HarianBernas.com – Lautan manusia memenuhi jalanan kota London pada hari Sabtu (25/3/2017) waktu setempat. Mereka adalah demonstran yang menentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa, atau dikenal juga dengan sebutan Brexit. Bendera Inggris dan Uni Eropa terlihat berkibaran di antara para demonstran. Spanduk yang mengecam Perdana Menteri Inggris Theresa May juga terlihat diusung oleh sejumlah demonstran.
Polisi yang dilengkapi dengan senapan otomatis terlihat di antara kerumunan demonstran untuk memastikan tidak ada hal-hal menyimpang yang terjadi. Aksi demonstrasi ini sendiri secara keseluruhan berlangsung secara kondusif. Ketika massa tiba di depan gedung parlemen, mereka melakukan aksi mengheningkan cipta selama 1 menit untuk menghormati para korban tewas dalam insiden penabrakan membabi buta di hari Rabu (22/3/2017).
Ian Clarke adalah salah satu peserta aksi demonstrasi ini. Kepada wartawan CNN, pria yang berprofesi sebagai guru tersebut berharap supaya Inggris menggelar referendum sekali lagi untuk melihat apakah mayoritas rakyat Inggris masih berminat mendukung Brexit. ?Saya pikir rakyat Inggris membutuhkan kesempatan untuk berpikir lagi dan memilih kembali,? papar Clarke.
Demonstrasi dengan tajuk Bersatu untuk Eropa (Unite of Europe) ini digelar hanya beberapa hari menjelang diaktifkannya Artikel 50 oleh Perdana Menteri Inggris. Artikel 50 merupakan butir dalam Traktat Lisbon ? semacam konstitusi Uni Eropa ? yang mengatur proses keluarnya negara anggota Uni Eropa. Sekali diaktifkan, negara terkait hanya memiliki sisa waktu dua tahun sebelum keanggotaannya benar-benar dicabut.
