Bernas.id – Pendidikan adalah serangkaian proses belajar yang harus dilalui oleh setiap insan. Sebagian besar orang berpikir dan memiliki keyakinan bahwa dengan memiliki pendidikan tinggi maka kesejahteraan hidup seseoang akan meningkat sehingga harapannya kesejahteraan keluarga menjadi terjunjung tinggi pula. Semua orang tentunya akan berjibaku untuk meningkatkan taraf hidup dirinya dan keluarganya. Banyak orang rela merantau dan meninggalkan sanak keluarga untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Sebagai syarat bagi bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi dan menjadi kebanggaan masuk sekolah favorit adalah dengan memiliki nilai bagus. Seseorang dengan nilai tinggi akan berpeluang lebih besar untuk memperoleh pendidikan di sekolah yang diinginkannya.
Tolak ukur keberhasilan seseorang dalam belajar yang masih banyak diyakini adalah nilai. Ya, kemampuan belajar seseorang ternilai dengan angka yang tertera pada lembaran kertas di rapor atau ijasah. Jika angka yang diperoleh tinggi maka seseorang akan memperoleh predikat pandai begitu juga dengan sebaliknya..
Sistem pendidikan di negara kita setiap saat selalu dikaji dan dikembangkan. Semua itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan itu sendiri. Sekolah-sekolah pada umumnya menerapkan aturan yang sudah dirancang oleh pemerintah pusat salah satunya adalah dengan fullday school. Menghabiskan waktunya untuk belajar di sekolah lebih lama daripada mereka menghabiskan waktu dengan percuma di lingkungan luar sekolah. Meskipun sebenarnya penerapan fullday school banyak menuai pro dan kontra dari berbagai pihak.
Orang tua akan memiliki kebanggaan tersendiri jika melihat putra-putri mereka menjadi anak yang berprestasi. Para orang tua rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menyekolahkan anaknya di sekolah yang bonafit. Sebagian besar siswa juga harus mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah guna menambah pengetahuan.
Rutinitas yang terlalu padat bagi anak sangat berpengaruh pada psikologis. Apalagi ketika anak tidak sepenuh hati melakukan rutinitas tersebut alias terpaksa dapat menjadi bumerang bagi diri anak. Ironisnya rutinitas tersebut mulai berkembang pesat di kalangan masyarakat. Mulai dari jenjang pendidikan TK hingga jenjang yang lebih tinggi lagi. Anak masa bermain harus merasa kehilangan masa untuk bermain bersama rekan-rekannya. Adapun dampak dari semua itu yaitu:
1. Berkurangnya kebahagiaan anak
Bermain adalah suatu kegiatan yang menyenangkan bagi setiap anak. Dengan bermain anak dapat memperoleh kebahagiaan dan dapat menghilangkan segala kepenatan. Namun karena aktivitas pendidikan baik formal maupun non formal yang berlangsung dari pagi hingga sore bahkan malam hari membuat anak jadi kehilangan masa untuk bermain. Akibatnya hilang pula sedikit kebahagiaan pada anak.
2. Kurangnya kebersamaan bersama keluarga
Aktivitas padat yang dilakukan anak serta orang tua yang juga beraktivitas padat pula menyebabkan kurangnya waktu untuk bersama keluarga. Apalagi jika momen kumpul antar anggota keluarga yang sebentar itu tidak dimanfaatkan dengan baik untuk menghangatkan suasana keluarga, maka yang terjadi adalah kerenggangan hubungan antar anggota keluarga terutama kedekatan antara anak dengan orang tua.
3. Capek
Lelah fisik itu pasti terjadi pada anak yang memiliki rutinitas belajar secara fullday belum lagi ditambah dengan serangkaian kursus yang sudah terjadwal dan harus diikuti. Seringkali lelah fisik pada anak tidak mereka rasakan. Jika daya tahan tubuh anak lemah maka anak akan mudah jatuh sakit.
4. Stres dan depresi
Segala rutinitas yang kita lakukan seringkali membuat kita jenuh, hal yang serupa juga terjadi pada anak. Apalagi jika rutinitas yang dilakukan itu tidak sesuai dengan keiinginan anak. Anak akan merasa tertekan dan stres. Pada awalnya anak mungkin tidak begitu merasakan kejenuhannya tetapi jika hal tersebut dibiarkan berkelanjutan maka berkakibat lelah secara psikologi yang dapat berujung depresi pada anak.
5. Mencari hiburan melalui hal yang negatif
Di tengah kejenuhan melanda, anak mudah terpengaruh oleh temannya. Jika pengaruh temannya berdampak positif, it's OK. Tapi jika teman buruk yang berpengaruh pada anak kita? Waduh bisa berbahaya. Anak dapat mulai berhubungan dengan narkoba, video porno, dan miras.
Sebagai orang tua, kita tidak ingin hal-hal di atas terjadi pada buah hati keskesayangan. Untuk itu, yuk kita berikan kehangatan kasih sayang orang tua di sela-sela rutinitas kita. Gunakan waktu berkumpul untuk melakukan hal-hal yang berkualitas sehingga dapat mendekatkan hubungan antar anggota keluarga.
