Yogyakarta, HarianBernas.com — Kota Yogyakarta mulai mengendalikan penyakit demam berdarah dengue (DBD) dengan memanfaatkan bakteri wolbachia yang dimasukan ke dalam nyamuk aedes aegypti setelah melakukan pengujian di Kabupaten Sleman dan Bantul, Rabu (31/8).
“Setelah pengujian dengan metode wolbachia di Sleman dan Bantul menunjukkan hasil, kami berharap hasil yang baik di Kota Yogyakarta. Metode ini menjadi pelengkap untuk mencegah dan menanggulangi penularan demam berdarah dengue (DBD),? jelas Adi Utarini, Peneliti Utama Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta di sela peluncuran metode wolbachia di Yogyakarta.
Kota Yogyakarta memilih metode menggunakan telur nyamuk yang sudah mengandung wolbachia sehingga tidak melepaskan nyamuk yang sudah mengandung bakteri wolbachia ke lingkungan. Telur nyamuk diletakkan di ember berisi air dan harus “diasuh” masyarakat agar tumbuh menjadi nyamuk dewasa, lalu dilepaskan ke lingkungan.
Harapannya, nyamuk dewasa yang mengandung bakteri wolbachia dapat kawin dengan nyamuk di lingkungan itu, lalu menghasilkan keturunan nyamuk yang mengandung wolbachia sehingga menghambat penularan DBD.
Rencananya, EDP akan menyebar sekitar 6.000 ember dengan setiap embernya berisi 100 telur nyamuk wolbachia di tujuh kelurahan secara bertahap. Setelah 60 persen populasi nyamuk mengandung wolbachia, akan segera dilakukan penelitian.
EDP Yogyakarta bersama Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta akan melakukan pengujian pengendalian DBD dengan metode wolbachia di tujuh kelurahan, yaitu Kricak, Karangwaru, Bener, Tegalrejo, Wirobrajan, Pakuncen, dan Patangpuluhan.
Pengujian pengendalian DBD dengan metode wolbachia yang diterapkan di Kota Yogyakarta berbeda dengan metode yang diterapkan di Kabupaten Sleman namun hampir sama dengan metode yang diterapkan di Kabupaten Bantul.
Berdasarkan hasil evaluasi pengujian Metode Wolbachia di Sleman dan Bantul, dengan populasi nyamuk yang mengandung wolbachia semakin banyak maka tidak ada penularan lokal DBD di lingkungan yang memiliki nyamuk wolbachia.
Sementara itu, Vita Yulia, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menyambut baik pengujian pengendalian DBD di tujuh kelurahan karena kasus DBD di Kota Yogyakarta cukup tinggi. Berpijak dari data, jumlah kasus DBD hingga Agustus mencapai 1.102 kasus dengan tujuh kematian.
“Tiga di antaranya masih diaudit, apakah benar disebabkan oleh DBD,” katanya.
