Bernas.id – Segala aktivitas kita sehari-hari dikendalikan dan dipengaruhi oleh kondisi otak. Otak yang bertugas mengatur signal-signal ke seluruh tubuh, sehingga kita bisa bergerak, berpikir dan mengambil keputusan. Walaupun penelitian neurosains membuktikan bahwa fisiologis otak bisa berubah bila kita belajar dan menerapkan strategi yang tepat, namun masih banyak orang yang tidak percaya bahwa otak mereka bisa lebih baik dan mereka akan bisa memiliki intelegensi yang lebih baik.
Pada kesempatan ini, kita tidak akan membahas tentang fisiologis otak, tetapi lebih kepada apa yang kita percayai atas kondisi otak kita. Terutama yang berkaitan dengan apakah otak kita bisa berubah atau kita percaya otak kita stagnan.
Menurut Dr Carol Dweck, seorang ahli neurosains dan profesor di bidang psikologi di Standford University, yang menulis buku ?Mindset: The New Psychology of Success?, manusia terbagi menjadi dua kelompok besar bila ditanya tentang apa yang mereka percaya tentang kondisi otak mereka. Kelompok yang pertama percaya bahwa kondisi otak mereka merupakan turunan keluarga, stagnan tidak akan berubah. Kelompok ini memiliki persepsi bahwa kondisi dan lingkungan yang mereka hadapi adalah penyebab mereka tidak berdaya untuk bisa sukses. Mereka percaya garis nasib tidak akan jauh dari yang sudah dilakoni orang tua mereka. Sehingga yang miskin percaya mereka akan tetap miskin dan yang kaya akan tetap kaya. Mereka juga percaya bahwa anak turunan mereka akan mengalami nasib yang sama. Tak heran bila kelompok pertama ini akan cepat menyerah bila menemui halangan.
Di lain sisi, kelompok yang kedua percaya bahwa mereka memiliki otak yang bisa belajar dan berkembang, sehingga mereka akan berusaha untuk mengubah dan membawa keadaan ke arah yang lebih baik. Mereka memiliki persepsi bahwa diri mereka sendiri yang bertanggung jawab atas kesuksesan dan kegagalan mereka. Mereka tidak percaya begitu saja bahwa kondisi dan lingkungan yang mereka hadapi sekarang akan menentukan nasib mereka. Jika mereka mengalami kegagalan, mereka tidak akan mudah menyerah dan melihat kegagalan sebagai peluang untuk lebih berkembang. Mereka percaya bahwa garis nasib mereka bisa lebih baik dan bahkan keluar dari garis nasib yang dialami orang tua mereka.
Dr. Carol Dweck lalu mengikuti perkembangan dari kedua kelompok tersebut selama dua puluh tahun. Ia menguraikan secara detail dalam bukunya bahwa kelompok kedua, orang yang percaya otaknya bisa berubah, ternyata berhasil meraih kesuksesan dibanding dengan kelompok yang pertama puluhan tahun kemudian. Sementara kelompok yang pertama tidak mengalami perubahan berarti baik dari segi ekonomi maupun kualitas hidup. Sehingga, Dr. Dweck berkesimpulan bahwa bila kita memiliki persepsi dan percaya otak kita bisa berubah, maka kita lebih punya peluang untuk sukses dan mendapat penghasilan lebih baik.
Bagaimana caranya kita mengetahui kita ada di kelompok mana? Coba kita lihat ke diri kita sendiri selama lima tahun terakhir ini. Bila kita cenderung untuk melakukan pekerjaan yang sama, dengan hasil yang sama, tidak belajar hal baru serta tidak mendatangkan perubahan dari segi ekonomi maupun kualitas hidup, berarti kita berada di kelompok yang pertama. Namun, bila kita percaya otak kita bisa berubah, maka kita akan cenderung belajar hal-hal baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Yang pada akhirnya, kita akan mendapat keahlian baru yang bisa membawa kita ke perubahan ekonomi dan kualitas hidup yang lebih baik.
