Bernas.id ? Mengapa perlu belajar berkata 'tidak'? Bagi sebagian orang mungkin ini hal yang mudah. Tetapi bagi orang yang memiliki rasa pekewuh untuk mengucapkan kata yang hanya terdiri dari satu kata ini sangatlah sulit. Contohnya ketika disuruh oleh atasan. Pasti dalam pikiran kita akan berkali-kali mencari satu kata TIDAK kemudian yang keluar dari mulut kita malah kata IYA. Setelah mengiyakan kemudian di belakang atasan akan mengeluarkan seribu kata keluhan. Itulah susahnya mengatakan 'tidak'.
Tujuan mengatakan 'tidak' adalah agar diri kita ini bisa melakukan segala sesuatu dengan ikhlas. Segala sesuatu jika dilakukan dengan ikhlas bukankah lebih menyenangkan? Walaupun yang berharap agar kita mengatakan iya merasa kecewa. Coba saja kita bisa mengatakan tidak dengan mudahnya seperti ketika kita sedang berpuasa kemudian teman menawari untuk makan. Tentu dengan sigap tanpa banyak berpikir panjang akan mengatakan 'tidak'.
'Tidak'. Sebagai Gambaran Karakter Yang Kuat
Hakikatnya membiasakan diri untuk berkata 'tidak' adalah agar mempunyai pendirian yang kuat dan menjadi seseorang yang berkarakter. Seorang atasan akan mudah mengatakan 'tidak', ketika karyawan meminta untuk membaca proposalnya dengan alasan sibuk, ada meeting atau bahkan tanpa alasan. Seorang atasan bisa dipercayakan dengan posisinya karena memiliki karakter yang kuat.
Coba dibiasakan sejak dini, sejak masih duduk di bangku sekolah. Agar siswa mampu berkata 'tidak' ketika diminta atau ditawari jawaban saat ulangan oleh temannya. Tidak dipungkiri ketika ulangan berlangsung membagi jawaban ulangan pada temannya merupakan hal yang biasa terjadi. Apabila tidak ketahuan oleh pengawasnya. Jika hal itu tidak membudaya tentunya banyak generasi muda akan memiliki karakter yang kuat.
'Tidak' Sebagai Bentuk Rasa Percaya Diri
Mampu berkata 'tidak' pun berkaitan dengan kepercayaan diri seseorang. Ketika di depan atasan merasa pekewuh untuk berkata 'tidak', sedangkan teman yang lain serempak mengatakan 'iya'. Seketika akan merasa minder atau bahkan takut kena tegur dari atasan. Padahal belum tentu ketika mengatakan 'tidak' akan benar-benar mendapatkan teguran. Barangkali ketika mengatakan 'tidak' maka akan mendapatkan apresiasi tersendiri dari atasan. Mengedepankan rasa pekewuh dengan berkata 'iya' agar seragam dengan teman lainnya memang bukan hal yang buruk. Akan menjadi buruk apabila 'iya' yang dikatakan karena keterpaksaan atau bukan berasal dari hati kita.
Berbeda dengan teman lainnya memang terkadang terasa aneh. Oleh karena itu, belakangan ini di kalangan generasi muda terdapat istilah hits. Segala sesuatu yang dikatakan hits, maka akan memiliki banyak followers. Budaya ikut-ikutan memang tidak semuanya buruk. Ketika gerakan literasi bisa dijadikan trending dan memiliki banyak followers bukankah itu hal yang baik?
Ingin berkata IYA atau pun TIDAK sebenarnya sah-sah saja. Disesuaikan dengan konteksnya dan kebutuhan masing-masing pribadi, ditimbang baik buruknya. Bagian terpentingnya adalah jangan takut untuk mengatakan 'tidak', jika pilihan itu memang berbeda namun baik untuk diri sendiri. Mengapa ragu? Seorang pemimpin harus berani berkata 'tidak', dengan keputusan yang diambil dan segala resiko yang akan di hadapi.
