Bernas.id – Pendidik saat ini bukan satu-satunya sumber pembelajaran, bahkan peserta didik pun bisa dijadikan sumber pembelajaran. Untuk itulah maka pendidik hendaknya dapat mengajarkan pada peserta didik dengan keterampilan abad 21. Adapun resepnya agar dapat menggali berbagai potensi peserta didik di antaranya sebagai berikut:
1. Menggunakan Metode Active Learning
Metode active learning sangat tepat untuk menggali potensi peserta didik, karena metode ini dengan berbagai strateginya mampu mengaktifkan peserta didik. Sehingga lebih kepada student centre. Metode ini cocok sekali untuk kurikulum k.13 yang mengedepankan:
- Kreatifitas, artinya melalui metode ini diharapkan seluruh peserta didik tertantang, sehingga menumbuhkan kreatifitas yang tidak monoton atau pasif.
- Kritisme, melalui metoode ini, diharapkan peserta didik tidak langsung menelan mentah-mentah pelajaran atau informasi apapun yang diterimanya. Namun, dia harus kritis dengan cara meneliti kebenaran dari berita yang diterimanya, sehingga dia terhindar dari kesalahan dalam menerima informasi tersebut. Ketika ditemukan ketidakpahaman, maka peserta didik hendaknya mencari tahu, dan jangan hanya berdiam diri.
- Kolaboratif, metode yang digunakan memungkinkan untuk saling bekerja sama sehingga peserta didik pun terbiasa saling bekerja sama. Sementara, jika hanya ceramah maka hanya akan mengakibatkan peserta didik yang individual, karena dalam metode tersebut tidak mengaktifkan peserta didik. Akibatnya, peserta didik hanya diam mendengarkan pendidik berceramah. Namun demikian, bukan berarti metode ceramah sudah tidak update, metode ceramah tetap diperlukan terutama ketika untuk memberikan kesimpulan di akhir pelajaran
- Komunikatif, pada metode ini peserta didik di akhir pelajaran biasanya diminta untuk mengomunikasikan hasil dari penagmatan maupun percobaannya pada kelompok lain.
2. Mengelompokkan Peserta Didik Sesuai dengan Minatnya
Yang menarik adalah ketika seorang pendidik kurang memahami bakat peserta didiknya. Sebenarnya gampang untuk mengetahui minat dan bakat peserta didik, tanyakan saja kesukaannya apa. Kemudian pendidik meminta mereka untuk membentuk kelompok. Biasanya setelah itu pendidik akan tahu bakat mereka masing-masing. Agak sulit memang di awal namun jika sudah terbiasa, pastinya ini menjadi pembelajaran yang sangat menyenangkan dan peserta didik pun bahagia. Tapi ingat jangan sampai pembelajaran menyenangkan tanpa makna.
3. Memberikan Tugas yang Berbeda
Ketika peserta didik dikelompokkan, otomatis tugas yang diberikan pun berbeda. Sebagai contoh yang suka puisi diberikan tugas membuat puisi misalnya 10 bait. Peserta didik yang suka pantun otomatis diberikan tugas untuk membuat pantun yang sesuai dengan tema atau materi pada saat itu. Jika dalam suatu kelas ternyata ketika tugas yang diberikan sesuai dengan minatnya, maka sangat terlihat begitu antusias, hingga mampu mengembangkannya dengan baik.
4. Gunakan Prosedur yang Bervariasi dalam Penilaian
Penilaian pembelajaran dapat menggunakan berbagai cara. Tentu ini disesuaikan dengan tujuan penialian yang dituju. Misalnya saja, untuk aspek pengetahuan, maka bisa digunakan penilaian dengan pilihan ganda. Ketika penilaian ditujukan untuk suatu keterampilan tertentu, maka yang digunakan adalah praktik atau mungkin bisa juga prosedur teks. Jika penilaian ditujukan untuk pemahaman, maka bisa dengan memberikan soal untuk bercerita kembali apa yang sudah dipahami dalam pembelajaran tersebut.
5. Pahami Perkembangan Peserta Didik
Memahami perkembangan peserta didik berhubungan secara langsung dalam menerapkan metode yang tepat yang digunakan dalam pembelajaran di kelas. Semisal model diferensiasi, dan sebagainya.
Semoga bermanfaat!
