YOGYAKARTA, HarianBernas.com — Setelah seminggu menghilang, Ketua Mapala UII Imam Imam Noorizky dan Ketua Panitia Pelaksana Pendidikan Dasar (Diksar) The Great Camping (TGC) UII Wildan Nuzula, Jumat (27/1/2017) petang, mulai buka suara.
Mereka muncul dalam jumpa pers di Kampus UII Cik Di Tiro bersama Ketua Tim Pencari Fakta (TPF) 2 UII Dr Achiel Suyanto SH MBA. Namun, tidak banyak fakta yang mereka ungkapkan kepada wartawan. Mereka terkesan tertutup, terutama terkait tindak kekerasan yang menimpa mahasiswa peserta Diksar TGC UII.
Ini terbukti, ketika ditanya tindakan kekerasan apa yang dilakukan sehingga mengakibatkan tiga mahasis meregang nyawa dan 10 lainnya harus dirawat inap secara intensif di rumah sakit. “Sebagai Ketua Mapala UII saya siap bertanggungjawab bila ada kekerasan dalam diksar tersebut dan siap membantu polisi untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Saya juga meminta maaf kepada korban, keluarga korban, UII maupun lembaga Mapala karena kasus ini telah mencoreng nama baik dan merusak citra almamater maupun nama lembaga Mapala,” kata Imam Noorizy di hadapan puluhan wartawan yang memadati ruang sidang lantai II Kampus Cik Di Tiro UII.
Ketika ditanya apa yang terjadi sehingga mengakibatkan tiga peserta diksar meninggal dan 10 lainnya harus dirawat di rumah sakit, Imam Noorizy yang tampak pucat itu tidak banyak mengungkap misteri tersebut. Ia hanya mengatakan bahwa diksar sudah sesuai dengan SOP dan kalaupun ada tindakan berlebihan di luar SOP maka itu di luar pengetahuan mereka.
Hal yang sama diungkapkan Ketua Panitia Pelaksana Diksar TGC UII Wildan Nuzula maupun Ketua TPF 2 UII Achiel Suyanto. Diakui, ada tindak kekerasan dalam diksar itu namun, bagaimana bentuk tindakan dan siapa yang melakukan kekerasan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada polisi untuk mengusut dan mengungkapkannya.
“Dari temuan sementara TPF 2 UII memang ada kekerasan dalam diksar tersebut. Namun, bagaimana bentuk kekerasan dan siapa yang melakukan kekerasan, itu ranah polisi untuk nengungkapkannya,” kata Dr Achiel Suyanto SH MH MBA.
Menurut Wildan Nuzula, diksar Mapala UII sebenarnya sudah ada standard operational procedure (SOP) yang disusun panitia pengarah (SC) dan harus dilaksanakan oleh panitia pelaksana (OC). Dan bisa saja ada oknum operasional/ pelaksana yang melakukan tindakan di luar SOP dan itu di luar pengetahuan panitia.
Menurut Wildan Nuzula, materi diksar disusun dan disiapkan oleh SC dan UC yang melaksanakan atau menjalankannya. Peserta mendapat 10 materi yang diberikan panitia antara lain masalah hubungan Islam dengan alam, sosiologi desa, lingkungan hidup, manajemen, alam bebas, survival dan sebagainya. Diksar diikuti 34 peserta, terdiri dari 34 putra dan 3 putri.
Diakui, tindakan berlebihan kemungkinan terjadi pada acara survival karena ada sesi dimana instruktur melakukan pendidikan secara terpisah dari kelompok lain. Meski demikian, Wildan Nuzula mengaku panitia selalu mendampingi setiap sesi dan bila ada instruktur melakukan tindak berlebihan akan ditegur oleh panitia.
Sementara beberapa korban yang dirawat di RS “JIH” mulai pulih dan boleh pulang. Muh Fahrul Abdulah alias Troto mengaku sudah sembuh dan siap pulang. Ia pun berterima kasih kepada pihak UII dan RS “JIH” yang telah memfasilitasi dan merawat mereka dengan baik sehingga bisa pulih kembali. Namun, seperti panitia, mereka tidak bersedia menjelaskan bentuk kekerasan yang dialami selama diksar. “Itu bukan ranah kami, biar polisi yang mengungkapkan,” kata Troto.
Sebanyak 5 dari 10 korban yang dirawat yang dihadirkan bersama orangtua mereka di hadapan wartawan di basement RS “JIH” tampak tidak memberikan keterangan secara terbuka. Ketika ditanya soal kekerasan yang dialami, mereka menolak untuk menjawab. Seperti panitia, mereka juga menyerahkan kepada polisi untuk mengungkapkan bila ada kekerasan maupun siapa yang melakukan kekerasan.
Para korban ini pun terkesan sangat tertutup dengan tidak mau mengungkapkan secara terbuka apa yang terjadi dalam diksar sehingga ada rekan mereka sampai meninggal dunia dan dirawat di rumah sakit. “Biar polisi saja yang mengungkapkan,” kata Troto yang diiyakan teman-temannya.
