YOGYAKARTA, HarianBernas.com ? Jogja International Heritage Walk (JIHW) ke-8 akan diselenggarakan pada 19-20 November 2016 di Candi Prambanan dan Imogiri, Yogyakarta. Bersama 28 negara, pada tahun 2013 perhelatan kelas dunia ini resmi dinobatkan sebagai Liga Jalan Kaki Dunia atau IML (International Marching League).
Jogja International Heritage Walk (JIHW) adalah sebuah kegiatan jalan kaki rekreasi (fun walking) berskala internasional yang diselenggarakan oleh Jogja Wallking Association sebagai Organizing Committee. Konsep yang diusung tidak hanya mencakup kesehatan, tetapi juga meliputi unsur pendidikan dan komunikasi .
Dalam konferensi pers yang dilaksanakan pada hari Kamis (17/11/16) di Hotel Grand Aston, Yogyakarta, JIHW menggandeng Nita Azhar, seorang desainer kenamaan untuk menampilkan kreasi batiknya di event akbar ini.
Rancangan Nita Azhar akan dikolaborasikan dengan tarian karya Anter Asmororedjo dan ditampilkan pada acara Welcome Dinner pada tanggal 18 November di Pendopo Royal Ambarrukmo Hotel. Acara ini akan dihadiri seluruh delegasi masing-masing negara dan perwakilan peserta lokal dan para pendukung acara.
?Batik adalah karya seni bukan untuk industri. Batik adalah warisan budaya yang harus dilestarikan dan menjadi barang koleksi. Saya sejak awal terjun di dunia desain batik selalu menginginkan batik tetap menjadi pusaka budaya kita, batik tidak boleh dipotong sembarangan. Batik menjadi budaya turun-temurun sebagai warisan. Batik sebagai busana apapun harus tetap utuh. Batik untuk industri akan dibedakan, ? ujar Nita dalam konferensi pers siang tadi (17/11/16).
Selain Nita Azhar, Komunitas Organik Indonesia (KOI) juga memberikan dukungan penyelenggaraan JIHW kali ini. Agung dari KOI DIY-Jateng dalam kesempatan tersebut menyerahkan topi batik yang pewarnanya terbuat dari bahan alami seperti, tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan.
Fitriani Kuroda, Sekjen Jogja Walking Association menambahkan, sesuai dengan tema sub event JIHW kali ini, yakni Canting and Weaving for Life, keberadaan batik di perhelatan ini akan menjadi warna baru yang tidak ditemukan di event jalan kaki di negara lain.
?Peserta disediakan baju batik khusus dan akan menggunakan topi dan ransel dari batik. Jika mereka memakainya maka akan mendapat hadiah bordiran logo. Ini menjadi pancingan para peserta dari luar negeri agar tidak menggunakan kostum atau seragam dari negaranya masing-masing dan memilih untuk menggunakkan batik. Ini akan menjadi pemandangan yang istimewa, ? ungkap Fitriani.
Fitriani menambahkan, JIHW adalah olahraga yang sangat membumi. Budaya jalan kaki di Indonesia sangat rendah karena kurangnya fasilitas pedestraian yang memadai, berbeda dengan di luar negeri.
?Awal memulai pada tahun 2008 tantangannya cukup berat, namun sekarang merupakan pencapaian yang membanggakan karena statistik (jumlah) peserta semakin meningkat,? lanjut Fitriani.
?JIHW adalah bagian dari gaya hidup sehat. Bermanfaat untuk menurunkan resiko penyakit degeneratif seperi stroke dan diabetes. JIHW ada untuk membantu pemerintah mengubah gaya hidup masyarakat untuk mau meluangkan waktu berjalan kaki, ? pungkasnya.
