Bernas.id – Di negara kita, seringkali muncul perdebatan terkait makna sebuah kata atau kalimat yang diucapkan pejabat publik. Kasus terakhir mencuat menjadi perdebatan ketika Anies Baswedan menggunakan kata ?pribumi? dalam pidato pelantikannya menjadi Gubernur Jakarta. Ada beberapa pihak yang merasa tersinggung dengan penggunaan kata ?pribumi?. Penggunaan kata tersebut menjadi bahan pedebatan sengit selama beberapa minggu di media sosial antara yang pro maupun yang kontra. Tidak sampai disitu, bahkan ada yang melaporkannya ke polisi karena dinilai bertentangan dengan Undang-Undang yaitu UU No 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras Dan Etnis yang bunyinya “Semua pejabat negara dan kita warga bangsa, hindari pakai istilah pribumi.”
Sebenarnya beginilah isi alinea kelima dari pidato tersebut : ?Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai terjadi di Jakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah Madura, Itik se atellor, ajam se ngeremme. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain.
Kata dan Maknanya
Saya tidak akan menyoroti masalah pemilihan kata ini dari segi politik, karena selain saya bukan politikus, saya juga tidak mau ikut serta meramaikan percacian di media sosial terkait penggunaan kata tersebut. Saya akan mengomentari hal itu dari sudut pandang bahasa saja.
Makna adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata, jadi makna dengan bendanya sangat bertautan dan saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu (Tjiptadi, 1984:19).
Kata-kata yang berasal dari dasar yang sama sering menjadi sumber kesulitan atau kesalahan berbahasa, maka pilihan dan penggunaannya harus sesuai dengan makna yang terkandung dalam sebuah kata. Agar bahasa yang dipergunakan mudah dipahami, dimengerti, dan tidak salah penafsirannya dari segi makna yang dapat menumbuhkan reaksi dalam pikiran pembaca atau pendengar karena rangsangan aspek bentuk kata tertentu.
Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan pengertian makna kata, yakni makna denotatif, makna konotatif, makna leksikal, makna gramatikal, dan makna asosiataif.
Secara leksikal, kata ?pribumi? dalam pidato tersebut berarti ?penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan?. Namun kata ?pribumi? akan bermakna lain ketika ditinjau dari kacamata konotatif atau bahkan asosiatif. Ibarat kita menilai gajah dari sudut pandang yang berbeda-beda secara parsial. Yang mengamati bagian kakinya pasti akan bilang bahwa gajah itu besar, kuat, dan panjang. Lain halnya yang mengamati dari bagian telingga. Pasti akan ngotot mempertahankan pendapatnya jika gajah itu bentuknya pipih dan lebar. Begitu pula yang mengamati ekor, mata ataupun bagian-bagian tubuh yang lain. Semua pendapat benar, dari sudut pandang masing-masing karena tidak mengamati secara keseluruhan. Sama halnya dengan pemakain kata ?pribumi? tersebut.
Cerdas dan Cermat Membaca
Mengingat seringnya kita memberdebatkan makna sebuah kata dan kalimat yang digunakan oleh para pejabat publik, saya ingin memberikan tiga solusi untuk menghindari debat kursir yang tidak perlu. Ketiga solusi itu sebagai berikut.
Pertama, membaca sesuai dengan konteksnya. Seperti halnya yang diajarkan di sekolah, bahwa ketika membaca harus disesuaikan dengan konteksnya, bukan latar belakang pengetahuan yang telah kita miliki. Karena bisa jadi kita mengabungkan bacaan yang kit abaca dengan asosiasi kita sendiri sebab kita merasa sudah lebih tahu tentang hal tersebut.
Kedua, jangan bersikap subjektif. Hal ini yang sekarang banyak terjadi di masyarakat. Mereka cenderung melihat, siapa yang menyampaikan. Jika sepemikiran, maka mereka akan mendukung 100% pernyataan tersebut sekalipun itu salah. Namun jika berada di golongan yang berseberangan maka akan habis-habisan untuk menolak atau bahkan mencaci, sekalipun hal itu benar adanya. Padahal kebenaran itu bisa datang dari arah mana saja, bahkan bisa jadi dari sisi yang sama sekali tidak kita duga ataupun yang kita benci.
Ketiga, melepas semua atribut. Ketika kita membaca sebuah berita misalnya, kita harus dengan sadar melepas semua atribut kepentingan pragmatis yang melekat pada kita. Jadilah pembaca yang cerdas dan cermat. Jika kita masih berat untuk melepaskan berbagai atribut kepentingan, maka bisa dipastikan, keberpihakan kita akan kuat sekali. Inilah yang akan membuat pikiran kita menjadi picik.
Demikianlah hal-hal yang perlu kita lakukan saat membaca, terutama memaknai kata. Dan kemampuan seperti ini memang harus terus dilatih dan diasah, sehingga kita bisa menjadi pembaca yang bijaksana. Dengan menjadi pembaca bijaksana maka akan banyak sekali manfaatnya bagi kita. Tidak saja pengetahuan dan wawasan kita terus bertambah, namun daya analisis kita juga akan terus meningkat. Salam literasi. (*Penulis; Sri Utami Ari Asih, SPd, Guru di SMA UII Banguntapan)
