Gunung Kidul, HarianBernas.com –– Pemerintah Kabupaten (pemkab) Gunung Kidul, Yogyakarta, menyebut “Satgas Berani Hidup” untuk meminimalisir angka bunuh diri, Senin (12/9).
Berkaitan dengan pencanangan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia dari IASP (International Association for Suicide Prevention) dan WHO (World Health Organization) di Stockholm pada tanggal 10 September 2003, Wakil Bupati Gunung Kidul Immawan Wahyudi meluncurkan Satgas Berani Hidup, yaitu satuan tugas yang bertugas menanggulangi bunuh diri.
“Bertepatan dengan tanggal tersebut Pemerintah Gunung Kidul membentuk 'Satgas Berani Hidup',” jelas Immawan.
'Satgas Berani Hidup? bertugas untuk merespons realita sosial bahwa angka bunuh diri di Gunung Kidul relatif tingginya. Satgas ini terdiri atas wakil-wakil dari lembaga kedinasan (pemerintah) dan unsur masyarakat, baik kelembagaan maupun individual.
Satgas Berani Hidup akan menyusun program terstruktur, terorganisasi, dan terintegrasi untuk menyelesaikan problematika sosial penyebab bunuh diri di Gunung Kidul.
Satgas Berani Hidup akan membuktikan bahwa masyarakat Gunung Kidul pada dasarnya, memiliki etos kerja yang tinggi, guyub rukun, dan mempunyai tanggung jawab sosial yang luar biasa. Kasus bunuh diri menjadi gambaran antagonis dari karakter masyarakat Gunungkidul secara umum.
?Realita ini harus disikapi dengan bijaksana,”terangnya.
Untuk itu, penanggulangan kasus bunuh diri harus terus dilakukan bila dimungkinkan bisa meniadakan kasus bunuh diri,” katanya. Harapannya, dengan ?Satgas Berani Hidup?, pemerintah bersama masyarakat mampu mengubah cara pandang, perilaku, dan pemikiran negatif menjadi lebih berpikir positif, optimistis, dan bersyukur dalam suka maupun duka.
Berdasarkan data Polres Gunung Kidul tercatat 174 kasus bunuh diri dari tahun 2009 s.d. 2015. Rata-rata, terdapat 25 kejadian bunuh diri per tahun. Dari data tersebut, tren kasus bunuh diri di Kabupaten Gunung Kidul dari tahun ke tahun meningkat.
?Diperkirakan data yang tercatat merupakan fenomena puncak gunung es,”imbuhnya.
