Yogyakarta, HarianBernas.com – Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM), Agus Heruanto Hadna menyebut peningkatan aksi premanisme di Jogja dipengaruhi pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, Jumat (7/10).
“Tingginya potensi konflik dari premanisme di Yogyakarta diduga berkait dengan pertumbuhan ekonomi,” jelas Hadna, Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, UGM.
Berdasarkan hasil studi dari UGM di tahun 2013 dan tahun 2016 memperlihatkan bahwa mayoritas masyarakat menganggap aksi-aksi kekerasan oleh kelompok atau premanisme di Jogja mengalami kenaikan yang berarti.
Indeks potensi konflik dari aksi premanisme meningkat di wilayah Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta. Hadna menyebut kemungkinan naiknya potensi konflik dari premanisme berkait dengan pertumbuhan ekonomi Yogyakarta naik.
Bagi Hadna, pertumbuhan ekonomi mendorong terjadinya transformasi sosial budaya. Tandanya, dengan bergesernya nilai-nilai dari model masyarakat yang Gemeinschaft menuju masyarakat Gesselschaft (nilai-nilai kekerabatan menjadi longgar dan diganti dengan nilai-nilai transaksional).
