Bernas.id ? Gonjang-ganjing kata ?pribumi? saat ini tengah melanda DKI dan viral hingga ke negeri tetangga. Gubernur yang baru dilantik langsung digoyang dengan isu SARA terkait pribumi dan non pribumi. Walaupun mungkin bukan seperti itu maksud hati Anies Baswedan.
Jakarta, tempat terindah dengan pemandangan banyak gedung menjulang tinggi dan kerlap-kerlip lampu di malam hari. Ramai dengan lalu lalang kendaraan di jalan tanah, di atas aspal jalan layang hingga di jalan tol. Berbagai kesibukan aktivitas manusia dari pagi hingga pagi lagi. Kota yang selalu hidup 24 jam.
Sejak dulu, Jakarta menjadi tujuan mengadu nasib para pekerja, surganya para perantau. Mereka datang dari berbagai pelosok negeri dengan anggapan di Jakarta banyak uang. Jika bicara tentang kata ?pribumi?, maka para perantau itu jelas bukan pribumi Jakarta. Karena menurut KBBI, kata ?pribumi? memiliki arti penghuni asli, atau orang yang berasal dari tempat yang bersangkutan.
Kita semua satu bangsa, yaitu Bangsa Indonesia. Revolusi mental sedang berproses saat ini dan kita setuju jika karakter bangsa ini wajib diperbaiki. Sekali lagi, karakter bangsa ini wajib diperbaiki. Termasuk kita, baik yang bereaksi positif atau negatif, atau para jurnalis yang ikut andil melalui media sosial hingga viral ke negara tetangga. Apa nggak mempermalukan bangsa kita sendiri tuh namanya?
Revolusi mental harus berjalan agar bangsa Indonesia selalu berpikir jernih, positif thinking, dan bijak dalam menyikapi keadaan. Masih banyak hal yang perlu dibenahi dan itu wajib kita perjuangkan. Kalau hanya ribut masalah satu kata ?pribumi?, kapan mereka akan bicarakan solusi Jakarta? Pembenahan karakter bangsa harus menjadi kunci program pasangan Gubernur-Wakil Gubernur DKI yang baru. Harus! Agar mereka bisa melihat keindahan Jakarta.
Orang bermental positif akan memiliki visi pandangan kejayaan masa depan bangsa dan negara. Jakarta memang indah bagi yang berpikir positif. Namun bagi orang bermental negatif akan menilai Jakarta itu sumpek, panas, banjir, kumuh, macet, polusi. Hingga satu kata saja, ?pribumi?, dipermasalahkan.
Marilah kita duduk bersama membangun Jakarta! Karena membangun Jakarta juga berarti membangun Indonesia. Lebih spesifik lagi, Prof. Gunawan Sumodiningrat, Ph.D dan Ari Wulandari, S.S.,M.A. menulis buku ?Membangun Indonesia Dari Desa?. Gagasan-gagasan strategis mengenai pemberdayaan potensi desa sebagai kunci kesuksesan pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pikirkan saja bagaimana langkah-langkah pembangunan! Agar Indonesia kembali berjaya sebagaimana Nusantara di zaman Patih Gajahmada, zaman Kerajaan Majapahit.
Revolusi mental harus bisa memperbaiki karakter bangsa dan hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Mari kita lakukan!
