Bernas.id – Memiliki anak yang hebat adalah harapan setiap orang tua. Ia adalah buah hati serta penghibur dalam kejenuhan orang tua dalam menjalani aktivitas rutin dalam keseharian. Namun, sadarilah, tidak ada satupun anak di dunia ini lahir dalam kondisi yang sempurna. Ada yang tumbuh baik secara fisik tapi lemah secara sosial. Ada juga yang unggul di bidang akademik, tapi masih perlu banyak belajar dalam mengontrol emosinya. Namun, dari semua faktor yang membuat anak kita ?terlambat ? dalam menuntaskan tumbuh kembang usianya, bisa jadi salah satunya datang dari ucapan yang mereka dengar dari lisan kita.
Maka, orangtua berusahalah memilih kata yang baik ketika berbicara di depan mereka. Yuk disimak?
1. Memilih kata yang bertemakan ?positif?
Orang tua ibarat progamer di depan komputer. Program Apa yang ingin kita install ke dalam diri sang anak? Itu adalah tugas orangtua. Dalam berkomunikasi dengan sang anak, hendaklah kita memilih kata yang tepat agar apa yang mereka dengar adalah kalimat yang baik atau positif. Misalnya. Kata ?belum berhasil? sepertinya lebih nyaman didengar daripada kata ?gagal?. Atau kata ?belum bisa? lebih bisa kita gunakan daripada ?tidak bisa?. Dua contoh kata ?Belum? itu bisa dipahami sebagai sebuah kata motivasi yang di dalamnya ada unsur penyemangat anak untuk mencoba sesuatu yang saat itu belum bisa ia capai. Namun, kata ?Tidak?, terdengar seperti memvonis bahwa sang anak sudah mendapatkan hasil yang final dalam bentuk kegagalan.
2. The power of question
Dalam bertanya pun kita bisa membangun kepercayaan diri anak. Mari kita sisipkan kalimat motivasi dalam setiap kalimat tanya kita. Misalnya, sang anak sedang merasakan sakit. Jika pertanyaan yang keluar dalam bentuk ?Kamu sakit apa??, maka sang anak otomatis memposisikan dirinya sedang merasakan sakit, bahkan sugesti rasa sakit itu bisa menjadi bertambah. Kita bisa buka pertanyaan dengan kata ?apa yang kamu rasakan?? atau ?ayah tahu kamu sakit, tapi kamu kuat kan??. Kalimat tanya seperti ini membuat sang anak menjadi lebih kuat. Baru kemudian orang tua bisa mengambil tindakan preventif atas rasa sakit sang anak.
3. Perkenalkanlah anak kita sebagai anak yang baik
Banyak orang tua yang lupa, ketika mereka berbicara dengan orang lain, bahkan tema pembicaraanpun berlanjut tentang kondisi anak mereka. Sadarilah, keberadaan anak kita pada waktu itu bisa jadi sebagai pendengar aktif. Lebel apa yang kita sandarkan pada anak pada saat itu, secara tidak langsung terekam dalam otak mereka. Dan bahkan bisa masuk dalam long term memory, kemudian menjadi doktrin yang mempengaruhi mereka untuk menjadi seperi lebel yang sudah orang tua mereka berikan. Banyak orang tua yang tidak sadar bercerita tentang ?kebandelan? anaknya di depan teman-temannya, atau kejelekan sifat anaknya di depan anak mereka sendiri.
4. Jadikan lingkungan sebagai guru mereka
Ketika kita berbicara dengan orang lain dan pada saat itu anak kita ada disana, kesempatan ini kita bisa gunakan sebagai motivasi dan memberikan rasa tanggung jawab sosial kepada mereka. Ceritakanlah kepada orang lain tentang kebalikan sifat negatif mereka dalam rangka memberikan kontrol sosial kepada mereka. Misalnya sang anak tidak suka makan sayur, maka ceritakanlah kepada orang banyak bahwa anak kita sedang belajar makan sayur. Karena, kebanyakan orang tua biasanya langsung memvonis dan bercerita kepada orang lain tentang keengganan anaknya mengonsumsi sayur.
So?.para orang tua. Mari kita kondisikan lisan kita untuk berbicara yang positif sebagai usaha memotivasi anak kita dalam hal apapun. Memang benar menjadi oran tua tidak ada kursus dan sekolahnya. Namun, orang tua pembelajar adalah sebuah keniscayaan agar kita bisa mendampigi anak-anak kita menjadi pribadi tangguh dah mampu menjalani setia masa kehidupan mereka dengan segala tantangannya.
