HarianBernas.com – Cape Town merupakan salah satu kota di Afrika Selatan yang paling sering dikunjungi oleh turis-turis asing. Lokasi Cape Town yang berada tepat di tepi Samudera Atlantik menyebabkan kapal-kapal pesiar internasional kerap menjadikan Cape Town sebagai destinasinya. Ironisnya, kota tersebut terancam ditimpa krisis air dalam waktu dekat.
Bloomberg memberitakan kalau cadangan air yang tersisa di Cape Town hanya cukup untuk 100 hari ke depan. Fenomena ini sendiri disebabkan oleh minimnya curah hujan yang turun di Cape Town. Selama dua tahun terakhir, curah hujan di Cape Town memang tergolong rendah jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dampak dari minimnya curah hujan tersebut adalah level ketinggian air di enam waduk utama berkurang menjadi tinggal 30 persen. Padahal waduk-waduk tersebut menjadi sumber air utama bagi warga Cape Town yang jumlahnya mencapai 3,7 juta jiwa. Ratusan ribu turis asing juga singgah di bandara internasional Cape Town setiap tahunnya.
Musim hujan di Cape Town baru dimulai pada bulan Mei atau Juni. Namun jika curah hujan yang turun masih tetap rendah, cadangan air yang tersedia dikhawatirkan tidak akan cukup untuk digunakan oleh warga Cape Town dalam kurun waktu dua tahun berikutnya.
Walikota Cape Town Patricia de Lille lantas menganjurkan warga Cape Town untuk mengubah gaya hidupnya demi menghemat persediaan air. Pihaknya juga sudah melarang penggunaan selang untuk menyirami tanaman dan mengisi air kolam renang. Pemerintah Cape Town memasang target agar konsumsi air harian Cape Town hanya mencapai 700 juta liter per hari. Sebelum kebijakan larangan tersebut diberlakukan, konsumsi air di Cape Town per harinya mencapai 1,1 milyar liter.
