Bernas.id – Indonesia terkenal subur makmur loh jinawi. Mengapa tingkat pengangguran masih saja tinggi? Kementerian pendidikan mencatat (dari data tahun 2011), dari 7,79 juta orang penganggur sejumlah 5,2 juta (64%) pengangguran berada di wilayah perkotaan, sedangkan sejumlah 2,9 juta (36%) pengangguran terbuka di wilayah perdesaan. Jika dari latar belakang pendidikan para pengangguran tersebut, 24% berpendidikan belum atau tidak tamat SD, 22% berpendidikan SLTP, 28% berpendidikan SMA, 13% berpendidikan SMK, 5% berpendidikan Diploma dan 8% berpendidikan Sarjana.
Beberapa orang ditanya mengapa tidak memiliki pekerjaan? Jawaban singkat dan klasik mereka lontarkan, ?Tidak ada lowongan pekerjaan.? Benarkah tidak ada lowongan pekerjaan? Mungkin jawaban yang lebih tepat adalah, ?Saya malas mencari pekerjaan.? Mereka terkungkung di dalam kotak sebagaimana katak dikurung dalam kotak. Ketika kotak dibuka, tampaklah dunia luas menyapa, namun lompatan sang katak tidak lebih tinggi daripada tinggi kotak sebelumnya. Sindrom kotak katak, mereka terlalu lama terlena dengan ambisi harus bekerja di instansi pemerintah, atau di perusahaan terkemuka dan menduduki jabatan khusus. Kerja enak dengan gaji besar. Begitu tidak tercapai, mereka tidak segera move on.
Sebelah kanan dan kiri ada banyak peluang usaha, potensi pendapatan melimpah ruah, hanya kita mau atau tidak. Terkadang ketika ditanyakan, ?Mau kerja di mana sebagai apa?? jawabannya, ?Kerja apa saja, yang penting bisa makan.? Kita tanyakan lagi, ?Ada lowongan di perusahaan yang sedang mencari tim marketing.? Jawabannya, “Saya nggak suka yang jualan gitu, deh. Jangan yang jadi sales.? Lanjut, ?Oh, Ada tuh, bagian pembukuan koperasi desa.? Jawab lagi, ?Aduh, saya nggak bisa administrasi komputer, harus kursus dulu.? Ya, begitulah selalu orang yang banyak alasan. Mereka ibarat mati di lumbung padi. Terlalu besar Blocking Mindset-nya, begitu kata pakar NLP (Neuro Language Program). Harus dibongkar blokade pemikiran yang sempit semacam itu.
Pemikiran setiap manusia memang berbeda-beda. Tak ada yang sama. Namun kebanyakan manusia mengalami masa-masa sindrom kejayaan. Setelah sukses mereka mengira akan bertahan lama tanpa ujian. Mereka lupa dengan antisipasi pasang surutnya dunia usaha. Ketika berada di puncak kejayaan, mereka terlena. Perubahan lifestyle (gaya hidup) yang terlalu dini membawa mereka pada keadaan sempurna. Ketika terjadi kondisi usaha menurun mereka kaget dan kelimpungan, serta merta menyesali manajerial usaha yang kurang baik. Mereka ibarat, ?mati semut karena gula?.
Sebagai generasi muda penerus cita-cita pembangunan bangsa dan negara, kita harus mengubah mindset. Tinggalkan keinginan untuk daftar CPNS dan mulailah berwirausaha terhitung dari detik ini! Indonesia tidak butuh karyawan, negeri ini lebih butuh wirausahawan dan wirausahawati yang bisa mengolah potensi-potensi di sekitar wilayahnya tinggal. Indonesia butuh produsen, bukan konsumen.
Jadi, tinggalkan kebiasaan konsumtif, beralihlah menjadi pribadi yang produktif! Bantu desamu agar lebih maju! Berikan yang terbaik dari dirimu demi kemajuan desamu! Tentu kita akan temukan kesuksesan ada di depan mata kita juga di mata dunia. Semuanya kita persembahkan dari desa untuk Indonesia.
Salam dari desa!
