Bernas.id – Program TEDx yang diprakarsai oleh Richard S. Wurman di tahun 1984 dan diteruskan oleh Chris Anderson di bawah naungan Sapling Foundation di tahun 2000, merupakan program konferensi berbasis TED (teknologi, entertainmen dan desain) dan disebarkan dengan motto “ideas worth sharing” atau “ide-ide layak disebarkan”. Wurman dan Anderson memiliki pemikiran yang sama bahwa setiap orang pasti memiliki ide yang layak untuk dibagikan ke masyarakat. Sejak saat itu, sudah ratusan video konferensi TED diunggah dan disebarkan.
Kelas Abad 21 merupakan kelas yang tidak saja menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran, dari teknologi komputer, multimedia (video dan audio), hingga internet dan aplikasi berbasis web. Tidak saja menggunakan teknologi, tetapi kelas abad 21 juga memastikan teknologi tersebut bisa membantu siswa aktif menimba ilmu dan bertanggungjawab atas ilmu yang didapatnya. TEDx menjawab kebutuhan kelas abad 21 ini dengan membentuk TED Education atau TED ED, yaitu platform berbasis web tempat di mana guru bisa mengakses video TEDx ataupun video Youtube untuk digunakan sebagai materi belajar. Dari video tersebut, guru bisa sekaligus memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menguji pemahaman siswa serta membentuk diskusi untuk pendalaman lebih lanjut.
Desain platform TED Ed cukup sederhana sehingga mudah untuk di akses di laptop, tablet maupun gawai pintar lainnya. Dengan pelayanan tanpa berbayar, guru bisa mendaftar di TED Ed, validasi email, dan bisa langsung membuat materi belajar. Bahkan, bila masih bingung membuat materi, guru bisa mengambil materi belajar yang sudah terunggah oleh guru lain dan memodifikasi sesuai kebutuhan.
Materi belajar berupa video TEDx atau Youtube yang harus ditonton oleh siswa. Video yang dikaitkan boleh penuh atau sebagian karena tersedia fasilitas menyunting video menjadi lebih singkat. Pilihan video disarankan sesuai dengan tema pembelajaran dan dengan durasi tidak lebih dari 45 menit.
Setelah menonton video, siswa akan diminta untuk melampaui tiga tahap. Tahap pertama adalah “Think” di mana guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menguji pemahaman siswa tentang video yang telah dilihat. Pertanyaan bisa berupa pilihan ganda atau pertanyaan terbuka. Setelah itu, tahap kedua adalah “Dig Deeper” di mana siswa akan mendapat referensi lanjutan tentang topik yang dibahas, bisa berupa tautan ke laman web. Tahap ketiga adalah laman “Discussion” di mana guru akan memberikan pertanyaan terbuka untuk didiskusikan bersama teman. Di tahap akhir “And Finally”, guru dapat meminta siswa untuk membuat korelasi antara ilmu yang didapat dengan terapannya atau membuat kesimpulan. Sehingga diharapkan kegiatan ini akan membuat siswa tertarik daripada sekedar memberi tugas menonton video dan membuat rangkuman.
Menurut Mahrukh Bashir, Certified TED-Ed Innovative Educator di Indonesia, menyatakan bahwa dengan platform TED Ed, guru bisa memberikan kegiatan yang memberikan arti dari sekedar menyuruh menonton video dan mendidik siswa berpikir kritis dan bertanggung jawab atas ilmu yang didapat. Beliau juga menambahkan bahwa untuk pembelajaran berbasis teknologi, guru harus selalu memastikan bahwa pertanyaan dan diskusi sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin diraih.
