HarianBernas.com ? Masalah sampah menjadi makanan yang tak kunjung habis dibahas. Solusi untuk mengelola sampah seakan belum berakhir mencari titik terang. Volume sampah semakin hari semakin menggunung tidak diimbangi dengan pola perilaku mengurangi konsumsi. Ternyata sampah yang menjadi permasalahan di daratan merambah menjadi permasalahan baru di lautan.
Samudera Pasifik sekarang memiliki pulau mengerikan yang terbentuk akibat kumpulan sampah dari lautan yang menumpuk sekian lama dan semakin membesar membentuk pulau. Pernah kebayang bagaimana jika sampah menumpuk tanpa ada penanganan serius, lalu bagaimana jika sampah jadi pulau? Dilansir dari beberapa situs berikut info mengenai The Great Pacific Garbage Patch, yaitu:
1. The Great Pacific Garbage Patch
Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti tambalan sampah Samudera Pasifik. Tambahan sampah ini merupakan kumpulan sampah yang ada di lautan dan berkumpul menjadi satu. Karena kondisi yang bertambah setiap harinya menjadikan jumlahnya bertambah setiap tahun dan sekitar 46000 potong sampah plastik mengambang setiap mil dari laut. Hal ini membuat sebuah pulau sampah yang ada di lautan. Kebanyak sampah yang mengambang ini adalah sampah plastik yang tidak mudah untuk terurai.
2. Membentuk Pulau Di Perairan
Sampah dari penjuru dunia ini berkumpul di perairan Pasifik menyebabkan sampah seluas 1700 mil berada di tengah laut Pasifik Utara dan bergerak secara spiral searah jarum jam mengikuti arus laut. Pulau sampah ini juga terbagi menjadi dua bagian, bagian barat berada di perairan di antara Canada, Amerika Serikat dan Hawaii, sedangkan untuk wilayah perairan timur berada di daerah timur laut Jepang. Sampah-sampah dari Amerika membutuhkan waktu hingga 6 tahun untuk sampai di Pacific Garbage Patch, sedangkan sampah di daerah Jepang sampai sekitar 1 tahun untuk sampai ke Pacific Garbage Patch.
3. Berasal Dari Daratan
Sampah yang menumpuk di perairan diduga berasal dari aktivitas manusia dari daratan yang membuang sampah sembarangan. Bisa juga dari kapal-kapal laut yang membuang sampah di lautan lepas. Jika dipersentasekan sekitar 80% sumber sampah berasal dari daratan dan 20% dari kapal. 3000 orang yang berlayar dengan kapal pesiar menyebabkan 8 ton sampah setiap minggunya. Sampah juga bisa berasal dari sungai yang akhirnya mengalir mengikuti arus hingga ke laut dan dari laut terbawa arus hingga ke samudera dan menumpuk.
4. Penyebab Kematian Biota Laut
Banyak hewan dan mamalia yang mati karena mengonsumsi limbah sampah yang mencemari lautan. Banyak hewan yang menjadi cacat karena sampah terjebak pada tubuhnya. Lebih dari 100.000 mamalia laut seperti kura-kura laut, anjing laut, lumba-lumba, dan burung mati karena mengonsumsi plastik yang mereka kira makanan. Menurut penelitian, sebanyak 1,5 juta burung Albatros terkontaminasi sampah plastik dalam pencernaannya dan berdampak pada regenerasi burung ini. Banyak kasus juga burung Albatros mati karena makan sampah plastik. Selain burung Albatros, timbunan sampah ini menyebabkan polusi laut yang membuat organisme mikroskopik menjadi mengonsumsi polutan yang beracun. Organisme mikroskopik yang mengonsumsi polutan pada akhirnya dimangsa oleh biota laut yang lain ang membuat organisme lain menjadi ikut terkontaminasi.
5. Jenisnya Beraneka Ragam
Kumpulan sampah yang mengotori perairan ini terdiri dari berbagai macam seperti plastik berupa botol, kantong, stereofoam, kemasan makanan, sampah kimia, dan barang rongsokan seperti puing-puing material lainnya. Sampah ini terperangkap pada pusaran arus laut Pasifik Utara yang terletak di antara Hawaii dan California Amerika Serikat.
Secara tidak langsung, perilaku membuang sampah sembarangan akan membawa dampak kembali kepada kita. Kita tidka sadar bahwa ikan yang berasal dari laut mungkin bisa jadi sudah terkontaminasi dengan polutan dari limbah plastik dilautan. Ini hanya sebagian kecil sampah yang mungkin menumpuk di Samudera Pasifik, sampah dari daerah lain seperti Samudera Atlantik, Samudera Hindia, Laut Cina Selatan, Laut Merah dan perairan lain di seluruh dunia masih bisa menjadi ancaman yang berbahaya bagi kehidupan.
