Bernas.id ? Indonesia memang kaya akan makanannya, setuju? Wisata kuliner dapat dengan mudah kita temukan di penjuru kota. Memang enak dan nikmat menyicipi setiap makanan khas dari berbagai daerah yang tidak akan kita temukan di negara lain. Namun, berwisata kuliner tetaplah perlu memperhatikan berbagai aspek salah satunya kesehatan yang mencakup pula dengan kebersihan. Sebenarnya tidak hanya saat sedang berwisata kuliner saja, melainkan saat sedang jajan setiap harinya.
Minyak, menjadi bahan pokok dalam pengolahan berbagai makanan. Terutama di pinggir-pinggir jalan ibu kota mayoritas pedagang makanan adalah digoreng. Sebut saja gorengan, salah satu jajanan melegenda ini memang cocok dijadikan jajanan favorit masyarakat. Selain rasanya enak juga murah gorengan pun bervariasi dan cukup membuat perut kenyang. Tapi seringkali masyarakat kurang awas dengan aspek kesehatan.
Mayoritas pedagang akan menggunakan minyak berkali-kali. Selain untuk menghemat biaya minyak yang cukup mahal, edukasi yang kurang mengenai minyak juga menjadi hal utama. Minyak yang terdiri dari ikatan kimia ketika telah mengalami pemansan terutama dalam suhu tinggi otomatis akan membuat minyak tersebut terpecah ikatan kimianya sehingga jadilah minyak jelantah atau dalam bahasa ilmiahnya adalah minyak trans.
Hal utama yang perlu kita ketahui mengenai minyak jelantah di antaranya:
Pertama, angka peroksida yang sangat tinggi
Angka peroksida ini merupakan angka ketengikan dari sebuah minyak yang menurut Dirjen pemerintah minimalnya saja angka ini hanya boleh 2 meq/kg untuk kategori layak pakai. Sedangkan minyak dengan berkali-kali penggorengan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan angka peroksidanya mencapai 63 meq/kg Wow! Sangat besar bukan? Bayangkan, bagaimana jika minyak tersebut terus menerus kita konsumsi setiap hari?
Penelitian pula telah berhasil membuktikan bahwa angka peroksida pada minyak bisa berkurang dengan pemberian ekstrak tanaman seperti mengkudu, daun kelor dan ampas tebu. Namun, berkurangnya angka peroksida bukan berarti membuat minyak kembali bersatu ikatan kimianya. Jadi, minyak dengan ekstrak tanaman tersebut hanya boleh digunakan sebagai inovasi pengganti bahan bakar bukan untuk dikonsumsi kembali.
Kedua, penyebab datangnya penyakit
Penyakit yang datang ini masih berkaitan erat dengan poin nomor satu. Peroksida yang tinggi dapat menyebabkan Obesitas akibat lemak menumpuk, Strok hingga jantung koroner yang paling berbahaya. Tidak hanya karena peroksida tapi juga karena minyak yang ditempatkan pada area terbuka di pinggir jalan tempat kita membeli makanan sehingga menyebabkan minyak tersebut terpapar banyak mikroorganisme serta polusi. Terkadang kita tidak menyadari penyakit-penyakit menyeramkan tersebut karena memang penyakit ini tidak akan datang secara langsung melainkan nanti seiring berjalannya waktu dan usia. Meskipun begitu, bukankan kita ingin tetap sehat sampai tua nanti?
Lalu, apa solusi untuk kita yang hobi sekali dengan makanan berminyak?
Solusinya harus dilakukan dengan membiasakan diri untuk mengurangi membeli makanan sembarangan di pinggir jalan. Cobalah untuk lebih sering makan makanan yang direbus atau menggunakan minyak yang minim, kemudian cobalah untuk membawa bekal dari rumah karena sebaik-baik makanan adalah yang diolah dengan sehat di rumah.
Kenali dan jauhi penyakit sejak dini. Semangat hidup sehat!
