Bernas.id – Mungkin tidak sedikit dari kita yang setiap pergi ke pusat perbelanjaan sering ?lapar mata? sehingga membeli barang-barang yang sebetulnya tidak kita butuhkan. Padahal sesampainya di rumah, barang tersebut hanya tergeletak di salah satu sudut ruangan. Mungkin kita akan memakainya sesekali atau bahkan tidak pernah. Coba perhatikan tempat tinggal Anda dengan seksama, berapa banyak jumlah barang-barang yang anda miliki. Apakah semuanya bermanfaat?
Tentu, kita sebagai konsumen tidak dapat serta merta disalahkan dengan budaya konsumtif dan materalis ini. Gempuran media baik media cetak dan elektronik telah sukses menanamkan budaya ini, setiap saat kita dihadapkan pada beragam iklan produk, kosmetik, furniture, pernak-pernik, alat rumah tangga yang mampu menarik hati kita untuk membeli dan memilikinya tanpa betul-betul mempertimbangkan manfaatnya.
Konsep hidup minimalis akhirnya hadir untuk melawan arus gaya hidup konsumtif. Di Jepang, kini marak dan populer gaya hidup minimalis. Mereka mempercayai bahwa less is more, yang terinspirasi dari filosofi hidup ala Zen Buddhist. Lebih lanjut, Marie Kondo, penulis buku best seller dunia Spark Joy dan The Life-Changing Magic of Tidying Up mempopulerkan metode beberes yang disebut metode KonMarie. Menurut metode KonMarie disebutkan bahwa sebenarnya yang kita perlukan hanyalah sedikit barang tapi yang paling bermanfaat untuk hidup. Kita bisa mulai menyortir barang-barang dengan mengajukan pertanyaan ini ?Apakah barang ini membuat saya senang? Atau dalam bahasanya Marie, Does it Spark Joy? Kalau jawabannya adalah Yes, keep it! If no, dispose of it.
The magic of tryding up!
Rasanya masih belum percaya kalau belum mempraktikkan sendiri. Marie menyarankan kita untuk memulai menyortir barang berdasarkan itemnya, bukan per lokasi. Tyding by category ? clothes, books, papers, komono (stationary, electronics, kitchen utensils) and sentimental items.
Hanya gunakan prinsip yes or no saat memilih barang, tidak ada istilahnya ?hmm, maybe I?ll need it?, ?Oh, I could use it for the next child, or I?ll keep this coz it has a memory in my life?, semua coreet! Intinya yes or no, tidak ada maybe-maybe, deal?
Dengan sedikit barang di rumah maka pelan-pelan kita akan melepaskan keterikatan diri dengan benda-benda tersebut dan sedikit demi sedikit beban hidup kita akan berkurang, hati rasanya lega.
Tidak perlu beli baru, rawat dan pakailah barang yang sama.
Cobalah, kalau tidak percaya, pada saat menyortir dan memilih barang pasti akan menemukan banyak sekali barang-barang lama kita yang ternyata masih bisa dipakai saat ini. Nah! Ambillah kembali barang tersebut dan rawat sebaik-baiknya sehingga tidak perlu membeli barang baru.
Menjadi seorang minimalis
Tidak perlu langsung menjadi seorang minimalis ekstrim seperti di Jepang yang hanya punya beberapa barang. Cobalah berkomitmen untuk melakukan hal-hal di bawah ini:
1. Hindari belanja barang yang tidak dibutuhkan.
2. Hanya belanja barang kebutuhan pokok.
3. Sayangi dan rawat barang-barang lama
4. Tidak kalap mata, kurangi pergi ke mall and online shopping.
5. Rutin menyortir barang-barang di rumah.
6. Hemat
7. Kurangi makan di luar
8. Membeli barang yang dibutuhkan yang berkualitas tinggi bukan murahan jadi bisa tahan lama.
Nah, tidak perlu tunggu waktu lama lagi untuk merubah diri ya. Banyak sekali keuntungan yang didapat dengan menjadi seorang minimalis ini, diantaranya hemat waktu dan uang. Waktu yang digunakan untuk beberes akan jauh berkurang. Tentunya dari segi finansial juga sangat menghemat kantong karena kita hanya membeli barang-barang yang dibutuhkan. Yang terpenting dari segi psikologis, memiliki sedikit barang akan memberikan kebahagiaan dan kelegaan bagi kita.
Sumber foto : https://www.google.co.id/search?q=hidup+minimalis+di+Jepang&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwium-iZ8fLWAhXBJJQKHVDCARsQ_AUICigB&biw=1366&bih=613#imgrc=B6bX8Gjq5RFcrM:
