HarianBernas.com – Transportasi online beberapa tahun terakhir menjadi perbincangan yang tak kunjung selesai. Munculnya transportasi online ini mendapat berbagai tanggapan dari masyasrakat, mulai dari penolakan, kritik, hingga sambutan yang cukup hangat.
Nah, terlepas dari semua itu, ada beberapa fakta menarik yang bisa dilihat dari meunculnya transportasi berbasis online tersebut.
1. Era Digital Teknologi
Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini adalah era di mana digital teknologi menjadi kebutuhan masyarakat. Masyarakat menuntut berbagai kemudahan dan teknologi hadir untuk menjawab tuntutan tersebut.
Seperti halnya yang diungkapkan oleh Darmaningtyas, seorang pakar pendidikan, dilansir dari msn, bahwa penggunaan teknologi kini sangat tinggi, semua harus bisa memanfaatkan teknologi.
Menurutnya, perusahaan taksi besar dan transportasi umum kurang bisa memanfaatkan teknologi sehingga ketika transportasi online 'meledak' angkutan konvensional tertinggal jauh.
2. Transportasi Online Berawal dari Ide yang Sederhana
Meski saat ini terlihat mirip, rupanya ide awal dari para pendiri transportasi berbasis online ini berbeda-beda dan cukup sederhana. Seperti halnya Travis Kalanick dan Garrett Camp, pendiri Uber. Pada awalnya Travis dan Garret hanya berkeinginan untuk mewujudkan transportasi yang mengalir seperti air dan ada di mana-mana serta tersedia bagi semua orang. Dari ide tersebut munculah Uber. Keduanya berhasil membuat ide untuk mendapatkan alat transportasi hanya dengan sekali klik.
Sementara itu, Anthony Tan, pendiri Grab mempunyai keinginan untuk memperbaiki sistem taksi yang berada di Malaysia. Oleh karena itu, Anthony mengembangkan sistem aplikasi Grab.
Sedangkan, Nadiem Nakarim, pendiri Go-Jek mempunyai keinginan untuk mengubah citra pengendara ojek di Indonesia. Keprihatinan Nadiem muncul lantaran profesi tukang ojek dipandang sebelah mata, padahal sebenarnya cukup banyak yang membutuhkan jasa ojek. Oleh karena itu, Nadiem pun mengembangkan aplikasi Go-Jek.
3. Kalanick, Pendiri Uber Tak Menyelesiakan Pendidikannya di UCLA
Sama seperti para tokoh inovatif dunia lainnya seperti Bill Gates, Mark Zuckerberg, Lawrence Ellison, atau Michael Dell, yang tidak menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi, Kalanick pun juga berhasil meraih kesuksesan.
Pada tahun 2016 lalu, Kalanick dimasukan dalam jajaran “Man of The Year” versi majalah Time. Selain itu, Uber juga menjadi startup paling bernilai di dunia, dengan berhasil mendapatkan kucuran invertasi sebesar US$ 1 miliar.
4. Go-Jek Menjadi Stimulus Startup di Indonesia
Go-Jek berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu startup tersukses di Indoneisa. Keberhasilan Go-Jek membuat dunia startup di Indonesia bersemangat. Banyak orang yang tertarik untuk mendirikan startup dan berharap bisa mencapai keberhasilan layaknya Go-Jek.
Perlu diketahui, bahwa sejak tahun lalu, Go-Jek telah berhasil masuk dalam kategori Unicorn Startup. Masuknya Go-Jek dalam kategori unicorn startup berarti perusahaan rintisan asal Indonesia yang berdiri tahun 2011 ini telah bernilai lebih dari US$ 1 miliar.
Selain mengukuhkan diri sebagi unicorn startup pertama di Indonesia, Go-Jek juga berhasil memecahkan rekor pendanaan terbesar yang pernah diberikan kepada startup Indonesia. Go-Jek berhasil mendapatkan dengan jumlah mencapai Rp 7,2 triliun, angka yang sangat fantastis tentunya.
