Bernas.id ? Di usia-usia produktif, manusia cenderung mengalami stres akibat kepadatan aktivitas pekerjaan. Masa-masa pada usia di atas 20 tahun dan di bawah 60 tahun, memang merupakan masa tertinggi hormon. Sehingga, manusia cenderung menggebu-gebu dalam segala aktivitasnya, begitu pula pikiran yang terus bekerja.
Kita yang sekarang ini sedang dalam masa produktif, sesekali perlu mengistirahatkan rutinitas. Rekreasi pikiran tidak harus ke suatu tempat wisata yang tentunya butuh biaya, yang ada kadang justru membuat kita semakin stres karena memikirkan dana liburan. Padahal, liburan bisa kita lakukan di manapun, di rumah, di jalan, di halte ketika menunggu angkutan, dan lain-lain. Jadi liburan apa yang dimaksud di sini? Adalah liburan berinteraksi.
Cobalah kita sering-sering berinteraksi dengan orang-orang yang usianya terpaut jauh dengan kita, yakni anak-anak dan orang tua. Maka, kita tentu bisa merasakan berbagai keuntungan berikut:
1. Lebih Optimis
Dari segi persepsi anak-anak, dunia ini tentang apa yang dilihatnya saja. Anak-anak itu sederhana, jika menginginkan sesuatu, sebatas yang kasat mata. Anak-anak belum mengerti tentang keinginan yang tidak akan tergapai. Mereka yakin, suatu saat nanti ketika sudah besar, bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Sedangkan orang tua, memiliki keoptimisan lebih kepada Sang Pencipta. Mereka selalu ingat, bahwa segala sesuatu harus digapai dengan doa dan tawakal yang kuat. Karena orang tua sudah melalui masa mudanya, sudah mengalami banyak kegagalan dalam hidupnya. Maka, di masa tua, mereka begitu kuat menggantungkan harapan pada Sang Pencipta dengan penuh keoptimisan. Bagi orang tua, jika sudah diserahkan kepada Tuhan, tentu tidak ada yang tak mungkin. Cenderung berbeda dengan orang yang masih muda, lebih banyak menggunakan tenaganya sendiri dalam menggapai sesuatu.
2. Menyederhanakan Pikiran
Anak-anak itu sangat sederhana. Memang mereka memiliki daya imajinasi yang tinggi, tapi dalam menyikapi suatu masalah, penyelesaiannya sangat mudah. Misalkan mereka bertengkar dengan kawan sepermainannya, belum ada lima menit sudah baikan lagi. Melupakan masalah yang terjadi, lalu kembali bermain bersama lagi dan tidak berlarut-larut bertengkar.
Begitu pula dengan orang tua, sudah saking banyaknya mereka menghadapi masalah semasa hidupnya, akhirnya membawa mereka menemukan pola muara akhir masalah itu sendiri. Tapi tidak semua orang tua berpikir seperti itu, ada pula sebagian orang tua yang justru banyak pikiran rumit di masa tuanya.
3. Banyak Bersyukur
Lihatlah anak-anak yang senantiasa bersyukur menjalani kehidupannya. Semakin muda umurnya, semakin sedikit keluhan yang keluar dari mulutnya. Anak kecil itu jarang mengeluh, yang ada menangis. Beda dengan kita, yang sedikit-sedikit mengeluh dan merasa keberatan dengan tugas kita.
Orang tua juga begitu, malah lebih lagi banyak syukurnya. Orang tua sering mengatakan, bahwa hidup ini haruslah disyukuri. Mereka mengingat telah banyak sekali nikmat yang sudah diperoleh selama hidupnya. Jadi, pada masa tua mengingat apa saja yang diperoleh sejak muda, membuat orang tua akan bersyukur.
Nah, kita bisa banyak belajar dari kehidupan anak-anak dan orang tua di sekitar kita. Perbanyaklah berinteraksi dengan mereka. Sesekali, pandanglah dunia ini sejajar dengan pemikiran mereka. Dan, sekali wakrtu perlu menurunkan ambisi untuk mengingat bahwa kita hanyalah manusia dengan kemampuan terbatas.
