Gunung Kidul, HarianBernas.com — Masyarakat Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, mulai meninggalkan air telaga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memilih menggunakan air dari tangki, Minggu (18/9).
Dwi Warna Widi Nugraha, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), Gunung Kidul, menyebut air telaga kini hanya dimanfaatkan untuk memandikan dan minum ternak.
Biasanya, penduduk memanfaatkan air telaga untuk mandi, mencuci, dan mencukupi kebutuhan rumah tangga lain. Namun, penduduk kini memanfatkan air tangki meski harus membayar atau menunggu distribusi dari pemerintah.
“Masyarakat sekarang memahami pentingnya kualitas air bersih. Meski di wilayahnya air telaga masih melimpah, tetap minta bantuan air,” terang Dwi Warna.
Harapannya, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, kualitas kesehatan masyarakat pun ikut meningkat. Sekarang, masyarakat jarang memanfaatkan telaga untuk kebutuhan sehari-hari.
Menurut Dwi Warna Widi, dari besaran dana sekitar Rp650 juta untuk membantu krisis air masyarakat, saat ini, baru terserap sekitar Rp50 juta. Sehari, rata-rata dikirim sebanyak 30 tangki. Daerah rawan krisis air yang memohon pengiriman kebutuhan berasal dari Kecamatan Girisubo, Tepus, Ngawen, Rongkop, dan Kecamatan Panggang.
Camat Rongkop, Azis Budiarto mengkonfirmasi bahwa kondisi telaganya masih isi, tapi penduduk tetap minta distribusi air. Pihak pemerintah kecamatan setiap hari mendistribusi sebanyak lima tanki, tapi masih belum mencukupi dan menjangkau banyak warga.
Dua desa yang mengalami krisis air di wilayahnya, yaitu Desa Bohol dan Melikan. Setiap tahun, dua desa itu mengalami krisis air bersih karena tidak bisa mengakses air dari PDAM ataupun Spamdes.
