Bernas.id – Wartawan adalah salah satu pekerjaan yang dekat dengan kontroversi dan riskan. Pada zaman revolusi, pekerjaan wartawan hanya berani dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keberanian tinggi. Bahkan, Bung Karno pernah mengungkapkan jika pekerjaan wartawan adalah pekerjaan yang sangat gawat. Pernyataan Bung Karno tersebut terangkum dalam buku ‘Revolusi Belum Selesai’.
Dulu, perjuangan wartawan tak kalah seperti tentara yang berjuang di medan perang. Mulai dari pencarian berita yang rawan pencekalan, hingga perjuangan untuk menerbitkan liputan. Belum lagi peralatan yang digunakan untuk memproduksi berita juga sangat terbatas. Duka menulis di mesin ketik, jika ada kesalahan tidak bisa asal menghapus seperti di komputer. Selain itu, juga tulisan harus menyambung, lebih dari satu kata saja harus dipotong.
Baca juga:
- Contoh Paragraf Induktif, Deduktif, Campuran, dan Ineratif
- 4 Langkah Menemukan Ide Pokok Paragraf dengan Mudah
- 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
Wartawan zaman dahulu harus berpikir untuk mencari cara, agar artikelnya bisa terkirim ke ruang redaksi tepat waktu. Ketika belum ada telegram, telepon, laptop, bahkan internet, sedangkan berita harus segera naik cetak. Maka sudah menjadi hal lumrah, jika ada wartawan yang menenteng mesin ketik ke ruang redaksi. Meski fasilitas sangat terbatas, tetap tidak mengurangi esensi kualitas berita yang dilaporkan. Berita bencana alam di daerah, pencarian jatuhnya pesawat terbang di hutan, dan peristiwa lain yang jauh dari kota, tetap bisa terbit serta dibaca masyarakat luas.
Dilanjutkan dengan seleksi berita melalui editor, editor pelaksana dan seterusnya sampai ke pimpinan redaksi. Dari hal itu, wartawan harus siap menerima nasib tulisan setorannya. Berita juga harus awet untuk jangka lama, karena rata-rata media cetak terbit mingguan. Wartawan zaman dulu harus cerdik mengolah peristiwa dan mencari celah apa yang menjadikannya tetap bernilai sampai satu minggu ke depan.
Dibandingkan wartawan tempo dulu, wartawan masa kini jauh lebih baik dalam hal pendidikan dengan mayoritas lulusan perguruan tinggi. Sekarang, segala fasilitas untuk mendukung pekerjaan wartawan sudah banyak tersedia. Di mana pun posisi wartawan berada, bisa melaporkan kejadian begitu cepat ke seluruh penjuru dunia.
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku
Namun, hal yang perlu diingat untuk wartawan masa kini adalah senantiasa menjaga etika jurnalistik. Jangan sampai mengabaikan keakuratan berita. Meski sosial media sendiri sudah banyak memberikan informasi, tetap harus mengecek secara cermat kebenaran informasi tersebut. Apalagi jangan sampai wartawan bersedia untuk memberikan informasi yang merugikan atau menguntungkan pihak tertentu, hanya karena uang.
Apresiasi tinggi memang selayaknya diberikan kepada jurnalis yang senantiasa menyajikan informasi yang sangat berguna bagi masyarakat luas. Tanpa wartawan, dunia ini sulit memperoleh berita yang akurat. Memang pekerjaan wartawan sudah semestinya dihargai, karena untuk mendapatkan sebuah informasi yang valid hingga menerbitkannya harus melalui berbagai macam perjuangan yang tidak mudah.
Baca juga: Mengenal Pengertian dan Ciri-ciri Komik sebagai Karya Sastra
