Bernas.id – Buku cerita bergambar, dongeng, dan cerita rakyat adalah beberapa contoh sastra anak. Anak-anak tentu menggemari buku-buku tersebut. Terlebih yang disajikan dengan bentuk dan ilustrasi yang menarik.
Sastra anak dan anak-anak menjadi perlu untuk lebih diperhatikan. Gempuran teknologi informasi semakin banyak dan menjadi penghias kehidupan anak-anak. Bukan lagi semata hanya kenikmatan dan hiburan, namun ada banyak peristiwa dan hal lain yang mungkin saja akan berpengaruh pada anak-anak.
Dilansir dari buku Burhan Nurgiyantoro, sastra anak diyakini memiliki kontribusi yang besar bagi perkembangan kepribadian anak dalam proses menuju kedewasaan. Penanaman nilai-nilai dapat dilakukan sejak anak masih berusia dini melalui sastra anak. Berikut ini dipaparkan beberapa manfaat sastra untuk perkembangan anak.
1. Perkembangan Emosional
Anak usia dini yang belum dapat berbicara, sudah ikut tertawa ketika diajak bernyanyi sambil bertepuk tangan. Anak tampak menikmati lagu-lagu bersajak ritmis dan larut dalam kegembiraan. Artinya, sastra yang berwujud lagu tersebut dapat merangsang emosi anak untuk, bahkan ketika anak masih berstatus bayi.
Dalam perkembangan selanjutnya setelah anak dapat memahami cerita, anak akan memperoleh demonstrasi kehidupan sebagaimana yang diperagakan oleh para tokoh cerita. Tokoh-tokoh cerita akan bertingkah laku yang menunjukkan sikap emosionalnya. Sikap ini seperti ekspresi gembira, sedih, takut, terharu, simpati, dan empati, benci dan dendam, memaafkan, dan sebagainya.
Lewat bacaan cerita anak akan belajar bagaimana mengelola emosinya agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Kemampuan seseorang dalam mengelola emosi sangat berpengaruh terhadap kesuksesan hidup. Oleh karena itu sastra anak memiliki manfaat yang besar dalam perkembangan emosional anak.
2. Perkembangan Intelektual
Cerita menampilkan urutan kejadian yang mengandung logika pengaluran. Logika pengaluran memperlihatkan hubungan antarperistiwa yang diperankan tokoh. Anak harus mengikuti logika tersebut untuk memahami sebuah cerita. Secara langsung dan tidak langsung anak mempelajari hubungan yang terbangun dalam sebuah cerita, bahkan mengkritisinya.
Anak mungkin mempertanyakan tindakan tokoh, reaksi tokoh, menyesalkan tindakan tokoh, dan lain-lain. Lewat bacaan yang dihadapi aspek intelektual anak ikut aktif, ikut berperan dalam rangka pemahaman dan pengkritisan cerita yang bersangkutan. Dengan kata lain, melalui kegiatan membaca cerita aspek intelektual anak juga ikut berkembang.
3. Perkembangan Imajinasi
Sastra menawarkan petualangan imajinasi yang luar biasa kepada anak. Lewat cerita anak akan memperoleh pengalaman luar biasa yang tidak dapat diperoleh dengan cara selain membaca sastra. Pengalaman anak berkembang sesuai dengan perkembangan imajinasi mereka.
Dengan demikian, daya imajinasi berkorelasi secara signifikan dengan daya cipta. Imajinasi memancing tumbuh dan berkembangnya daya kreativitas. Imajinasi membentuk pikiran kreatif dan produktif. Oleh karena itu potensi ini harus dikembangkan secara wajar dan maksimal lewat penyediaan bacaan sastra.
4. Pertumbuhan Rasa Sosial
Bacaan sastra mendemonstrasikan bagaimana tokoh berinteraksi dengan sesama dan lingkungan. Bagaimana tokoh-tokoh dalam cerita berinteraksi dengan sesama, misalnya bekerja sama, saling membantu, bermain bersama-sama, menghadapi kesulitan bersama, dan sebagainya. Bacaan sastra memberikan kesadaran pada anak bahwa hidup adalah kebersamaan. Kesadaran inilah yang dapat ditumbuhkembangkan lewat perilaku tokoh dalam bacaan sastra.
5. Pertumbuhan Rasa Etis dan Religius
Nilai-nilai sosial, moral, etika, dan religius perlu ditanamkan kepada anak sejak dini secara efektif lewat sikap dan perilaku hidup keseharian. Hal ini tidak saja dapat dicontohkan oleh orang dewasa, melainkan lewat bacaan sastra yang menampilkan perilaku tokoh, atau nyanyian anak yang memuat nilai-nilai tersebut.
Pada umumnya anak akan mengidentifikasikan diri dengan tokoh-tokoh yang baik, itu artinya telah tumbuh kesadaran untuk meneladani sikap dan perilaku tokoh tersebut.
Nilai-nilai religius dapat ditanamkan melalui bacaan-bacaan kisah para nabi, kisah wali songo, dan kisah anak muslim bagi anak-anak yang beragama muslim, atau kisah-kisah teladan lainnya bagi yang beragama lain. Keteladanan dari tiap tokoh dalam tiap kisah diharapkan mampu menjadi motivasi bagi anak.
6. Eksplorasi dan Penemuan
Anak dapat dibiasakan mengkritisi sebuah cerita, misalnya ikut menebak sesuatu seperti dalam cerita detektif dan misterius, menemukan bukti-bukti, alasan bertindak, menemukan jalan keluar kesulitan yang dihadapi tokoh, dan lain-lain termasuk memprediksikan bagaimanya penyelesaian kisahnya. Mengkesplorasi dan menemukan hal-hal baru dapat membantu anak berlatih berpikir logis dan kritis.
7. Perkembangan Bahasa
Membaca sastra bagi anak artinya memahami dunia yang ditawarkan sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa anak, baik membaca, menyimak, berbicara, maupun menulis. Peningkatan penguasaan bahasa anak tersebut harus dipahami tidak hanya melibatkan kosakata dan struktur kalimat, tetapi juga mencakup kemampuan lain yaitu menyimak, berbicara, dan menulis. Dengan terbiasa membaca sastra, keempat keterampilan berbahasa anak juga akan meningkat.
8. Pengembangan Nilai Keindahan
Sebagai salah satu bentuk karya seni, sastra memiliki aspek keindahan. Rasa puas yang diperoleh setelah membaca puisi dan fiksi disebabkan oleh terpenuhinya kebutuhan batin akan keindahan. Pemenuhan rasa puas dan kebutuhan batin tersebut dapat dilakukan dengan pembiasaan membaca sastra. Tertanamnya aspek keindahan dalam diri anak bersama dengan berbagai aspek yang lain akan membawa dampak positif bagi perkembangan personalitasnya.
9. Penanaman Wawasan Multikultural
Dengan bacaan sastra anak dapat mempelajari berbagai wawasan budaya dari seluruh dunia. Lewat sastra yang dijumpai sikap dan perilaku hidup yang mencerminkan budaya suatu masyarakat yang berbeda dengan masyarakat yang lain. Sastra tradisional atau folklore, mengandung berbagai aspek kebudayaan tradisional masyarakat pendukungnya. Maka dengan membaca cerita tradisional dari berbagai daerah akan diperoleh pengetahuan dan wawasan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.
10. Penanaman Kebiasaan Membaca
Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dengan bagaimana kebiasaan membacanya. Untuk mencapai kemajuan tersebut, pertama-tama yang harus ditanamkan kepada anak bangsa adalah kemauan membaca. Budaya membaca harus ditumbuhkan sejak dini, dan itu sangat efektif dimulai dengan bacaan sastra.
Selain membentuk kepribadian anak, bacaan sastra terbukti mampu menumbuhkan dan mengembangkan keinginan membaca anak. Setelah keinginan untuk membaca ini tumbuh anak akan memiliki kebiasaan membaca yang baik. Akhirnya kebiasaan membaca akan terbentuk, tidak hanya membaca bacaan sastra saja.
