Bernas.id – Kita sudah lama mengenal istilah ?pembeli adalah raja?. Layaknya seorang raja, pembeli yang datang merasa butuh dilayani. Pramuniaga harus melakukan pelayanan kepada sang 'raja' dengan sempurna dan prima. Bila keinginannya tidak terpenuhi maka sang 'raja' bisa sangat marah kepada 'pelayannya' (pramuniaga). Sedangkan sang 'pelayan' harus menjawab dengan ketakutan.
Siapakah sebenarnya yang dianggap sebagai ?raja?? Tentu saja orang-orang yang datang hendak berbelanja di toko Anda. Setiap hari ratusan bahkan ribuan orang berkunjung ke pusat perbelanjaan. Baik di pasar tradisional maupun pasar modern. Status mereka masih sebatas ?pengunjung? dan akan beralih status menjadi ?pembeli? ketika bertransaksi pembelian barang atau jasa. Status mereka meningkat menjadi ?pelanggan? ketika sudah berulang kali berbelanja di tempat yang sama, walaupun yang dibelinya berganti-ganti barang atau jasa. Pendapat yang menyatakan bahwa pembeli adalah 'raja' tampaknya lebih tepat ditujukan kepada semuanya, yaitu pengunjung, pembeli dan pelanggan.
Lain halnya dengan Gerry N. Gardita (2012), yang dikutip dari kompasiana, beliau menyatakan, ?Pembeli bukanlah raja. Pembeli adalah keluarga, itulah prinsip dagang saya pribadi”.
Menurutnya, interaksi antara pembeli dan penjual bukanlah hubungan ?raja? dengan ?pelayannya?. Tetapi lebih kepada hubungan kekeluargaan. Mereka terikat hubungan emosional kedekatan sebagaimana layaknya keluarga. ?Pembeli adalah keluarga?, ini merupakan pendapat kedua.
Pendapat ketiga menyatakan ?pembeli adalah sahabat?. Sebelum menjelaskan pendapat tersebut, saya mau ceritakan sedikit, bahwa sekitar tahun 1996, ada salah seorang trainer pramuniaga pada sebuah supermarket pernah menyampaikan bahwa konsumen adalah sahabat pramuniaga, tapi pramuniaga bukan sahabat konsumen.
Saya tanyakan kepadanya, ?Mengapa pramuniaga tidak boleh menjadi sahabat konsumen, Pak??
?Kalau kamu menjadi sahabatnya, suatu saat konsumen akan memintamu untuk mengabulkan permintaannya. Salah satu kekhawatiran saya adalah ketika kamu sudah terikat secara emosional dengan konsumen. Maka konsumen akan memintamu untuk menuliskan nota yang tidak sesuai dengan kenyataan (manipulasi data, merubah harga atau menuliskan jenis barang lain pada nota). Atau mengambil sejumlah barang namun tidak semua barang dibayar,? ujarnya.
Saya paham maksud beliau, sebagai antisipasi pencurian terorganisir (persekongkolan antara pembeli-pramuniaga-kasir). Namun, sampai saat ini, saya masih belum sependapat dengan pernyataan beliau. Beliau sungguh khawatir bahwa pramuniaga-kasir-pelanggan akan terlibat persekongkolan. Yaitu meloloskan barang dari dalam supermarket tanpa membayar.
Kekhawatiran tersebut bisa dinetralisir. Yaitu dengan pikiran positif, tindakan positif, pendidikan kepribadian serta pembentukan akhlak. Baik yang ditanamkan oleh manajer sumber daya manusia, supervisor beserta jajarannya. Jadi, saya tetap berpendapat bahwa jika pelanggan adalah sahabat pramuniaga, maka sebaliknya, pramuniaga juga harus bisa menjadi sahabat pelanggan.
Jadi, masa-masa ?pembeli adalah raja? sudah lama lewat. Kini masuk ke dalam masa ?pembeli adalah keluarga? atau ?pembeli adalah sahabat?. Bagi para pengunjung, pembeli dan pelanggan tak perlu khawatir, karena jaman sekarang para pramuniaga sudah dibekali dengan ilmu komunikasi penjualan. Sehingga para pelanggan tetap mendapatkan kenyamanan berbelanja.
