YOGYAKARTA, HarianBernas.com – Kerukunan, kekompokan dan perasaan senasib yang mewujud dalam solidaritas mampu mengalahkan keangkaramurkaan. Dengan solidaritas yang kuat, akhirnya, tawon-tawon madu mampu mengalahkan tawon tanah yang bertubuh besar, kuat dan gemar memutilasi dan memangsa korban. Caranya dengan menindih tawon tanah, hingga kehabisan nafas dan mati.
Itulah pesan moral tari ?Ngentub? karya koreografer Gita Gilang yang digelar di Societet Taman Budaya Yogyakarta (18/5). Melibatkan sekitar 50 penari, pergelaran sepanjang 55 menit ini mampu memukau penonton yang memadati gedung. Acara ini menjadi bagian dari program pergelaran seni eksperimentasi yang diselenggarakan TBY.
Pementasan dibuka dengan tarian pencari rumput yang dibawakan Gita Gilang. Ketika tokoh itu hendak membabat rumput di dekat gundukan tanah, mendadak ia disengat tawon tanah. Racun tawon itu sangat ganas, hingga dalam waktu sekejap, sang pencari rumput itu pun tewas.
?Itulah lukisan kematian Pak De saya yang wafat tahun 2005. Sebagai bentuk penghormatan, kematian beliau saya jadikan inspirasi tari ?Ngentub?,? ujar Gita Gilang membuka pertunjukan.
Dalam balutan cahaya yang digarap penata lampu Edo Nurcahyo, adegan demi adegan mengalir secara dinamis. Dimulai dari ?jejeran? tawon-tawon madu dewasa yang marah karena diganggu para para lelaki perusak hutan. Suasana semakin mencekam ketika muncul tawon tanah. Dengan menggunakan teknik sling, tawon itu diangkat tinggi-tinggi, lalu terbang dan hinggap di level bawah. Di situ, tawon tanah mengamuk, membunuh para perusak hutan. Puncaknya adalah ketika tawon tanah membunuh tawon-tawon kecil dan memakannya. Ini membuat kawawan tawon madu murka. Dipimpin ratu tawon, mereka melawan tawon tanah dan berhasil mengalahkannya.
?Tarian ini merupakan pencapaian Gita Gilang secara estetik dan tematik yang cukup penting. Dia mampu mengolah persoalan dunia tawon dengan sangat menarik dan menyentuh. Gerakan-gerakan kompak atau bergaya rampak menjadikan tarian ini enak ditonton. Tentu juga karena dukungan komposisi tarian, suasana dramatis dan iramanya yang dinamis,?ujar Indra Tranggono, yang menjadi nara sumber program pergelaran tari eksperimentasi.
Nara sumber lain, Dr Sumaryono MA mengatakan, Gita Gilang relatif berhasil di dalam menyajikan tontonan yang menarik dan menghibur. Tarian ini cukup komunikatif, renyah, dan menampilkan unsur-usur humor segar, khas Gita Gilang.
?Pertunjukan mengalir lancar. Penonton beberapa kali tertawa melihat adegan yang menggelitik dan lucu,? ujar Sumaryono, dosen ISI Jurusan Tari itu. Sumaryono cukup terkesan dengan keunikan kostum berupa tubuh tawon. Adapun untuk penari, ia sangat terkesan dengan penampilan Hari yang mampu menampilkan karakter ganas tawon tanah. Selain itu, musik yang digarap Fajar Chotit, dinilai pakar tari itu, cukup berhasil mendukung suasana pertunjukan.
Kepala TBY Drs Dyah Tetuka Suryandaru menyambut baik tari garapan Gita Gilang. ?Saya berharap, tarian ini mampu memberi inspirasi bagi para penari, pencipta tari dan masyarakat,? ujarnya.
Gita Gilang mengatakan lebih memilih tema sederhana dalam menggarap tarian. ?Tema yang kita akrabi lebih mudah untuk digarap. Untuk tarian ?Ngentub?, saya telah melakukan studi tentang dunia tawon, dalam waktu cukup panjang. Bahkan ide itu sudah menjadi obsesi kreatif saya sejak lama,?ujar Gita yang telah tampil menari dan mengajar tari di berbagai negara baik Asia maupun Eropa.
Penulis : Indra Tranggono, Pengamat Budaya
