Bernas.id – Mendidik anak zaman sekarang memang tidak semudah zaman dahulu. Banyak tantangan menghadang yang harus dihadapai. Membutuhkan banyak seni atau metode untuk menghadapinya. Jika orang tua minim metode pengasuhan dan hanya mengandalkan pengalaman yang didapat dari orang tua mereka zaman dahulu, maka gesekan-gesekan akan sering terjadi antara orang tua dengan anak. Jika gesekan tersebut dibiarkan dan tidak segera dicari solusi yang tepat, maka timbullah perselisihan. Orang tua menyalahkan anak karena dianggap bandel dan tidak patuh. Sementara anak menganggap orang tua sebagai orang yang egois, sok paling benar, dan jadul.
Lalu, bagaimana jika sudah timbul perselisihan antara orang tua dengan anak? Apa saja yang bisa orang tua lakukan?
Tidak dipungkiri, bahwa adanya berbagai permasalahan dalam pengasuhan membuat banyak pemerhati pendidikan dan keluarga bekerja keras untuk menemukan sebuah metode yang tepat dalam hal pengasuhan. Nah, saat ini saya akan berbagi sebuah metode terapi yang insya Allah bisa membantu Ayah dan Bunda dalam menangani anak-anak yang 'bermasalah'. Nama meode ini adalah Biblioterapi. Adapun terapisnya disebut dengan biblioterapis.
Apa sih biblioterapi itu?
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terapi berarti usaha untuk memulihkan orang yang sedang sakit, pengobatan penyakit, perawatan penyakit. Dalam KBBI, terdapat beberapa contoh kata yang sepadan dengan kata terapi, antara lain terapi bahasa, terapi bermain, terapi gizi, terapi kimiawi, terapi musik. Meski dalam KBBI tidak tercantum terapi buku, terapi qisah, maupun terapi membaca, namun bisa diambil esensinya yaitu sebuah terapi yang mengacu pada buku dan qisah. Lebih mudahnya bahwa biblioterapi merupakan seni berkomunikasi yang mengelaborasikan bahasa, perumpamaan visual, keterlibatan emosi, empati dan penggunaan buku.
Bagaimana cara melakukan biblioterapi?
Ada lima fase dalam terapi ini yang harus dilalui, sebagai berikut:
1. Fase pertama
Pada fase ini biblioterapis terlibat komunikasi dengan klien untuk menumbuhkan kepercayaan dan rasa nyaman. Setelah terjalin komunikasi akrab, klien mulai bercerita tentang yang ia alami.
2. Fase kedua
Pada fase ini mulai muncul kesadaran klien. Klien mulai menggali emosi dan mulai mampu menangani penyimpangan yang selama ini telah ia lakukan. Biasanya saat bercerita, klien akan menangis. Biblioterapis terus menggali dan mengidentifikasi isu secara detail.
3. Fase ketiga
Pada fase ini biblioterapis membangun kembali dan mereduksi cerita yang disukai anak, tujuannya untuk mendongkrak persepsi diri dari sang klien. Hal ini dilakukan dalam bentuk membaca, teater, puisi, menggambar, mewarnai, dan lain-lain. Dalam fase ini juga klien mulai mengembangkan cara pandangnya dan pendapat tentang dirinya.
4. Fase keempat
Di fase ini antara biblioterapis dan klien terjadi pertentangan pada pemikiran. Mulai memilih dan memilah pemikiran yang tidak berguna. Di fase ini juga terjadi proses berpikir yang menghasilkan perubahan perilaku pada klien. Klien mulai meyakini bahwa selama ini yang ia lakukan merusak dirinya. Setelah sadar ia mulai mencoba mencari pilihan dan alternatif perilaku yang lebih baik dan bermafaat.
5. Fase kelima
Pada fase ini biblioterapis mendapati perubahan perilaku baru pada klien. Klien sudah mampu beradaptasi dengan perilaku barunya yang diperoleh melalui sumber bacaan baik fiksi maupun non fiksi.
