Bernas.id – Satu lagi terjadi kerusuhan usai pertandingan sepakbola, yang menewaskan satu orang suporter. Kali ini dalam laga Liga 2 antara Persita Tangerang melawan PSMS Medan yang dihelat di stadion Mini Persikabo Bogor pada hari Rabu, 11 Oktober 2017 silam. Selain korban tewas yang bernama Banu Rusman (17 Tahun) yang belakangan diketahui berasal dari suporter Persita Tangerang, tercatat 17 orang lain luka-luka. Kejadian ini dilatarbelakangi rasa tidak puas suporter Persita Tangerang yang turun ke lapangan usai pertandingan karena timnya mengalami kekalahan 1-0 dari tim tamu PSMS Medan yang mendapat dukungan dari satuan Divisi 1 Kostrad Cilodong.
Tak ayal kejadian ini menambah daftar panjang catatan buruk keamanan pertandingan sepakbola di Indonesia. Sebut saja bentrok antara aremania sebutan untuk suporter arema dan bonek sebutan suporter persebaya yang menewaskan dua orang aremania tahun 2015 silam. Atau tragedi kematian lima orang suporter persebaya (bonek) diawal tahun 2012 akibat diserang lemparan batu suporter Persela Lamongan ketika korban berada di atas kereta api.
Sepakbola adalah ??bahasa universal?? karena ada banyak pihak yang terlibat dalam cabang olahraga ini, mulai dari pemain, pengamat, suporter, otoritas penyelenggara kompetisi, federasi, dan pemerintah. Dari berbagai pihak tersebut, suporter mungkin yang paling banyak jumlahnya. Sepakbola bisa dinikmati oleh siapa saja, tidak dibatasi oleh usia, gender, status sosial dan tingkat ekonomi. Mereka berasal dari berbagai kalangan dari berbagai elemen masyarakat. Tua muda, laki-laki atau perempuan, rakyat sipil atau para pejabat, orang miskin sampai konglomerat menyukai sepakbola.
Suporter disebut-sebut sebagai pemain ke 12. Mereka yang menyaksikan langsung bisa menjadi pelecut semangat para pemain untuk mencetak gol. Tetapi mereka juga bisa menjadi mala petaka ketika tidak dapat menguasai diri, menahan rasa kecewa menyaksikan tim pujaan harus tunduk dihadapan tim lawan sehingga memantik kerusuhan hingga menimbulkan korban jiwa.
Suporter disebut juga pendukung, penikmat, dengan kata lain pencinta. Maka layaknya seorang pencinta sudah seharusnya memberikan sikap positif pada apa yang dicintainya. Bukan hanya para pemain yang dituntut memiliki jiwa patriotis, pantang menyerah, pekerja keras, dan sportif. Suporter sepakbola pun harus memiliki sifat-sifat demikian. Memiliki jiwa patriot dengan tetap memberi dukungan meskipun tim pujaan mengalami kekalahan. Sanggup menahan amarah menyaksikan suporter lawan bersorak sorai merayakan kemenangannya.
Suporter sportif, siap merayakan kemenangan dan siap menanggung kekalahan. Menjunjung keluhuran budi daripada mengumbar emosi. Bukankah rumus mutlak dalam sebuah pertandingan adalah menang dan kalah? Yang menang tidak jumawa dan yang kalah pun tidak putus asa. Hal itu yang seharusnya terpatri dalam tiap-tiap hati seorang suporter (fanatik apalagi). So just keep calm and take is easy.
Pertandingan sepakbola mestinya dapat dinikmati sebagai hiburan. Ya, hiburan yang dapat menyenangkan, membuat kondisi fisik dan psikis segar kembali. Sebagai “bahasa universal”, sepakbola juga seharusnya dapat menghubungkan jutaan orang dari pelosok negeri, menambah persaudaraan, mengeratkan persatuan dan kesatuan bangsa. Bukan sebaliknya memercik permusuhan, meretakan persaudaraan, hingga korban berjatuhan. Hal ini dikarenakan pertandingan yang berubah jadi gelanggang adu jotos, adu lempar, akibat ternoda aksi bar bar para oknum suporter yang tidak waras.
