HarianBernas.com – Thailand masih belum terbebas dari ancaman teror. Channel News Asia mengabarkan kalau 23 serangan bersenjata terjadi di Thailand selatan pada hari Jumat pagi (7/4/2017) waktu setempat. Serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah raja Thailand menandatangani konstitusi baru negara.
Menurut pernyataan pihak kepolisian, tidak ada korban tewas ataupun luka dalam serangan tersebut. Namun akibat serangan ini, sebanyak 52 tiang listrik mengalami kerusakan sehingga pemadaman listrik terjadi di beberapa lokasi. Serangan ini sendiri terdiri dari peledakan bom dan pemasangan ban terbakar di tengah-tengah jalan.
Menurut Pramote Promin yang bertindak sebagai juru bicara aparat wilayah setempat, tujuan utama serangan tersebut adalah untuk menciptakan gangguan semata. ?Insiden tersebut dimaksudkan untuk menciptakan kekacauan. Mereka ingin merusak kredibilitas pemerintah dan menciptakan ketakutan di antara masyarakat,? paparnya kepada wartawan Reuters.
Belum diketahui siapa pelaku serangan tersebut. Namun serangan ini diperkirakan ada kaitannya dengan penandatanganan konstitusi yang dilakukan oleh raja Thailand. Kebetulan dalam referendum mengenai naskah konstitusi tersebut, wilayah Thailand selatan yang berpenduduk mayoritas Muslim termasuk dalam wilayah dengan tingkat penolakan tertinggi.
Sejak tahun 2004, konflik yang berlangsung di Thailand selatan menewaskan lebih dari 6 ribu orang. Menurut Don Pathan yang fokus mengamati perkembangan konflik di Thailand selatan, insiden tersebut mungkin ada kaitannya dengan tewasnya 2 warga lokal akibat ditembak polisi pada minggu sebelumnya.
Pihak kepolisian mengklaim kalau penembakan terpaksa dilakukan karena 2 orang tadi melarikan diri sambil menembaki polisi ketika hendak dirazia.
