Hubungan Pribumi dan Kegalauan Pilkada DKI
Bernas.id – Tentu saja kita pernah mengucapkannya baik di sekolah atau bahkan di kegiatan lain yang tanpa kita sengaja pernah mengucapkannya . Namun berbeda jika kita menyampaikannya saat pidato ketika pelantikan pejabat publik seperti yang telah dilakukan saat pelantikan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Perihal pernyataannya saat berpidato menyebut istilah kata pribumi, beberapa oknum yang tidak terima lantas melaporkan hal itu ke Polda Metrojaya. Penggunaan kata pribumi tersebut dirasa melanggar perundang-undangan yang ada.
Namun apabila penggunaan kata pribumi diartikan seenaknya sendiri maka kita patut risau atas penggunaannya seperti yang pernah di sampaikan oleh Donald Trump. Tetapi akan salah jika menganggap hal ini muncul sebagai empati kita terhadap mereka yang bukan pribumi. Sebenarnya, di hadapan dunia yang bukan milik kita, tidak ada satupun yang asli pribumi di dunia ini. Namun di mata dunia, kita adalah penduduk bumi yang memiliki tugas untuk menjaga dan melestarikan bumi kita agar tetap utuh. saling menghormati satu sama lain , saling mengasihi seperti menyantuni anak yatim tanpa pandang bulu dan golongan serta orang orang yang membutuhkan uluran tangan kita.
Kita bukan bangsa seberang, di mana mereka membedakan antara bumi putra dan bukan bumi putra. Kita bukan kerajaan yang jauh entah berantah yang menilai seseorang dari asalnya. Kita adalah bangsa yang menilai seseorang lebih pada kesamaan kehendak, berkontribusi aktif serta memiliki tujuan yang sama. Itulah sebab nya dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya kita berbicara soal 'Disanalah kami berdiri' bukan 'Disinilah kami berdiri'. Itulah salah satu sebab Sumpah Pemuda kita untuk 'Bertumpah darah satu', bukan sebagai 'sekumpulan warga sedarah yang bersatu'.
Dalam kaitannya, berbicara kepribumian sesungguhnya menjauhkan kita dari esensi yang ingin kita capai. Kita adalah bangsa yang muncul sebagai antitesis pendekatan rasial pemerintah kolonial bukan bangsa yang diharapkan muncul sebagai penerus pendekatan rasialnya. Seperti yang diajarkan kolonialisme tentang betapa berbahayanya pendekatan rasial pada umumnya.
Semoga persoalan yang ada tentang pribumi yang diidentifikasi lanjutan dari kasus pilkada tidak terlalu dibesarbesarkan karena pilkada sudah usai. Semoga kepemimpinan yang sekarang bisa lebih baik lagi dan amanah.
