua, maskapai Susi Air berjaya dengan armada small aircraft Grand Caravan seater 8, 12, buatan USA.
Itu semua adalah kesusesan sekaligus senyum getir sebenarnya buat industry dirgantara di Indonesia, karena sejak tahun 1975 dengan didikannya pabrik pesawat IPNT (PT. Nurtanio) kala itu, bila industri pesawat kita tetap berlangsung sampai dengan saat ini maka kita akan bisa membuat sendiri beberapa model pesawat seperti Klas ATR sampai dengan klas small aircraft dengan ribuan juta us dollar akan tetap mengalir ke bumi pertiwi kita sebagai bagian dari pembelian pesawat dari industry dalam negeri.
Sekedar illustrasi saja, kala Lion air membeli pesawat ratusan dari USA Boeing 3 thn yg lalu, maka pesanan 179 Lion B 737/900 ternyata telah member pekerjaan baru kepada 100.000 warga Negara USA dalam pemesanan pesawat-2 baru tersebut, juga pesanan puluhan Airbus 320 baru Lion air di Perancis juga memberikan lapangan kerja untuk 5000 staff baru dengan masa kontrak kerja 10 tahun, bukan main, sementara PT DI beberapa tahun yang lalu malah memecat ribuan karyawannya, sebuah ironi dimana sebenarnya kita bangsa yang mampu membuat industri pesawat terbang sendiri.
Namun angin segar mulai nampak pada industry pesawat terbang kita, pemmerintah mulai mau memberikan dana suntikan 400 milyar untuk meneruskan proyek pembuatan pesawat N219 Walau angka uang dana suntikan 400 milyar untuk membangun industri pesawat sebenarnya masih kalah jauh dengan dana bantuan pembuatan kapal selam 2T, namun yang patut disyukuri adalah political will dari pemerintah sekarang masih mau menghidupkan idustri dirgantara kita.
Namun saya masih resah dengan akan bergantinya pemerintah pada bulan oktober 2014 ini, apakah masa depan N219 masih dilanjutkan? Sebuah quo vadis yang masih dijawab, karena Indonesia sampai saat ini belum mempunya cetak biru yang sustainable dalam rangka pembangunan industri manufaktur pesawat terbang, sifatnya semua yang berkaitan dengan industri pesawat terbang di Indonesia hanyalah responsive dan ad hoc semata, sungguh ironis.
Kalau melihat pasar jual pesawat turboprop samapai dengan jenis small aircraft di Indonesia, pangsa pasarnya sungguh masih amat luas. Kita punya 237 bandara dan 181 bandaranya yang masih aktif sampai saat ini, mayoritas runway-nya pendek dibawah 1000 meter, di sinilah sesungguhnya pangsa pasar jenis N219. Belum lagi bila kita juga membuat pesawat small aircraft seater 6, 8, 12 maka ada total ratusan bandara di kabupaten kabupaten yang bisa kita layani dengan pesawat bikinan dalam negeri.
Bukti sudah menunjukkan produksi IPTN dulu dengan CN-212 seater 12 sudah mendapatkan sertifikasi dari FAA, jadi industri kita memang mampu membuatnya. Taruhlah kita tidak usah dulu membuat seater 50 ke atas, kita buat yang N219 dan pesawat latih, juga sebuah ide yang bagus sara rasa. Banyaknya sekolah sekolah pilot tumbuh di Indonesia, maka sebenarnya peluang bagi PT. DI membuat pesawat latif sepeti jenis Pilatus, Italia, G120tp Grob Jerman dan Emb Super Tucano Brasil, adalah sebuah peluang bagi PT. DI untuk menggantikan posisi dari produksinya bagi kepentingan industri di sekolah pilot, keperluan pesawat latih TNI, kapal patrol pantai, kapal patrolbea cukai, pesawat patroli Kepolisian serta pesawat penyemprot hama di kebun kelapa sawit yang berkembang pesat di tanah air.
Bukan main kan peluang pasar untuk pesawat yang small aircraft dan pesawat latih, kenapa pasar domestic ada di depan mata, sebuah captive market sebenarnya namun kita masih saja belanja pesawat walaupun untuk jenis small aircraft dan pesawat latih? Hal ini harus mulai kita hentikan, lanjutkan industri pembuatan pesawat dalam negeri, kekuatan dirgantara kita sungguh besar.
Beberapa negara Asia mulai membuat industri pesawatnya sendiri walau versi pesawat tempur, India dengan pesawat tempur Brahma, Sukhoi versi India, Korea selatan dengan pesawat tempur jenis T41 yang dibeli TNI AU. Saatnya giliran kita harus jago dan memulai membuat pesawat turbopropeller dan small aircfrat.
Beberapa maskapai dalam negeri sudah berkomitmen untuk memesan ratusan pesawat N -219 adalah namskapai LCC, NAM Air, maskapai LCC dari Sriwjaya air, demikian juga Wings Air. LCC Lion air juga telah memesan N 219 untuk pengembangan rute-rute mereka ke kota kota kabupaten di remote area. Dengan harga yang relatif lebih murah di kelasnya seperti produksi Dornier Jerman, dan De Havilland Canada.
Saya optimis N 219 mempunya pasar yang kuat untuk diserap di industri maskapai lokal sendiri. Saatnya kini kita jaga obor semangat dirgantara Indonesia akan tetap tumbuh di masa mendatang. Apalagi pasar Asean semakin terbuka dengan adanya era Masyarakat Ekonomi Asean Desember 2015, pasar pesawat-pesawat kecil produksi Indonesia sangat prospektiv dijual ke Filipina, Thailand, Kamboja ,Vietnam, dan Myanmar yang mempunyai banyak kota pariwisata di negara mereka ? dimana pesawat turbo prop Indonesia bisa menjangkau masuk ke kota-kota yang kecil baik di Indonesia maupun ke beberapa Negara ASEAN tersebut.
Semoga terwujud industri dirgantara yang handal di RI yang sudah didepan mata kita.
Arista Atmadjati, SE. MM
Dosen dan Wadir Akpar Buana Wisata Yogyakarta Jl. Magelang Km. 8 Yogyakarta | Pakar Bisnis Penerbangan dan Pariwisata
