JAKARTA, Bernas.id – Meski pernah bekerja di instansi perbankan, tak menjamin seseorang memiliki pemahaman tentang aset maupun liabilitas. Ini dialami Bapak Yohanes, mantan bankir di sebuah intansi perbankan. Dia mengaku memahami mindset tentang aset dan liabilitas setelah bermain 'Cashflow Game' di Kantor Lembaga Sertifikasi Profesi Pasar Modal (LSP-PM) di Lantai 6 Gedung GKBI, Jakarta. “Semula, saya berpikir aset dan liabilitas itu sama. Ternyata, keliru,” tuturnya kepada Bernas, akhir pekan kemarin. Ia melanjutkan, “Karena tidak semua aset menjadi liabilitas, begitu sebaliknya.”
Ia memberi contoh. Beberapa tahun silam, Yohanes membeli rumah yang berjarak sekitar 10 menit mengendarai mobil menuju Stasiun Sudimara, Ciputat, Tangerang Selatan. Ukuran luas tanah sekitar 192 meter persegi. Karena kesibukan pekerjaan, Yohanes tak sempat menyewakan rumah tersebut. Lambat laun terjadi kerusakan di beberapa bagian. Sehingga kini tak layak ditempati. Ketika ada rencan pembangunan jalan tol yang melewati kawasan Ciputat, lahan rumahnya tak terkena pembebasan lahan.
Baca juga: Inilah 7 Daftar Aplikasi Investasi Resmi Versi OJK
Ironisnya, aliran listrik sudah diputus oleh pihak PLN. Nilai bangunannya menyusut. Kalau dibangun kos-kosan, maka dirinya harus mengeluarkan uang banyak. “Semula, saya punya rumah itu bagian dari aset, suatu saat harganya bisa naik atau menghasilkan (dari modal awal). Eh, ternyata, rumah itu bagian dari liabilitas, tak menghasilkan,” tuturnya. Dia memahami konsep aset dan liabilitas setelah bermain 'Cashflow Game'. Nah, melalui permainan Cashflow Game tersebut, Yohanes berharap wawasan berinvestasi semakin bertambah. Sehingga, kelak jika memiliki aset baru, dia bisa memanfaatkan dan mengelolanya agar menjadi passive income. “Bisa belajar dari kesalahan-kesalahan investasi,” terang Yohanes.
Hal serupa dialami Ibu Ruth Hidayat. Warga dari perumahan di Alam Sutera ini mengaku pernah meminjam uang di bank. Karena tak memiliki perencanaan, dana pinjaman tak terkelola dengan baik. “Tidak mikir ini-itu. Uang terpakai tapi tak menghasilkan, karena tidak ada pola dan minim pengetahuan,” katanya. Seiring waktu, dia berinvestasi reksadana. Hingga kemudian Ibu Ruth kenal dengan Bapak Putu Putrayasa, CEO Hebat Group yang juga Owner Harian Koran Bernas dan Bernas Online, yang mengajak untuk bergabung di Grup WA Cahsflow Game Volunteer.
Kini, Ibu Ruth terus mengasah diri dalam berinvestasi, baik langsung atau tidak kepada Budi Rachmat, pendiri dan mantan Ketua Komunitas Tangan Di Atas (TDA). Budi Rachmat juga banyak berinvestasi di sektor properti dan minimarket. Pernah berbisnis di tambang batubara. Ibu Ruth juga belajar pada inisiator permainan Cashflow Game, yakni Putu Putrayasa. “Untuk mempraktekkan ilmu dari Cashflow Game ini, saya berencana berinvestasi skala kecil di saham setelah tiga kali mengikuti Cahsflow Game. Tahap awal beli saham dengan investasi Rp 100 ribu, nanti tambah lagi,” katanya.
Baca juga: Inilah Jam Buka Bursa Saham di Indonesia 2021
Putu Putrayasa memaparkan tujuan menggelar Cashflow Game di Jakarta, Yogyakarta dan rencana di Surabaya ini adalah impian Harian Bernas ikut mencerdaskan finansial masyarakat Indonesia. Saat ini, permainan baru digelar di Jakarta (tiga kali), satu kali di Yogyakarta dan rencananya di Kota Surabaya. Sebelum para peserta bertemu menggelar permainan, Putu mengundang calon peserta di sebuah Grup WA (WhatsApp). Peserta 'Cashflow Game' dari Jabodetabek berasal dari berbagai profesi. Mantan bankir, marketing properti, owner perusahaan, investor properti, dan sebagainya.
Menurutnya, ada banyak pilihan berinvestasi, namun tidak semua orang tahu. Kemudian, kalau pun sudah banyak yang tahu skema atau paket investasi, tidak semua bisa mengelola dana investasinya. Putu menjelaskan permainan ini mengubah mindset tentang cashflow. Nantinya, setiap peserta yang terlibat akan mengalami perubahan cara dalam pengambilan keputusan berinvestasi, khususnya berhubungan dengan uang. Misalnya, kalau punya uang, apakah dibelikan properti, saham, emas, atau membangun rumah kosan-kosan,” ujarnya.
Ia mengharapkan dari permainan ini, peserta memiliki wawasan dan terpenting keberanian menggunakan dananya saat berinvestasi. Misalnya, dipakai buat beli saham. Kan sejalan Program Yuk Nabung Saham yang kini digalakkan Bursa Efek Indonesia (BEI),” jelas Putu, yang mengaku memiliki saham blue chip di perusahaan-perusahaan nasional.
Baca juga: Mengenal IHSG, Cara Membaca, Jenis, Manfaat, dan Istilah Terkait
Cara Bermain
Permainan Cashflow Game ini dirancang oleh Robert Robert T Kiyosaki, pakar kecerdasan finansial, yang terkenal saat meluncurkan buku fenomenal “Rich dad Poor Dad”. Permainan ini mirip seperti papan Monopoli yang berwarna-warni dengan seekor tikus raksasa yang bepakaian bagus di tengah-tengahnya. Perbedaan dengan Monopoli, ada dua jalur di papan permainan Casflow Game. Jalur pertama ada di dalam dan jalur satunya ada di luar. Tujuan permainan ini adalah keluar dari jalur yang di dalam yang oleh Robert disebut “Rate Race” (Perlombaan Tikus) dan mencapai jalur yang di luar, atau “Jalur Cepat”. Seperti yang dikatakan Robert, jalur cepat menstimulir bagaimana orang-orang kaya bermain dalam kehidupan riil.
Baca juga: Begini 3 Cara Membeli Saham Bagi Pemula dengan Mudah
Mengelola Aset
Aset adalah sesuatu yang dapat memberikan pemasukan. Sebaliknya, liabilitas adalah sesuatu yang mendatangkan pengeluaran. Orang yang menganggap liabilitas sebagai aset mengakibatkan liabilitasnya semakin besar. Tetapi asetnya justru semakin kecil. Rumah besar yang tidak dimanfaatkan, maka dimasukkan dalam kategori aset. Rumah besar disebut sebagai liabilitas karena tidak mendatangkan pemasukan, seperti tidak disewakan, dibiarkan lama tanpa penghuni, dan sebagainya. Rumah besar mendatangkan pengeluaran dalam bentuk hipotek, biaya pemeliharaan, pajak, asuransi, dan sebagainya.
Pendek kata, orang yang melek finansial berusaha menambah aset dan bukan menambah liabilitas. Menambah aset berarti menambah pemasukan untuk meningkatkan aset. Contohnya menyewakan rumah tersebut menjadi kos-kosan, kontrakan atau didaftarkan ke Aplikasi Sewa Kamar seperti Airnb. Menambah aset berarti mengurangi pengeluaran untuk menurunkan liabilitas, seperti membeli dua buah rumah tapi disewakan/dikontrakan. Daripada membeli satu rumah besar namun tanpa disewakan. Atau membeli mobil baru untuk armada angkutan umum/ojek online bisa disebut sebagai aset, daripada membeli mobil mewah untuk dipakai sendiri.
Baca juga: Mengenal Trading Saham dan Cara Jitu Jadi Trader Handal
 dan Budi Rachmat (kiri) bersama peserta Cahsflow Game Chapter Jakarta.jpg)