Bernas.id ? Siapa sangka, lidi-lidi muda bekas janur ketupat sekarang bisa bermanfaat. Dulu orang hanya memanfaatkan lidi-lidi yang tua dan kaku untuk dibuat seikat sapu lidi. Sedangkan, lidi-lidi muda bisa diikat kecil-kecil dan berfungsi sebagai sapu kasur (bahasa Jawa: tebah). Sekarang, lidi-lidi muda bisa dirangkai menjadi piring-piring lidi. Unik dan bikin sensasi.
Pada awal kemunculan, piring lidi kita temukan di rumah makan siap saji, seperti ayam goreng penyetan. Kemudian, dalam waktu singkat menjamur di banyak restoran, angkringan tepi jalan, bahkan saat ini telah tersedia di persewaan perlengkapan hajatan sebagai pengganti piring keramik. Luar biasa.
Sejumlah 12-16 batang lidi muda bisa dirangkai menjadi piring unik seukuran piring pada umumnya. Ringan dan tidak merepotkan. Bisa meminimalisir pencucian karena penggunaannya untuk makan sehari-hari, dan perlu diberi alas daun pisang atau alas kertas daun. Sedangkan untuk tempat buah bisa langsung ditata sedemikian rupa.
Rangkaian lidi-lidi muda ini bisa pula dibentuk seperti gelas, mangkuk, tempat khusus buah, piring lonjong, keranjang bunga, tatakan gelas, tempat sendok, dan mungkin masih ada inovasi baru yang belum kita ketahui bentuknya.
Bahan baku piring lidi sangatlah mudah. Kita bisa dapatkan di tukang bikin ketupat. Dulu masih gratis untuk beberapa ikat ?sampah? lidi. Namun sekarang sudah berharga sekitar Rp2.500,00 – Rp3.500,00 tiap ikatnya, karena bukan lagi sebagai sampah. Tiap ikat lidi bisa dibuat sekitar tiga hingga empat unit piring lidi. Pembuatan satu unit piring lidi menghabiskan waktu kurang lebih satu jam, atau sekitar tiga sampai empat jam bagi pemula. Hasilnya dijual sekitar Rp3.000,00 – Rp6.000,00 per unit piring lidi (harga grosir).
Analisa usaha secara sederhana dihitung sebagai berikut:
Pembelian bahan baku satu ikat lidi muda = Rp3.500,00
Piring lidi yang dihasilkan = 3 unit
Hasil Penjualan = 3 unit x Rp3.500,00 = Rp10.500,00
Selisih usaha = Rp10.500,00 ? Rp3.500,00 = Rp7.000,00 (dalam waktu tiga jam)
Jika dijadikan sebagai usaha pokok, maka usaha pembuatan piring lidi dinilai tidak akan pernah mampu mengangkat kesejahteraan ekonomi rakyat. Karena dalam periode tujuh jam kerja hanya memperoleh upah hasil sejumlah Rp14.000,00 saja. Sedangkan UMR per hari saja sudah mencapai 50.000 rupiah.
Faktor penghasilan yang sangat sedikit ini dianggap sebagai faktor kendala. Padahal, menilik pada potensi kreativitasnya, produk piring lidi ini merupakan hasil karya pekerjaan tangan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ahli di bidangnya. Sudah semestinya kita mengubah mindset masyarakat, bahwa hasil karya kreativitas manual semestinya mendapatkan penghargaan yang lebih tinggi. Ya, harusnya lebih tinggi daripada nyanyian dan goyangan pinggul artis. Kedudukannya sudah seperti pelukis, yang mencoretkan cat lukis pada kanvas melalui sapuan batangan kuasnya. Hasil goresan catnya bernilai jutaan rupiah, walaupun dibuat secara sederhana dan bermodal seadanya.
Keputusan penentuan harga piring lidi memang tergantung kepada para produsennya, serta tarik ulur antara supply and demand. Namun, keunikan khas piring lidi tidak bisa terbantahkan. Bahwa piring lidi merupakan hasil karya anak bangsa Indonesia yang patut mendapatkan hak paten internasional, sebelum dipatenkan oleh negara lain. Potensi pasarnya pun bisa merambah ke luar negeri. Hitung-hitung bisa menambah jumlah nilai ekspor negara kita. Indonesia memiliki banyak potensi kreativitas alamiah. Sudah sewajarnya kita dukung. Mari kita wujudkan!
Salam dari desa!
