JAKARTA, HarianBernas.com ? Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mengejar keadilan listrik bagi seluruh rakyat Indonesia. Ignasius Jonan selaku Menteri ESDM ingin 12.000 desa di seluruh Indonesia yang saat ini belum terlistrik dengan baik bisa segera terang.
Salah satu wilayah yang menjadi target untuk diterangi adalah Kabupaten Pegunungan Bintang di perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Kementerian ESDM mengalokasikan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 68 miliar untuk membangun pembangkit listrik mini hidro (PLTM) berkapasitas 1 MW di Distrik Oksibil.
Sementara, jaringan distribusi 20 kV sepanjang 30 kilometer sirkit (kms) akan dibangun oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pegunungan Bintang, dengan dana dari APBD sebesar Rp 50 miliar. Distrik ini dapat dijangkau dengan pesawat dari Jayapura selama 1 jam perjalanan. Selanjutnya melakukan perjalanan darat selama 1 jam dari Bandara Oksibil.
Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Rida Mulyana, dan Bupati Pegunungan Bintang, Costan Oktemka, hari ini melakukan groundbreaking PLTM Oksibil. Pembangkit listrik ini ditargetkan rampung pada Desember 2017. Oleh karenanya, Pegunungan Bintang bisa dialiri listrik 24 jam mulai Januari 2018.
PLTM Oksibil akan dialirkan ke 800 rumah di Distrik Oksobil dan 3 distrik lainnya. Selain itu, listrik juga akan mengalir ke 100 kantor pemerintahan, 200 fasilitas umum, 300 penerangan jalan umum (PJU). PLTM Oksibil beroperasi maka Pegunungan Bintang akan terang selama 24 jam.
Selama ini, Pegunungan Bintang mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) berkapasitas 1,2 megawatt (MW) yang bahan bakarnya mahal untuk listrik selama 6 jam per hari. Solar di Pegunungan Bintang harganya mencapai Rp 45.000 per liternya.
Adanya PLTM Oksibil dapat mengurangi beban konsumsi solar juga bisa ditekan. Dana Rp 20 miliar dari APBD Kabupaten Pegunungan Bintang akhirnya bisa dihemat per tahunnya.
