HarianBernas.com ? Borobudur Writers & Culutural Festival (BWCF) ialah festival tahunan yang diadakan oleh Samana Foundation. Festival ini merupakan wahana bertemunya para penulis dan juga pekerja kreatif serta aktivis budaya yang membuat sebuah kerangka dialog lintas batas serta pemahaman intercultural dengan dengan basis pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khazanah.
Oleh karena itu, para creator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam berbagai budaya itu sehingga bisa dapat mendayagunakan semua khazanah yang dengan kebutuhan saat ini.
Baca juga Segera Digelar, Bernas Writing Academy
Pastinya festival ini merupakan sarana pertemuan antarkomunitas, antarkelompok dan juga menjadi ruang dialog secara aktif diantara berbagai karya budaya kepada masyarakat. Dari sinilah adanya pemahamam yang snagat mendalam di antara individu atau komunitas buaya ini di dalam mencakup ruang serta waktu yang tidak ada batasnya.
Tentu saja ini merupakan sebuah festival yang digunakan sebagai ruang untuk segala imajinasi di dalam berbagai bentuk ekspresif.
Borobudur Writers & Culutural Festival (BWCF) 2016 kali ini mempunyai tema setelah 200 tahun Serat Centini, Erotisme & Religiusitas Dalam Kitab-kitab Nusantara yang diadakan pada pekan ke-2 di bulan Oktober 2016. BWCF kali ini dilakukan di 2 kota yakni Yogyakarta dan Magelang.
BWCF 2016 Merayakan 200 Tahun Serat Centini Sebagai Karya Besar Nusantara
Serat Centhini merupakan sebuah karya besar di dunia kesusastraan Jawa yang sudah disusun di awal abad ke-19. Serat yang mempunyai genre puisi panjang dan dapat digubah di dalam bentuk lagu atau tembang macapat.
Serat Centhini sendiri diprakarsai oleh Putera Mahkota Kerajaan Surakarta yakni Adipati Anom Amangkunagara III serta telah menduduki tahta yang mempunyai gelar Sunan Paku Buwana V.
Kemudian setelah beliau menjadi raja maka Sunan Paku Buwana V mempunyai tiga pujangga keraton yang mahir untuk dapat membuat serat , yakni Ranggasutrasna, Yasadipura II serta Sastradipura yang bertujuan untuk meneruskan penulisan cerita tentang segala hal bagaimana kehidupan di dalam bentuk tembang macapat.
Selain itu, Serat Centhini sudah ditulis selama lebih kurang 9 tahun dimana dari tahun 1814 sampai 1823 Masehi.
Jika dilihat, isi dari Serat Centhini ini terdiri dari sejarah, pendidikan, arsitektur, falsafah,geografi, agama, mistik, sulapan, ilmu kekebalan, ramalan, perlambang, bahkan sampai bercerita tentang ?ora, fauna, serta seni.
Baca juga Sweet Museum / Yuk Main ke Museum, Upaya Museum Sonobudoyo Tarik Pengunjung
Di dalam kitab ini pun mempunyai berbagai ulasan tentang khazanah erotika. Tetapi ini bisa dikatakan juga sebuah buku seluruh pengetahuan atau ensiklopedia tentang kehidupan orang Jawa yang dimulai dari awal abad ke-19.
Jika berbicara tentang ulasan mengenai seksualitas, tentu saja hal ini akan dapat memperlihatkan pandangan khas yang memiliki perbedaan dari Tantrayana yang sudah berkembang dari waktu yang sebelumnya, yakni di masa Singasari serta Majapahit.
Bahkan pandangan tentang adanya seksualitas seperti ini bukan hanya memiliki berbagai kitab sastra klasik sehingga dapat berlanjut dalam karya sastra kontemporer.
Sebagai apresiasi dari karya serat centhini, di dalam 1 dasawarsa terakhir ini. Kitab ini pun diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sedangkan untuk versi bahasa Inggrisnya terdapat dalam versi yang lebih singkat, seni tari, pelbagai novelisasi, fotografi. Selain itu, juga di lakukan ziarah perjalanan di berbagai tempat serta rekonstruksi kuliner yang terdapat dalam isi kitab ini.
Tentu saja berbagai hal yang dilakukan tersebut merupakan sebagai bentuk apresiasi tinggi terhadap Serat Centhini yang merupakan kitab klasik budaya Jawa.
Baca juga Puluhan Penyair Dunia Akan Bertemu di Banda Aceh
Di samping Serat Canthini, sebenarnya di tanah air ini juga terdapat epos panjang bahkan dapat dikatakan merupakan epos paling panjang di dunia yakni Sureq Galigo atau disebut juga dengan nama I La Galigo yang dibuat oleh masyarakat Bugis pada abad ke-13.
I La Galigo merupakan kitab paling besar yang menceritakan kisah penciptaan manusia serta petualangan tokoh Sawerigading yang ada di seluruh penjuru dunia.
Jika Serat Centhini merupakan ensiklopedia masyarakat Jawa di awal abad ke-19 maka I La Galigo adalah ensiklopedia dari Bugis yang berbicara tentang kehidupan manusia serta segala hal yang mempunyai kaitannya dengan alam semesta.
Oleh karena itu, Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2016 akan kembali memberikan apresiasi terbaiknya kepada 2 karya sastra klasik ini. Sehingga di tahun 2016 ini, BWCF akhirnya telah memasuki tahun ke-5.
Pastinya festival ini secara konsisten untuk mengangkat berbagai tema budaya klasik Nusantara. Oleh karena itu, Perayaan Serat Centhini dan I La Galigo merupakan suatu upaya untuk dapat menggali khazanah klasik yang bermanfaat untuk memahami serta membentuk kebudayaan Nusantara yang ada di dalam konteks kekinian serta masa depan.
Berbagai Acara di Borobudur Writers & Cultural Festival 2016
- Seminar Penulis
Acara seminar ini berlangsung dari tanggal 6 sampai 8 Oktober 2016 di Plataran Restaurant. Acara seminar ini melibatkan penulis serta para pakar tentang Serat Centhini dan juga berbagai kitab klasik, dengan memakai tema utama yakni ?Erotisisme dan Religiusitas di Nusantara? yang kemudian dibagi di dalam beberapa sub-tema.
Baca juga Tips Menulis Ala Penulis Supernova, Dewi 'Dee' Lestari
Beberapa sub tema tersebut ialah,
Tema pertama ? Tafsir Serat Centhini
Tafsir Serat Centhini ini membahas tentang berbagai tafsir dari dimensi seksualitas serta religiusitas di dalam perspektif kebudayaan Jawa di dalam umumnya, deskripsi geografis terkait perjalanan para tokohnya. Selain itu ada juga khazanah kuliner yang kemudian diceritakan dalam kitab ini dengan berbagai alih wahana seperti seni lainnya yakni novel di dalam kancah sastra modern.
Dalam tema ini terdapat dua sesi seminar yakni,
1. Seksualitas dan religiusitas di dalam Serat Centhini dan juga hubungannya dengan tradisi Islam di Nusantara.
Pembicara dalam seminar ini ialah Elizabeth D. Inandiak, Kartika Setyawati dan Dr. Manu Widyaseputra. Dengan moderator Sudibyo, M.Hum
2. Khazanah kuliner dan Jawa Klasik di dalam Serat Centini, Seks dan Religiusitas dalam karya sastra Jawa Klasik dan Serat Centhini dimana dilakukan juga Pengenalan tokoh Serat Centhini di Jawa Timur.
Pembicara dalam seminar sesi 2 ini ialah Agus Wahyudi, Prof. Dr. Timbul Haryono dan KH, Agus Sunyoto. Dengan moderator Otto Sukatno CR.
Tema Kedua – Erotisisme di dalam Kitab-kitab Klasik Nusantara
Dalam tema ini seminar akan membahas tentang berbagai permasalahan khazanah erotisisme di dalam kitab klasik maupun tradisi lisan yang sudah beredar di berbagai budaya di Nusantara.
Serta, kaitannya dalam pandangan seksualitas yang ada di dalam budaya-budaya lokal, seperti kitab I La Galigo serta tradisi Bissu di Bugis Makassar, Kidung Malat yang berasal dari Bali serta berbagai kitab klasik yang berasal dari Sunda, Batak, Padang, serta Papua.
Dalam tema kedua ini terdapat dua sesi seminar yakni,
1. Sejarah dan tafsir I La Galigo, Bissu di dalam tradisi Bugis, Bali dan juga tradisi Malat.
Pembicara di dalam seminar ini ialah Dr. Halilintar Latief, Dr. Muhlis Hadrawi, Drs. Dwi Cahyono, M.Hum dan Dr. Sirtjo Koolhof. Dengan moderator Dr. Kris Budiman.
Baca juga Bernas Writing Academy, Cara Mudah Jadi Penulis Buku
2. Erotisme dan religiusitas dalam naskah klasik, kitab batak, sastra Padang dan Masyarakat Jawa.
Pembicara ialah Dr. Robert Sibaranai, Salfia Rahmawati dan Raja Suzana. Dengan moderator ialah Prof. Dr. Suwardi Endraswara.
Tema ketiga – Erotisisme dalam Sastra Indonesia Kontemporer
Bercerita tentang khazanah erotik yang ada di dalam sastra Indonesia kontemporer. Oleh karena itu, apakah karya sastra kontemporer Indonesia sudah mengangkat isu seksualitas yang mempunyai hubungan serta khazanah sastra klasik atau sesuatu yang terpisah?
Lantas apa yang menjadi konteks kebudayaan dari kemunculan topik seksualitas yang ada di dalam sastra Indonesia kontemporer? Lantas apa makna seksualitas yang berada di dalam kebudayaan kontemporer?
Baca juga Kritik Kelompok Penulis Global India pada Budaya Intoleransi
Sedangkan untuk tema terakhir ini pembicaranya adalah Dr. Gadis Arivia, Dr. Emanuel Subangun, Dr. Katrin Bandel dan Dinar Rahayu. Sedangkan untuk moderator ialah Prof. Dr. Faruk HT.
- Pentas Seni, Pameran dan Pertunjukan
Suatu acara foto dan pementasan seni pertunjukan, sastra, teater, tari dan musik yang sudah mengangkat tema Serat Centhni dan Erotisme di dalam Kebudayaan Nusantara. Acara tersebut diadakan diadakan di beberapa tempat sekitar Borobudur, di antaranya adalah Desa Mantran Wetan yang berada di Bukit Andong.
Pengisi acara dalam pementasan ini adalah Komunitas Lima Gunung, PM Toh dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk pembaca puisi ialah Oka Rusmini, Ali Arsy, dan Chyntia Hariadi. Pementasan ini berlangsung pada tanggl 6 Oktober 2016.
Pementasan pun dilakukan pada tanggal 7 Oktober 2016 di Seminari Menengah St. Petrus Kanisius Mertoyudan Magelang. Dengan pementasan seni yang berasal dari orchestra siswa seminari Mertoyudan, Komunitas Lima Gunung, Komunitas Bissu yang berasal dari Sulawesi Selatan, Reyog Bulkiyo yang berasal dari Blitar, Ganzer Lana yang berasal dari NTT dan Heri Lentho yang menarikan tari tentang Centhini serta tari suprapto Suryodarmo.
Untuk pembaca puisi dalam pementasan terakhir ialah Norman Erikson Pasaribu, F. Aziz Manna dan Sosiawan Leak.
Selain seni pertunjukan juga diadakan pameran foto karya foto Fendi Siregar dengan cara mendokumentasikan khazanah kultural yang melakukan perjalanan napak tilas dari Serat Centhini. Ada juga pameran lukisan oleh Langgeng Art Foundation yang juga menampilak beberapa karya pelukis terkemuka Indonesia yang memakai Tema Yang Erotis, Yang Religius.
Baca juga Dibilang Sastrawan di Buku Soal Sekolah, Raditya Dika Pilih Disebut Penulis Ganteng
- Musyawarah Penulis dan Penerbit Bersama BEKRAF
Ini merupakan acara pertemuan penerbit dan penulis bersama dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) agar dapat merintis Asosiasi Penulis-Penerbit Indonesia.
- Workshop Cerpen Kompas
Ini merupakan acara workshop membuat cerita pendek yang diadakan oleh Kompas bersama dengan Putu Fajar Arcana dan Joko Pinurbo.
- Penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award
Ini merupakan pemberian penghargaan untuk para penulis, tokoh ilmu pengetahuan dan budaya yang sudah memberikan kontribusi besar terhadap sebuah pemahaman khazanah kebudayaan terlebih khazanah erotisme serta religiusitas yang ada di Indonesia. Selain itu diadakan juga Deklarasi Asosiasi Penerbit ?Penulis oleh BEKRAF dan juga Pentas Seni oleh Agnes Christina dan DnD Music.
