Bernas.id – Dalam rangka perayaan malam puncak Dies Natalis ke-54 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta akan pentaskan drama musical berjudul ?Angsoka? pada hari Rabu, 8 November 2017 mendatang, di Auditorium Driyarkara, Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta.
Lakon utama teater ?Angsoka? diadaptasi dari naskah prosa ?Anak Bajang Menggiring Angin? karya Shindunata. Naskah ini disutradarai oleh mahasiswa PBSI, Judha Jiwangga (Jeje). Secara konsep menganggkat mitologi Ramayana dalam perspektif kekinian dengan dikolaborasikan iringan orkestra dan musik etnik, di dalamnya terdapat unsur seni drama dan tari. Seperti konsep drama musikal setiap aktor akan menembangkan 14 lagu tembang yang dibuat oleh sutradara, kawan-kawan dari Institut Seni Indonesia, dan siswa SMA De Britto yang ikut membantu mengaransemen dan mengolaborasikannya pada tiap adegan di drama musikal ?Angsoka?.
Pementasan lakon ?Angsoka? ternyata merupakan realisasi keinginan dari sutradara Jeje bersama beberapa rekannya yang memiliki keinginan yang sama untuk mengadakan perayaan malam puncak Dies Natalis PBSI ke-54. Pementasan melibatkan mahasiswa seluruh angkatan, mulai proses casting, persiapan, dan latihan yang memakan waktu persiapan bersih selama tiga bulan. “Pemilihan lokasi Auditorium Driyarkara, Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta merupakan keberanian mahasiswa PBSI untuk mementaskan drama musikal klasik yang besar,” ujar Jeje.
Sebelum memilih naskah drama musical ?Angsoka? Jeje memiliki pilihan judul lain seperti naskah klasik Sopochles berjudul Oedipus Rex, tapi dikarenakan keterbatasan waktu proses yang sedikit dan keterbatasan aktor akhirnya sutradara membuat naskah sendiri yang diadaptasi dari novel ?Anak Bajang Menggiring Angin? karya Shindunata yang mengangkat kisah pengasingan Rama dan Shinta, kemudian kisah di mana Shinta diculik oleh Rahwana sampai kisah pembakaran api suci Shinta sebagai penutupnya.
Setelah melakukan proses pembuatan naskah ?Angsoka?, Jeje menekankan bahwa naskah drama musikal ini merupakan kolaborasi drama musical yang bukan hanya sekedar tarian namun akan lebih pada pendekatan teaterikal dimana kemasan dari pertunjukannya merupakan pertunjukan kreasi walupun pendekatannya melalu tradisi. Pementasan ?Angsoka? merupakan suatu bentuk kegelisahan dari sutradara kepada anak muda di jaman ini yang kurang memahami mitologi di Nusantara. “Konten yang mau di soroti dari peristiwa Rama, Shinta, dan Rahwana ini ialah bahwa hidup itu dinamis, hidup itu ada hitam dan putih, dan pada hidup itu hitam tidak selalu hitam, dan putih tidak selalu putih,” kata Jeje.
Hal lain disampaikan Lukas, pemeran Rama dalam lakon ?Angsoka?. Menurutnya, kisah klasik dari Ramayana merupakan tantangan tersendiri di era modernitas seni pertunjukan di Yogyakarta sebab menggunakan unsur kesenian tradisional yang di kreasikan ini seharusnya lebih di apresiasi oleh para mahasiswa Sanata Dharma sebagai tuan rumah. ?Kalau soal keberanian saya akan tetap berani untuk memerankan tokoh Rama, walaupun awalnya saya kaget yang biasanya Rama itu tidak pernah marah tapi pada Angsoka tokoh Rama bisa marah besar dengan meledak-ledak kepada tokoh Jatayu yang dituduh sebagai penculik Shinta, ini merupakan hal yang sangat menarik untuk saya pribadi,? ujar Lukas.
Selain itu, Lukas berharap agar pementasan ini dapat membuat siapa saja yang menyaksikan Angsoka merasa terhibur dan dapat mengambil makna pada setiap adegannya.
Untuk mendukung pertunjukan tersebut, pihak penyelenggaranya membuat sendiri kostum dan senjata sesuai dengan yang ada dalam kebutuhan pementasan Angsoka. “Untuk kostum kami lihat langsung dari hasil riset dari sutradara dan kami segera buatkan. Hingga, persiapan tata panggung pada latar pementasan sampai senjata yang digunakan para tokohnya dibuat dari hasil kerja kolektif para mahasiwa PBSI,” ujar tim produksi.(Penulis: R. Benny Pradipta, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma)
