HarianBernas.com – Kata investasi memiliki makna yang beragam bagi setiap orang. Bagi sebagian orang ada yang mengasosiasikan investasi dengan cara cepat untuk menjadi kaya, namun bagi sebagian orang lainnya yang pernah mengalami pengalaman buruk.
Investasi dapat diasosiasikan dengan penipuan, karena banyaknya penipuan berkedok investasi. Penipuan investasi disebabkan masih rendahnya kewaspadaan dan kurangnya informasi yang dimiliki masyarakat.
Baca juga: Begini 3 Cara Membeli Saham Bagi Pemula dengan Mudah
Penipuan ini bisa muncul dalam berbagai jenis, mulai dari modus sederhana (menyamar sebagai koperasi simpan pinjam, menanamkan modal usaha) sampai dengan media internet. Apapun metodenya, biasanya disertai iming-iming keuntungan yang besar tanpa resiko. Jadi, sebelum melakukan investasi, kita perlu memahami dan mendeteksi apakah tawaran investasi yang Anda terima bodong atau tidak.
- Skema Ponzi menjanjikan keuntungan pasti, misalnya sebesar 50% dalam jangka waktu 30 hari sejak investor menyetor uangnya. Skema Ponzi ini menarik masyarakat untuk beramai-ramai menyetorkan uangnya. Pembayaran keuntungan yang dijanjikan dengan menggunakan dana investor yang setor belakangan. Ketika investor baru semakin sedikit yang masuk, maka keuntungan yang dijanjikan-pun tidak bisa dibayarkan. Akhirnya, pengelola investasi bodong ini akan melarikan diri dengan membawa uang para investor.
- Skema Piramida, disini investor lama yang bergerak mencari investor baru. Ketika investor lama berhasil menarik investor baru maka dia akan mendapat semacam komisi yang sebenarnya diambil dari dana investor baru. Semakin banyak investor lama melakukan perekrutan, semakin besar komisi yang dia peroleh dan semakin tinggi pula posisinya.
Penipuan dengan skema Ponzi maupun Piramida sudah banyak berganti baju. Namun intinya sama, yaitu money game. Ketika suatu investasi memberikan janji manis dan tawaran yang menggiurkan, saatnya kita perlu berhati-hati.
Baca juga: Mengenal Trading Saham dan Cara Jitu Jadi Trader Handal
Media yang digunakan dalam penipuan investasi ini pun juga bermacam-macam, dari pendekatan personal hingga tawaran investasi melalui internet. Dapat berbentuk tawaran investasi emas, forex dan tawaran bisnis online yang menjanjikan keuntungan pasti dan sangat fantastis. Dengan demikian kita perlu lebih berhati-hati dan menggunakan akal sehat ketika menghadapi tawaran investasi. Beberapa hal yang perlu kita perhatikan :
- Perhatikan imbal hasil
Sebelum menempatkan dana, mari kita perhatikan tingkat kewajaran dari imbal hasil yang ditawarkan. Kita bisa membandingkan imbal hasil tersebut dengan rata-rata bunga bank. Saat ini bunga bank rata-rata sekitar 5%-7% per tahun.
- Keuntungan besar dalam jangka pendek
Para pelaku investasi bodong sering menawarkan keuntungan jangka pendek yang besar. Jangan mudah terpancing dengan hal tersebut.
- Pastikan perusahaan investasi memiliki izin
Kita perlu memastikan orang atau perusahaan yang menawarkan produk investasi tersebut memiliki izin sesuai dengan bidang atau bisnisnya. Selain itu, Anda perlu memastikan produk tersebut telah terdaftar atau mendapat izin dari otoritas yang berwenang.
Baca juga: Inilah Jam Buka Bursa Saham di Indonesia
Mengenal Produk Investasi
Setelah mendeteksi suatu investasi bukan termasuk investasi bodong, ada baiknya kita sebagai investor perlu mengetahui berbagai jenis investasi, serta risikonya, agar terhindar dari kerugian karena minimnya pemahaman dan pengetahuan yang kita miliki. Berikut ini berbagai macam instrumen investasi:
- Real (Physical) Asset: emas, properti
- Business Asset: toko
- Financial Asset, antara lain:
- Pasar Uang (Money Market) jangka pendek kurang dari satu tahun: surat berharga pemerintah, obligasi kurang dari satu tahun, sertifikat deposito, commmercial paper, dana interbank.
- Pasar Modal (capital Market) jangka meengah dan panjang: obligasi, saham, opsi, waran, reksadana, instrumen lain yang tersedia di Pasar Modal Syariah.
Baca juga: 7 Cara Main Saham Bagi Investor Pemula dengan Mudah
Reksadana, sebagai salah satu instrumen investasi memberikan tingkat keamanan, khususnya bila dilihat dari sisi kewajiban disclosure yang diatur oleh Regulator OJK, sehingga diharapkan lebih aman dari unethical practices. Selain itu aset dan pencatatan Reksadana dilakukan secara independen oleh Bank Kustodian. Dengan Reksadana, portofolio investasi Anda dapat dikelola secara terdiversifikasi dengan baik atau tersebar pada beberapa efek investasi. Keuntungan berinvestasi yang ditawarkan umumnya lebih tinggi, dibanding tabungan atau giro.
Selain dari sisi keamanan, Reksadana juga menawarkan begitu banyak pilihan dan kemudahan. Investasi pada reksadana tidak membutuhkan modal yang besar. Investasi ini bisa dijangkau oleh siapa saja, bahkan dengan modal Rp 100 ribu saja Anda sudah bisa menjadi investor reksadana. Selain itu, likuiditasnya cukup tinggi dan fleksibel, artinya Anda bisa menarik dana investasi kapan saja. Reksadana cocok untuk perencanaan finansial jangka panjang, misalnya untuk masa tua atau untuk pendidikan anak. Reksadana sebagai media investasi tentunya juga tetap memiliki risiko, khususnya pada kenaikan atau penurunan harga aset investasi.
Dengan ulasan diatas, diharapkan Anda bisa mulai berinvestasi dengan aman dan mempercayakan dana investasi Anda pada layanan keuangan yang tepat. Happy Investing.
