HarianBernas.com – Aris Dwi Atmoko atau sering disapa Aris adalah seorang General Manager di Hotel Dafam Malioboro dan Seturan Yogyakarta. Sejak kecil, Aris memiliki cita-cita menjadi pengusaha namun pengalaman mengarahkan dirinya untuk menjadi seorang profesional di bidang perhotelan.
Mendapatkan posisi sekarang ini menjadi seorang GM tidak begitu saja ia dapatkan. Ia berjuang dari bawah dengan ketekunan. Disamping mendapat dukungan dari ibu dan istrinya. ?Peran paling vital adalah ibu saya dan juga istri. Karena merak berdua menjadi motivator,? katanya. Ibunya berangkat dari keluarga yang biasa saja dan tinggal di kampung daerah Pacitan Jawa Timur. Peran ibulah yang awalnya mampu membawa dirinya bisa menempuh pendidikan sampai dengan bekerja di perhotelan.
Sebelum menjabat seorang GM, Aris memiliki pengalaman yang menjadi titik balik dalam kehidupannya. Saat itu tahun 2011, masih menjabat sebagai Manager Food and Beverage di sebuah hotel internasional ternama di Bali. Waktu itu, ia terpilih menjadi salah satu oran yang melayani Presiden Barack Obama dan 10 Presdien lainnya dalam acara Konferensi OPEC di Bali. Terpilihnya Aris saat itu menjadi motivasi bagi dirinya untuk mengejar prestasi agar kelak bisa menjadi seorang General Manager. Karena kalau menjadi GM, bisa bertemu dengan orang-orang besar sekelas Presiden. Dari situlah pelayanannya mulai dinilai bagus dan memuaskan akhirnya namanya membawa keberhasilan bagi karirnya.
Ia merasa bahwa dunia perhotelan sudah menjadi bagian dari jiwanya. Meskipun masih ada beberapa mimpi yang ingin ia raih. Agar kelak bisa naik pada posisi selanjutnya setelah menjadi GM. Ia mengisahkan dulu selepas tamat SMA, ia sempat bingung. Masuk kuliah diperhotelan hanya karena iseng saja dan memang mencari kampus yang biayanya cukup terjangkau oleh orangtuanya.
Menurut Aris, kampus bagus bukan jaminan sesorang bisa berhasil. Kampus biasa pun kalau kita mau sungguh-sungguh dan berusaha semaksimal mungkin akan berhasil. Kuliah dimana pun asal belajar, berdoa dan berusaha pasti aka nada jalan terbuka lerbar. Setelah kuliah kemudian lulus dan bisa bekerja di perhotelan ia lambat laun menemukan bahwa jiwa melayaninya memang terlatih saat bekerja diperhotelan.
Menjadi seorang GM pun ia masih harus membentuk dan mengelola tim kerjanya dengan optimal. Tantangan yang sering datang padanya yaitu ketika proses membentuk tim kerja. Bagi Aris, ?tim kerja kita adalah ujung tombak sekaligus aset kita (perusahaan). Saya ingi aset saya jadikan ujung tombak. Maka saya ingin tim kerja saya menjadi tim yang solid, bekerja penuh totalitas maka secara langsung ketika kinerja tim bagus itu akan membawa efek luar biasa untuk performance perusahaan ini,? jelas lelaki pengagum Jacob Utama pemilik Kompas Grup.
Maka sebagai GM, ia memiliki kiat-kiat khusus untuk terus membentuk performa timnya dengan training berkala. ?Saya ingin bahwa tim kerja saya juga memiliki jiwa melayani dan bekerja dengan ikhlas. Kalau tidak mempunyai jiwa melayani jangan kerja disini silahkan resign. Orang kerja dihotel itu yang mau melayani,? tambahnya.
Disamping tantangan dalam mengelola tim kerja, tantangan yang lain datang dari luar yaitu persaingan yang cukup ketat. Apalgi di Yogyakarta saat ini soal perhotelan sudah sangat signifikan meningkatnya. Maka untuk mengejar persaingan tersebut, Aris memiliki inovasi yang dibangun dengan karyawannya. Ia bersama timnya membuat even. Sebuah kegiatan yang dilakuakn diluar kebiasaan sehari-hari. Kegiatan ini ternyata dirasa cukup efektif untuk dijadikan tim building. Selain bagian dari usaha branding hotelnya, keterlibatan tim karyawan sebagai panitia inti dalam even juga membawa dampak yang positif.
Karyawan yang biasanya bekerja menjadi tukang masak, ngepel, pelayan di restoran mereka tiba-tiba jadi handle artis, cari sponsor, jadi penerima tamu di even. ?Dari situ muncul kepuasaan berbeda. Kita berhasil melkaukan suatu kegiatan diluar kebiasaan. Terbentuk leadership. Setiap karyawan kita jadikan panitia inti setiap even kita rubah. Kita bikin dari nol, kita menjadi pemain utama,? tuturnya. Mulai dari inovasi inilah akhirnya menjadi tim kerja yang semakin solid dan setiap karyawannya saat ini memiliki nilai jual yang tinggi. ?Sudah bukan eranya sekarang berpikir out of the box tapi burn the box. Bakar tempatnya dan kita menjadi apa saja sesuai kreativitas kita,? katanya.
?Kita tidak pernah melihat apa yang anda sampaikan atau bicarakan, tapi kita akan melihat bagaimana ada menyampaikan,? pungkasnya dalam sebuah quote. Pengertianya demikian, masalah kecil akan menjadi besar ketika kita cara menyampaikannya salah, begitu juga soal besar akan menjadi kecil. Jadi, bukan soal isinya tapi cara penyampaiannya.
