Bernas.id – Memasuki abad 21, zaman di saat seluruh aspek kehidupan kita bahkan separuh dari pekerjaan yang ada saat ini akan digantikan oleh peralatan digital, maka tentunya kita pun harus membekali dan mendidik anak hingga mereka tidak hanya akan gigit jari dan bisa bersaing di dunia digital. Dari sekian kemampuan yang harus kita bekali adalah kemampuan matematika yang aplikasinya hampir ada di semua lini profesi. Selain berhitung, ada beberapa kemampuan matematika berikut yang bisa mulai dibekali sejak usia dini dan dilakukan oleh orang tua di rumah.
1. Number Sense atau Kepekaan Angka
Kemampuan matematis yang berhubungan dengan angka adalah kemampuan anak berhitung mental, mengetahui nilai besaran angka, dan mengetahui arti angka di semua aplikasi, seperti untuk ukuran, nilai uang, dan besaran waktu. Di rumah, orang tua bisa mulai membiasakan anak untuk mengetahui mana angka yang nilainya kecil atau besar. Anak bisa membedakan arti angka kecil itu berarti dapat jumlah yang sedikit serta sebaliknya. Cara paling mudah untuk mengajarkan kepekaan angka adalah dengan sering mengajak berbelanja, karena anak akan belajar berbagai bentuk angka yang dipakai menjadi harga barang dengan tanda rupiah, menjadi berat buah, atau dalam bentuk persen untuk diskon.
2. Visualisasi
Visualisasi merupakan satu kemampuan matematis yang sangat penting karena banyak aplikasi matematika yang membutuhkan penjabaran visual dalam bentuk diagram maupun simbol-simbol. Mengembangkan kemampuan visualisasi, tidak hanya untuk pembelajaran geometri saja, tetapi kita mengajarkan anak mengubah cerita menjadi diagram atau pemodelan. Contohnya, bila kita ingin menghitung perkalian 5 x 10 maka kita minta mereka visualisasikan 5 keranjang yang berisi 10 apel di setiap keranjang, sehingga total apel adalah 50. Mengapa visualisasi ini sangat penting? Karena dengan visualisasi, otak kita bisa menggambarkan lebih dari yang terlihat oleh mata.
3. Mengenal dan Membuat Pola
Banyak kejadian dan pergerakan dalam dunia ini yang membentuk pola yang teratur. Aktivitas manusia yang terlihat acak, ternyata setelah diamati sebenarnya memiliki pola yang sama. Kemampuan mengenal dan membuat pola menjadi penting bagi perkembangan kognisi anak sehingga mereka menjadi lebih peka terhadap apa yang terjadi di lingkungannya. Cara sederhana mengenal dan membuat pola bisa dengan mengamati kalender, menjajarkan balok kayu, atau dengan mengumpulkan gambar binatang dan meminta anak untuk mencari perbedaan dan persamaan. Bisa juga dengan mengamati satu kelompok dan memilih adakah dari kelompok tersebut yang beda dengan yang lain.
4. Metakognisi
Metakognisi merupakan kemampuan untuk mengetahui bila kita melakukan kesalahan atau error serta bisa mengevaluasi dan mencari jalan keluar dan mendapatkan penyelesaian yang tepat. Sebagai orang tua, kita inginnya membantu anak kita dengan memberi tahu kesalahan mereka berharap semoga mereka tidak lagi mengulanginya. Namun, ternyata kemampuan metakognisi anak bisa tidak terasah bila kita terlalu sering mengoreksi karena anak menyerahkan kemampuan itu pada orang tua. Sehingga akhirnya, hal ini akan berefek pada perilakunya, dimana anak tidak akan paham dia berbuat salah karena kemampuan metakognisinya tidak berkembang. Saat anak mengerjakan PR matematika, tahan keinginan untuk mengoreksi dengan meminta anak melihat perhitungan mereka dan bila mereka tidak bisa melihat kesalahannya, minta untuk memeriksa dan berhitung sekali lagi tanpa mengatakan hasil perhitungannya belum tepat.
5. Komunikasi
Matematika tidak saja tentang kemampuan berhitung, tetapi juga kemampuan untuk menyampaikan konsep maupun langkah-langkah perhitungan matematis secara oral maupun tertulis. Contohnya bila kita bertanya kepada anak apa yang mereka tahu tentang segitiga, maka mereka bisa menjelaskan bahwa segitiga adalah bidang datar dengan tiga titik sudut, yang dihubungkan oleh tiga sisi, yang membentuk tiga sudut, dengan jumlah total besaran sudut adalah seratus delapan puluh derajad. Untuk membuat anak bisa berkomunikasi dalam bahasa matematis memerlukan pembiasaan, dengan sering mengajak anak melakukan observasi dan diskusi tentang konsep matematika yang mereka temui.
