YOGYAKARTA, HarianBernas — Para orangtua korban kekerasan pendidikan dasar (diksar) The Great Camping (TGC) Mapala UII tak akan menuntut pihak manapun, baik panitia maupun UII, secara kelembagaan. Karena kekerasan yang terjadi merupakan musibah yang tidak diinginkan oleh siapa pun.
“Secara manusiawi kami tidak akan menuntut karena ini merupakan musibah. Kalau aparat memproses secara hukum silahkan, tapi dari pihak kami tidak akan menuntut,” kata Margiyanto, orangtua salah satu mahasiswa peserta Diksar TGC ke-37 Mapala UII kepada wartawan di basement RS “JIH” Condongcatur, Depok, Sleman, Jumat (27/1/2017) siang.
Menurut Margiyanto, pihak UII sangat responsif dan akomodatif dalam menangani kasus ini. Para orangtua/keluarga korban diberi kemudahan dan fasilitas sehingga bisa datang ke Jogja menemui anak-anak sebagai korban dalam diksar itu. Karena itu, para orangtua sepakat untuk tidak menuntut agar tidak menambah beban bagi UII yang sedang menghadapi musibah.
Hal yang sama disampaikan Imam Hakim, orangtua korban yang dirawat di ICU RS “JIH”. Ia mengaku, penanganan medis terhadap korban yang dirawat di RS “JIH” sangat baik. Sehingga anaknya yang dirawat di ICU kini sudah membaik.
“Orangtua tidak akan menutut. Selaku orangtua dan mantan mahasiswa UII, kami tidak akan menuntut karena ini adalah musibah. Tak satu pun yang menginginkan kejadian seperti ini. SOP-nya sudah benar tapi mungkin ada oknum/pelaku yang salah menerapkan SOP. Pelaku/oknum yang secara emosional melakukan di luar SOP,” kata Margiyanto.
Imam Hakim menilai UII sangat responsif. Ia salut dan terima kasih atas penanganan yang begitu baik. Dikatakan, misi Mapala adalah baik karena merupaka organisasi yang ingin mengantarkan mahasiswa yang aktif dalam lembaga itu menuju kebaikan. Kejadian kekerasan, kalau ada, ibarat keamanan di rumah. Sekuat apa pun keamanan, toh tetap ada rumah yang kecolongan dibobol pencuri. “Kita ambil hikmahnya dari peristiwa ini. Dan sekuat apapun keamanan tetap ada kecolongan. Kita ambil hikmahnya, jangan ada tekanan,” kata Imam Hakim.
Ketika ditanya apakah para orangtua setuju Rektor UII Dr Ir Harsoyo MSc mundur dari jabatan rektor. Imam Hakim menjawab, “Secara pribadi tidak setuju rektor mindur. Saya tolak kalau rektor mundur, apalagi kalau mundur karena tidak ikhlas atau karena ada tekanan. Kita harus menyikapi masalah ini dengan ikhlas,” kata Imam Hakim.
Sementara korban yang dirawat, Muh Fahrul Abdulah alias Troto dan Fatih Rohim juga tidak setuju kalau Harsoyo mundur dari jabatan Rektor UII. Sebab, ini bukan kesalahan dia, tapi kesalahan oknum. Karena itu, yang bertanggungjawab adalah oknum yang melakukan kekerasan. “Kami tidak setuju kalau rektor mundur. Jangan semua tanggungjawab dibebankan kepada beliau. Ini adalah kesalahan oknum dan oknum itulah yang harus bertanggungjawab,” kata Troto.
