Bernas.id – Era milenium menghasilkan generasi yang bergerak serirama dengan teknologi informatika. Mereka tumbuh sebagai generasi yang selalu terhubung dengan media sosial. Generasi yang tidak bisa jauh dari gadget, bisa menjadi kepekaan sosialisasi dengan lingkungan sekitar menjadi lebih sensitif. Hal ini terlihat dari media sosial yang mereka punya. Cepat sekali untuk memberi komentar atau menanggapi sebuah pernyataan. Jadi, apakah ini yang disebut ?berpikir kritis??
Sedikit yang tidak paham tentang berpikir kritis. Kebanyakan dari anak zaman now, jika mendengar kata kritis, mind set yang terbentuk lebih kepada hal yang negatif, mencela atau lebih kepada pemojokan tanpa memberi solusi. Bahkan ada bilang mengkritisi suatu pemikiran atau kebijakan itu sama saja mencari kejelekan serta kesalahan orang lain. Jadi ada pola pikir, bahwa orang kritis selalu tidak setuju dengan pemikiran sebelumnya, dan tidak setuju dengan kebijakan yang ada. Apa memang begitu?
Lalu, apa sebenarnya apa yang dimaksud dengan berpikir kritis? Yaitu sebuah proses untuk menganalisa, mengevaluasi dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau komunikasi. Yang pada akhirnya berujung pada pengambilan keputusan. Yang harus dipahami bahwa kemampuan berpikir kritis perlu dilatih dalam lingkungan sekolah tingkat dasar hingga lanjut. Karena mampu berpikir kritis membuat seseorang akan mudah dalam pemecahan masalah atau pencarian solusi. Oleh sebab itulah berpikir kritis seharusnya mampu memberikan solusi dari sebuah permasalahan atau sekedar pernyataan.
Anak-anak zaman now sebaiknya sudah diajak untuk berpikir kritis. Sebagai sebuah kemampuan membaca dengan sebuah pemahaman. Hal itu bisa dilakukan dengan cara seperti mencari pernyataan yang jelas dari sebuah pertanyaan. Belajar mencari alasan yang solutif, belajar mengetahui informasi dengan baik, belajar jujur memakai sumber yang mempunyai kredibilitas serta mampu memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan. Belajar untuk tetap relevan dengan ide utama. Mengetahui kepentingan yang asli dan mendasar. Memiliki kemampuan mencari alternatif . Menciptakan dan membiasakan bersikap dan berpikir terbuka. Mampu mengambil keputusan cepat atau posisi saat ada data atau bukti yang cukup melakukan sesuatu. Mampu mencari penjelasan sebanyak mungkin serta bersikap sistematis dengan bagian-bagian dari sebuah masalah.
Realita yang terjadi saat ini terlanjur salah kaprah. Setiap ada hal yang tidak relevan atau tidak sejalan bahkan tidak seprinsip, kebanyakan orang akan mencecar tanpa solusi, kecenderungan ini adalah berpikir negatif. Padahal berpikir kritis berbeda dengan negatif thinking atau berpikir negatif.
Alangkah damainya, jika generasi zaman now sudah terlatih dengan berpikir kritis. Sehingga 10 atau 15 tahun lagi, Indonesia akan punya warna yang berbeda. Mari kita biasakan anak-anak zaman now berlatih berpikir kritis. Karena dengan berpikir kritis, ketika anak-anak mempelajari bidang ilmu apapapun, pekerjaan apapun mereka memiliki kemampuan melihat masalah, memecahkan masalah dan menyadari diri. Harus disadari bahwa berpikir kritis adalah keterampilan universal yang memantaskan diri untuk berpikir jernih dan rasional. Ingat lo, berpikir kritis merupakan aset berharga bagi anak-anak zaman now.
Hidup di era informasi dan teknologi, kita harus peka dengan perubahan yang terjadi begitu cepat. Mau tidak mau sangat dibutuhkan keterampilan intelektual yang fleksibel, mampu menganalisis informasi serta mampu mengintegrasikan berbagai sumber pengetahuan untuk sebuah solusi.
