Yogyakarta, Harianbernas.com-Pameran berjudul Potret Yogyakarta Kota Perjuangan diselenggarakan di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Jl A Yani No. 6. Pameran ini akan digelar pada tanggal 1-5 Maret 2017. Pameran tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Yogyakarta tentang peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di Yogyakarta.
Koordinator Pelaksana Pameran, Gunawan Haji mengatakan, pameran temporer tersebut mengambil tema Menggali Semangat Kejuangan Yogyakarta untuk Menyongsong Masa Depan Bangsa. “Maksud dari pelaksanaan kegiatan pameran ini di antaranya memperingati peristiwa bersejarah yakni Serangan Umum 1 Maret 1949,” katanya di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Rabu (1/3).
Gunawan menerangkan, pameran tersebut bermaksud mensosialisasikan informasi benda-benda bersejarah terkait peranan Yogyakarta sebagai Kota Perjuangan kepada masyarakat, khususnya pelajar. Dia juga menambahlan, pameran tersebut juga dapat memfasilitasi para pemerhati sejarah untuk berkontribusi dalam pelestarian benda dan informasi kesejarahan di Yogyakarta.
Materi pameran terdiri dari benda-benda yang bernilai informasi kesejarahan, baik benda asli, tiruan, miniatur, dan reproduksi. Dari benda-benda tersebut disampaikan informasi kesejarahan terkait dengan peristiwa-peristiwa perjuangan yang terjadi di Yogyakarta.
“Materi pameran berasal dari Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dan museum-museum lain dengan cara dipinjam. Dengan demikian, museum yang bersangkutan turut serta mendukung pameran ini dengan menjadi partisipan aktif,” ujar Gunawan.
Menurutnya, Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, menjadi sebuah peristiwa besar dalam rangkaian panjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Dia melanjutkan, peristiwa tersebut juga dapat dikatakan sebagai “Ikon Kota Yogyakarta” karena peristiwa yang menghebohkan Dewan Keamanan PBB tersebut terjadi di Yogyakarta, tempat markas pasukan Belanda berada.
“Meski hanya mampu menduduki Kota Yogyakarta selama 6 jam, namun dampak yang ditimbulkan luar biasa. Mata seluruh penjuru dunia mulai terbuka bahwa apa yang dikatakan Belanda bahwa RI dan TNI akan hancur ternyata bohong,” tegas Gunawan.
Gunawan menerangkan, peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 dapat dikatakan sebagai hulu dari proses perjuangan panjang pengakuan kedaulatan Indonesia. Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan “turning point” kekuasaan Belanda di Indonesia.
“Sejak saat itu kekuasaan Belanda di Indonesia mulai menghilang dan terakhir dengan masuknya Irian Barat ke pangakuan RI tanggal 1963,” kata Gunawan.
Sambutan Gubernur DIY Hamengku Buwono X yang dibacakan oleh Wakil Gubernur (wagub) DIY Sri Pakualaum IX mengatakan, pihaknya menyambut baik Pameran Temporer Potret Yogyakarta Kota Perjuangan. “Dengan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan nuansa tersendiri bagi generasi penerus,” katanya.
Menurut Wagub DIY, generasi muda khususnya para pelajar dan mahasiswa lebih mengenal, memahami, dan mewarisi nilai-nilai luhur perjuangan bangsa di Yogyakarta. “Cerminan penyajian pameran ini bisa diteruskan kepada generasi muda lainnya,” katanya.
