HarianBernas.com – Operasi militer yang dilakukan oleh pasukan koalisi pimpinan AS turut membawa dampak negatif yang tidak diharapkan. Pentagon pada hari Sabtu (1/4/2017) mengumumkan kalau setidaknya 229 warga sipil di Irak dan Suriah tewas akibat serangan udara yang dilakukan pasukan koalisi sejak tahun 2014.
Serangan udara di Irak yang dilakukan pasukan koalisi pimpinan AS merupakan bagian dari kebijakan militer AS untuk membantu menumpas ISIS yang beroperasi di kedua negara tersebut. Pengumuman mengenai jumlah warga sipil tewas tersebut diterbitkan dalam laporan bulanan yang dirilis oleh lembaga pertahanan AS.
Laporan yang sama sekaligus menjadi laporan pertama Pentagon terkait operasi militernya di Irak dan Suriah sejak Donald Trump mulai menjabat sebagai presiden AS. Semasam aktif berkampanye menjelang pilpres, Trump pernah berkata kalau ia menjadikan pemberantasan ISIS di Timur Tengah sebagai prioritasnya.
Pentagon dalam laporan yang sama juga menyatakan penyesalannya atas timbulnya korban tewas dari kalangan warga sipil. Namun Jenderal Joseph Votel menegaskan kalau metode yang selama ini digunakan dalam serangan udara di Irak tidak akan mengalami perubahan.
Selama tiga tahun terakhir, ISIS yang awalnya perkasa di Irak mengalami penyusutan wilayah secara signifikan. Kota Mosul yang awalnya dikuasai secara penuh oleh ISIS sejak pertengahan tahun 2014 sekarang hanya bagian baratnya yang masih dikuasai oleh ISIS. Jika ISIS sampai kehilangan Mosul, maka tidak ada lagi kota besar di Irak yang masih berada di bawah kendali kelompok militan tersebut.
