Bernas.id ? Masyarakat umum sedang mengalami fase perubahan. Sebagian berubah menjadi baik dan lebih baik lagi. Sedangkan sebagian lagi merosot tajam karena gagal mengantisipasi virus kemajuan teknologi.
Siapa yang bertanggung jawab jika tetangga Anda memiliki anak-anak dan remaja yang suka nge-game? Mereka meninggalkan jam belajar dan memilih begadang hingga dini hari. Tengoklah warung internet game online, atau rumah playstation, tentu penuh setiap saat. Selepas jam sekolah. Menegur pengelola hiburan tersebut pun serasa sia-sia. ?Eh, elu siape, berani ngelarang gua bisnis, hah?? (?Eh, kamu siapa, berani melarang saya bisnis, hah??).
Sekarang pun marak anak-anak remaja berpesta makan-makan di restoran, kedai kebun, wisata kuliner. Perilaku konsumtif anak-anak zaman sekarang saat berulang tahun diawali dengan ditodong teman-temannya untuk traktir makan. Kedai makanan cepat saji semacamnya menjamur di pusat perbelanjaan modern seperti mal, menjadi sasaran mereka. Kalau makan di angkringan atau masak sendiri di rumah terkesan tidak eksklusif bagi sebuah pesta ulang tahun. Mereka rela mengeluarkan uang berjuta-juta rupiah hanya untuk sekali makan. Sementara kalau dimintai sumbangan untuk masjid, pengajian atau korban bencana, besaran Rp.50.000 rupiah saja, masih terasa terlalu besar dan berat untuk dikeluarkan.
Siapa yang bertanggung jawab jika anak-anak kita lebih memilih produk-produk bermerk dan barang-barang impor? Perdagangan produk-produk lokal kurang diminati anak-anak zaman sekarang. Mereka saat ini lebih gandrung dengan produk bermerk impor yang membanjiri pusat-pusat perbelanjaan modern. ?Miiih, pokoknya yang merk itu ya, Miiiih. Kalau bukan merk itu, besok aku nggak mau sekolah.? Rengekan seorang anak gadis SMP kepada ibundanya dan ini terjadi begitu saja di depan mata kita. Pusat perbelanjaan modern juga selalu penuh dengan pembeli setiap saat. Bagaimana dengan warung-warung kecil, toko koperasi warga, dan pasar tradisional?
Pernah pula seorang teman terkejut ketika dengan sengaja dia pergi melancong ke Thailand untuk berbelanja beberapa barang kebutuhannya. Kemudian pada sebuah mal di Kota Bangkok, dia memilih koper pakaian eksklusif. Menurutnya, produk koper pakaian di toko itu bagus dan terkenal awet. Setelah sesampainya di hotel, dia melihat tulisan made in sebuah kota tekenal di Pulau Jawa ada pada sudut bawah koper itu. Sesaat tergambar raut wajah kecewanya, namun akhirnya dia menyadari bahwa sebenarnya produk Indonesia itu mampu bertarung di kancah perdagangan taraf internasional. Terbukti sebuah mal di Bangkok bersedia menerima pasokan aneka stok tas dari Indonesia.
Jika melirik pola hidup masyarakat, kita akan menemukan kenyataan bahwa masyarakat kita sangat konsumtif. Lihat pula perabotan di rumah-rumah kita, di rumah saudara-saudara, teman-teman dekat, maka kita akan temukan banyak barang terbeli tanpa rencana. Banyak barang yang kurang dibutuhkan oleh kita. Banyak barang yang hanya berfungsi sebagai pajangan atau hiasan.
Siapa yang bertanggung jawab pada kearifan lokal desa? Potensi desa sangat banyak tersimpan belum dikelola dengan baik. Produksi kursi bambu, anyaman, tenunan rakyat, tas buatan emak, gula merah bikinan paman, jenang dan ketan bikinan uwak, jamu tradisional bikinan simbok, serta berbagai macam makanan ringan ala desa. Mari kita desain ulang mindset anak-anak kita agar mencintai produk-produk lokal. Bela dan beli produk lokal! Bela dan beli produk Indonesia!
Salam dari desa!
